SATUMEDIA.ID – PT Pertamina (Persero) mencatat peningkatan konsumsi energi selama masa Satuan Tugas (Satgas) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) yang berlangsung sejak 13 November hingga 31 Desember 2025. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan aktivitas masyarakat selama libur akhir tahun.
Pada periode Nataru 2025/2026, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) ritel tercatat lebih tinggi dibandingkan rerata konsumsi September–Oktober 2025. Konsumsi gasoline atau bensin naik lebih dari 0,7 persen, gasoil (solar) meningkat sekitar 0,6 persen, sementara kerosene atau minyak tanah melonjak signifikan hingga lebih dari 9,7 persen.*
Lonjakan konsumsi minyak tanah terutama terjadi di wilayah yang belum menjalani program konversi ke LPG, seperti sebagian Kalimantan Timur, Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), serta wilayah kepulauan terpencil. Peningkatan ini dipicu oleh bertambahnya aktivitas masyarakat dalam merayakan Natal.
Tak hanya BBM, konsumsi LPG juga mengalami kenaikan sebesar 3,2 persen. Angka ini mencerminkan meningkatnya aktivitas rumah tangga serta sektor usaha kecil selama masa libur panjang.
Di sektor aviasi, konsumsi avtur tercatat meningkat 3,9 persen. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya jumlah penumpang transportasi udara, didorong pula oleh kebijakan diskon harga avtur sebesar 10 persen selama periode Nataru.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan bahwa Pertamina telah mengantisipasi lonjakan konsumsi energi dengan memperkuat pasokan dan pengawasan distribusi di seluruh wilayah Indonesia.
“Selama periode Satgas Nataru 2025/2026, Pertamina memastikan ketersediaan energi nasional dalam kondisi aman. Seluruh infrastruktur energi dan personel operasional kami siagakan untuk menjamin pasokan BBM, LPG, dan avtur dapat memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Baron dalam keterangannya dikutip, Jumat (2/1/2026).
Ia menambahkan, menjelang penutupan tahun 2025 hingga awal 2026, Pertamina terus memastikan distribusi energi berjalan lancar dan aman. Aktivitas masyarakat diperkirakan masih tinggi seiring masa libur sekolah dan penerapan kebijakan kerja fleksibel atau work from anywhere (WFA).
Untuk itu, Pertamina memastikan ketahanan stok BBM dan LPG berada pada level aman, dengan daya tahan pasokan berkisar antara lebih dari 12 hingga 34 hari, menyesuaikan karakteristik wilayah dan jenis produk.
Baron juga menegaskan bahwa Satgas Nataru Pertamina memberikan perhatian khusus pada wilayah terdampak bencana di sejumlah daerah di Sumatra.
“Di wilayah terdampak bencana, Pertamina tetap berupaya menjaga distribusi BBM dan LPG agar terus mengalir secara bertahap. Langkah ini penting untuk mendukung pemulihan aktivitas masyarakat dan memastikan layanan energi tetap tersedia,” kata dia.
Sebagai informasi, Satgas Nataru Pertamina telah berlangsung sejak 13 November 2025 dan akan berakhir pada 11 Januari 2026. Satgas ini menjadi bagian dari komitmen Pertamina dalam menjaga keandalan pasokan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru.*





