Pakar IPB Jelaskan Dentuman dan Cahaya Merah di Langit Cipanas Cianjur

Suara dentuman keras yang disertai kilatan cahaya merah di langit kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin (5/1/2026) malam lalu.(Dok akun @kamalaalfitriadistira).**

SATUMEDIA.ID – Suara dentuman keras yang disertai kilatan cahaya merah di langit kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin (5/1/2026) malam lalu, membuat warga bertanya-tanya. Fenomena tersebut terjadi sekitar pukul 22.15 WIB dan dilaporkan oleh sejumlah warga di beberapa titik permukiman.

Berdasarkan hasil analisis awal, peristiwa tersebut dipastikan tidak berkaitan dengan cuaca ekstrem, aktivitas seismik, maupun vulkanik di wilayah Gunung Gede–Pangrango.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, mengatakan bahwa data cuaca saat kejadian menunjukkan kondisi atmosfer yang relatif normal.

“Kondisi atmosfer terpantau stabil dan tidak ada indikasi thunderstorm atau badai petir pada waktu kejadian,” ujar Sonni dalam penjelasannya yang dikutip dari laman IPB University, Senin (12/1/2026).

Selain data meteorologi, pemantauan seismograf juga tidak menemukan adanya aktivitas gempa atau peningkatan kegempaan vulkanik. Gunung Gede maupun sistem sesar di kawasan Gunung Gede–Pangrango tercatat dalam kondisi normal.

“Data seismik tidak menunjukkan adanya aktivitas yang dapat dikaitkan dengan dentuman dan kilatan cahaya tersebut,” kata Sonni.

Dengan demikian, lanjut dia, fenomena tersebut dapat dipastikan tidak berhubungan dengan aktivitas vulkanik, seismik, maupun cuaca ekstrem. Meski begitu, masih terdapat kemungkinan penjelasan lain secara ilmiah.

“Salah satu fenomena alam yang paling mungkin adalah bolide atau bola api,” ujarnya.

Bolide merupakan peristiwa masuknya meteoroid berukuran relatif besar ke atmosfer Bumi dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan kuat dengan atmosfer menyebabkan meteoroid terbakar dan menghasilkan kilatan cahaya terang yang dapat terlihat jelas dari permukaan Bumi.

“Jika ukurannya cukup besar, meteoroid bisa meledak di atmosfer dan menghasilkan gelombang kejut sonik. Gelombang inilah yang dapat terdengar sebagai dentuman keras oleh warga,” jelas Sonni.

Ia menambahkan, kilatan cahaya yang terlihat di langit juga dapat terjadi akibat proses ablasi dan ionisasi atmosfer yang memicu pelepasan energi elektromagnetik. Penjelasan ini sejalan dengan kajian yang pernah disampaikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Fenomena serupa sebelumnya juga pernah terjadi di wilayah Cirebon beberapa bulan lalu. Saat itu, sebuah meteor dilaporkan jatuh dan sempat merusak sebagian atap rumah warga.

Meski dugaan bolide dinilai paling masuk akal, Sonni menegaskan bahwa kepastian penyebab kejadian di Cipanas masih memerlukan klarifikasi lanjutan.

“Untuk memastikan penyebab pastinya, diperlukan pengamatan lapangan secara langsung, termasuk kemungkinan ditemukannya jejak atau material meteorit di lokasi kejadian,” pungkasnya.*