SATUMEDIA.ID – Di balik tubuhnya yang kecil, Muhamad Yasyir, siswa kelas 9C SMPN 3 Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), membuktikan bahwa semangat dan kreativitas bisa membawa siapa saja melampaui batas. Dalam ajang Visual Art Festival (VAFEST) 3.0 yang digelar Fakultas Seni Rupa dan Desain ISBI Bandung, ia berhasil meraih Juara 3 kategori seni lukis.
VAFEST 3.0 tahun ini mengangkat tema “Intersections of Aesthetics, Enterprise, and Imagination”, sebuah ruang bagi pelajar dan mahasiswa untuk mengekspresikan gagasan melalui karya visual. Yasyir tampil bersama dua rekannya, Risyda dan Kania, mewakili SMPN 3 Cililin dengan mengangkat cerita rakyat Jawa Barat sebagai sumber inspirasi.
Dengan bimbingan para guru, Yasyir memilih legenda Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Parahu sebagai tema utama. Imajinasinya tentang kisah klasik itu ia wujudkan dalam sebuah lukisan penuh detail dan warna yang kuat, hingga memikat perhatian dewan juri.
Sementara itu, Risyda menginterpretasikan kisah Lutung Kasarung, dan Kania menghidupkan legenda Ciung Wanara dalam karya masing-masing.
Namun, perjalanan menuju panggung kompetisi tidaklah mudah. Dari desa Karyamukti, jarak jauh dan kondisi jalan yang bergelombang harus mereka tempuh untuk tiba di kampus ISBI Bandung. “Perjalanan yang bergelombang itu menjadi simbol perjuangan kami,” ujar Kepala SMPN 3 Cililin, Mimin Rukmini.
Momen pengumuman pemenang yang digelar di Pendopo Munding Laya menjadi detik penuh ketegangan. Ketika nama Muhamad Yasyir diumumkan sebagai Juara 3, sorak haru pun pecah. “Ini bukti bahwa siswa SMPN 3 Cililin memiliki potensi besar,” kata Mimin.
Ia menegaskan, kemenangan ini bukan sekadar soal membawa pulang piala. Lebih dari itu, Yasyir telah menunjukkan bahwa keterbatasan sarana dan prasarana tidak pernah menjadi penghalang bagi kreativitas. “Jangan terhalang oleh image sekolah desa yang jauh dari kota. Dengan kerja keras dan imajinasi, potensi itu akan terlihat,” ujarnya.
Menurut Mimin, karya Yasyir adalah wujud cinta budaya sekaligus pembuktian bahwa mimpi bisa diraih siapa saja. Kisahnya menjadi inspirasi bagi siswa lain agar lebih berani berkarya dan berkompetisi.
“Semoga ajang seperti ini terus digelar. Seni yang dibalut dengan cerita rakyat dapat mengasah asa, rasa, dan karsa—menguatkan karakter tangguh, pantang menyerah, serta cinta budaya,” pungkasnya.*