SATUMEDIA.ID – Siswa yang menjadi korban keracunan makanan program Makan Gizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengaku trauma. Mereka akan menolak jika harus kembali mengonsumsi makanan yang diolah di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Seperti yang disampaikan Muhammad Agung siswa SMK Karya Perjuangan, Kecamatan Cipongkor. Sejak kejadian keracunan, Ia mengaku tak akan lagi mengonsumsi MBG.
“Masih trauma, takut kejadian (keracunan) lagi,” kata Agung yang tengah dirawat di RSUD Cililin, Kamis (25/9/2025).
Akibat keracunan, Agung harus menjalani perawatan selama tiga hari di RSUD Cililin. Ia ditemani ibunya, Nengsih (54).
Agung mengalami keracunan usai menyantap hidangan MBG pada Senin (22/9/2025). Ketika mengalami keracunan sempat kejang-kejang sebelum akhirnya pingsan.
“Menu makanan terakhir MBG, ayam geprek sama sambal, buahnya stroberi, juga ada lalapan. Ayamnya sih enak, tapi sambalnya pahit. Buah stroberinya juga ada ulatnya,” keluh Agung.
Teman sekelas Agung, Muhammad Aldo juga tidak mau lagi makanan dari MBG. Khawatir kejadian serupa terulang lagi.
Tidak layaknya, menu makanan MBG yang diterima siswa SMK Karya Perjuangan Cipongkor sudah terjadi minggu lalu. Dimana menu makanan nasi goreng sudah berbau sehingga tidak dimakan siswa.
“Minggu lalu ada menu makanan nasi goreng. Tapi saya dan teman-teman tidak berani makan, soalnya bau seperti sudah basi,” ucap Aldo.
Trauma juga dirasakan Siti Nurjamilah (13) siswa kelas 8, SMP 45 Sirnagalih, Kecamatan Cipongkor. Ia lebih memilih membawa makanan dari rumah ketimbang makan lagi MBG.
“Sudah hampir sebulan MBG di SMP 45, selama ini sih baik-baik saja. Tapi menu terakhir, ayam kecap dan buah melon terasa ada yang berbeda,” ungkap Siti.
MBG yang terakhir di makan pada Senin (22/9/2025). Namun, Siti baru merasakan keluhan keracunan pada Rabu malam.
“Terasa sesak nafas sampai mual-mual,” ucapnya.*


