Ribuan Rumah Terendam, Banjir Rob Sapu Pesisir Subang dan Indramayu

Sedikitnya 2.568 KK atau 8.033 jiwa terdampak, sementara 1.512 rumah tergenang banjir rob di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.(Dok BPBD Indramayu).**

SATUMEDIA.ID – Gelombang banjir dan banjir rob kembali melanda sejumlah wilayah pesisir utara Jawa Barat. Dalam laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB yang dihimpun sejak Kamis (4/12/2025) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (5/12/2025) pukul 07.00 WIB, ribuan warga di Kabupaten Subang dan Indramayu terdampak genangan air laut pasang yang dipicu hujan berintensitas tinggi dan cuaca ekstrem.

Banjir rob pertama tercatat terjadi di Kabupaten Subang pada Kamis (4/12/2025) sekitar pukul 07.00 WIB. Air laut pasang meluap ke permukiman warga setelah hujan lebat menyebabkan kenaikan muka air laut.

Genangan dilaporkan merendam sejumlah wilayah pesisir, seperti Kecamatan Legon Kulon (Desa Mayangan dan Desa Legon), Kecamatan Pusakanagara (Desa Patimban), serta Kecamatan Blanakan (Desa Muara).

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut sebanyak 861 KK atau 2.648 jiwa terdampak, dengan 861 rumah terendam. BPBD Subang telah melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan perangkat daerah untuk mempercepat penanganan.

Tak berselang lama, banjir rob kembali melanda wilayah pesisir utara–kali ini di Indramayu. Kejadian terjadi Kamis (4/12) sekitar pukul 04.36 WIB ketika air pasang meluber melalui Sungai Perawan dan Sungai Nippon, menggenangi Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur.

Hingga pukul 08.35 WIB, ketinggian air mencapai 50–60 cm, memasuki rumah warga dan menghambat aktivitas masyarakat.

Sedikitnya 2.568 KK atau 8.033 jiwa terdampak, sementara 1.512 rumah tergenang. Warga mengevakuasi barang berharga sambil menunggu air surut. BPBD Indramayu melakukan pendataan dan koordinasi lintas sektor. Saat ini, air dilaporkan mulai surut, dan warga membersihkan area permukiman.

Peristiwa ini terjadi di tengah Status Siaga Darurat Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, Gelombang Ekstrem, Abrasi, dan Tanah Longsor yang ditetapkan Gubernur Jawa Barat hingga 30 April 2026.

Di beberapa titik, air masih bertahan setinggi 20–50 cm, membuat akses jalan terputus serta menyulitkan distribusi bantuan. Kebutuhan mendesak mencakup logistik dan bantuan dasar untuk warga yang ruang geraknya terbatas.

Selain Jawa Barat, banjir juga melanda Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, pada Rabu (3/12). Hujan deras sejak siang hingga malam menyebabkan sungai meluap dan membanjiri delapan pekon di empat kecamatan: Ngaras, Ngambur, Bangkunat, dan Pesisir Selatan.

Total 114 KK terdampak, dengan kerusakan meliputi 114 rumah terendam, satu jembatan rusak, 6,5 hektare sawah tergenang, serta satu jalan desa putus. Meski tidak ada korban jiwa, aktivitas warga terganggu.

BPBD setempat melakukan kaji cepat dan berkoordinasi untuk pemenuhan kebutuhan mendesak seperti pompa air, logistik, dan bantuan pangan.

Di Jawa Timur, cuaca ekstrem melanda Kabupaten Lumajang pada Rabu (3/12). Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan pohon tumbang di beberapa lokasi.

Satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat tertimpa pohon, sementara 37 KK dan 37 unit rumah rusak ringan di wilayah Kecamatan Gucialit dan Kecamatan Padang.

Upaya penanganan tengah difokuskan pada evakuasi warga, perbaikan bangunan, serta pembersihan pohon tumbang yang masih menghambat akses.

BNPB mengingatkan masyarakat di wilayah rawan banjir, rob, dan cuaca ekstrem untuk tetap waspada terhadap perubahan kondisi cuaca. Warga diminta memastikan tinggal di lokasi aman, menghindari area berisiko, dan memastikan saluran drainase tidak tersumbat.

Apabila terjadi keadaan darurat, BNPB meminta warga segera menghubungi BPBD atau aparat setempat agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.*

 

 

Pos terkait