Gapura Ikon Kota Cimahi Disorot, Aksara Sunda Baku Dinilai Keliru

Gapura ikon Kota Cimahi yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2024 menuai sorotan dari kalangan pegiat budaya.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Gapura ikon Kota Cimahi yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2024 menuai sorotan dari kalangan pegiat budaya. Sorotan tersebut terkait penggunaan aksara Sunda Baku pada relief gapura yang dinilai tidak sesuai kaidah.

Gapura yang berada di kawasan strategis dan dirancang sebagai simbol sejarah serta identitas Kota Cimahi itu diharapkan menjadi tonggak kemajuan kota pada masa kepemimpinan Wali Kota Cimahi Ngatiyana. Namun, kesalahan penulisan aksara Sunda dinilai mencederai nilai budaya yang ingin diangkat.

Maestro Aksara Sunda, Yudistira Purana Sakyakirti, mengapresiasi konsep pembangunan gapura sebagai simbol kota. Ia berharap kepemimpinan saat ini mampu membawa kemajuan Cimahi di berbagai sektor.

“Saya sebagai masyarakat Cimahi tentu berharap era kepemimpinan sekarang bisa membawa kemajuan bagi kota,” kata Yudistira, yang akrab disapa Mang Ujang Laip, Rabu (14/1/2026).

Meski demikian, ia menyoroti dua persoalan utama dalam penggunaan aksara Sunda Baku pada gapura tersebut. Pertama, tidak adanya keseragaman bentuk aksara dengan penulisan aksara Sunda pada plang nama jalan yang telah lebih dulu terpasang di berbagai wilayah Cimahi.

“Perbedaan gaya penulisan ini berpotensi membingungkan masyarakat dan menunjukkan kurangnya koordinasi dengan pihak yang kompeten di bidang aksara Sunda,” ujarnya.

Kedua, Mang Ujang Laip menilai terdapat kesalahan penulisan yang bersifat fatal. Pada bagian aksara Sunda Baku yang seharusnya berbunyi “Saluyu Ngawangun Jati Mandiri” sesuai teks latin, justru tertulis “Saluyu Gawagun Jati Mandiri”.

Menurutnya, kesalahan tersebut tidak sekadar teknis, melainkan berdampak pada citra kota, mengingat gapura tersebut berada di area gerbang kantor pemerintahan.

“Di Cimahi sendiri sudah banyak masyarakat yang mampu membaca dan menulis aksara Sunda Baku,” katanya.

Ia mencontohkan antusiasme peserta dalam Lomba Menulis Surat Aksara Sunda bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kota Cimahi Tahun 2025 yang digelar Dinas Pendidikan pada 21 November lalu, serta keberadaan komunitas dan pegiat aksara Sunda yang telah dikenal hingga luar daerah.

Mang Ujang Laip menduga kesalahan tersebut terjadi karena minimnya pemahaman perancang terhadap kaidah aksara Sunda Baku atau ketergantungan pada aplikasi digital.

“Banyak yang mengira cukup mengetik teks latin lalu mengganti font menjadi aksara Sunda, padahal aksara Sunda memiliki aturan penulisan tersendiri,” jelasnya.

Ia menyayangkan kesalahan tersebut terjadi pada proyek yang menelan anggaran tidak sedikit. Menurutnya, Pemerintah Kota Cimahi seharusnya dapat melibatkan sumber daya lokal yang kompeten agar nilai budaya yang ditampilkan tetap otentik dan benar.

“Pemkot Cimahi memiliki banyak sumber daya manusia yang paham keaksaraan daerah dan bisa dilibatkan sejak awal,” pungkasnya.*

Pos terkait