HKTI Gandeng Pemuda Tani, Siapkan Laboratorium Pertanian untuk Petani Milenial di Kabupaten Bandung

HKTI dan Pemuda Tani laksanakan penanaman padi dan sekolah tani di Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung, belum lama ini.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Bandung bersinergi dengan Pemuda Tani Indonesia Kabupaten Bandung untuk menarik minat generasi muda terjun ke sektor pertanian. Kolaborasi ini diwujudkan melalui pelatihan pertanian yang menyasar petani milenial.

Ketua HKTI Kabupaten Bandung Toni Permana mengatakan, kerja sama tersebut bertujuan mengubah pandangan kaum muda yang selama ini menganggap bertani tidak menjanjikan secara ekonomi.

“Ke depan, kami sudah sepakat dengan Pemuda Tani untuk membangun laboratorium atau tempat pelatihan pertanian. Ini diperuntukkan bagi para pemuda yang benar-benar ingin serius menjadi petani,” kata Toni saat dihubungi di Baleendah, Selasa (13/1/2026).

Menurut Toni, persepsi negatif terhadap sektor pertanian masih menjadi tantangan utama. Banyak pemuda menilai bertani tidak menguntungkan dan kurang prospektif.

“Itu pemahaman umum yang ingin kami ubah. Para pemuda perlu dibekali penguasaan teori dan teknis pertanian. Dengan begitu, ketika praktik di lapangan, mereka bisa membuktikan sendiri bahwa bertani secara ekonomi itu menguntungkan,” ujarnya.

Toni menegaskan, pertanian sejatinya merupakan salah satu sumber ekonomi yang potensial jika dikelola dengan pengetahuan dan teknologi yang tepat. Oleh karena itu, pelatihan akan difokuskan pada praktik langsung agar hasilnya dapat diukur secara nyata.

“Perubahan mindset tidak cukup dengan teori. Harus dibuktikan melalui praktik langsung bertani, lalu diuji sejauh mana keuntungan ekonominya,” kata dia.

Pada tahap awal, HKTI akan melibatkan sejumlah kelompok pemuda untuk mengikuti pelatihan intensif. Model ini sebelumnya telah diterapkan di beberapa daerah dan dinilai cukup berhasil.

Di Kabupaten Bandung sendiri, minat generasi muda terhadap pertanian mulai tumbuh. Toni menyebutkan, di setiap kecamatan telah terbentuk struktur kelompok tani, dengan persentase pemuda yang tertarik bertani berkisar antara 5 hingga 10 persen.

“Kami juga menargetkan anak-anak petani menjadi anggota HKTI. Bahkan, kami dorong mereka untuk sekolah atau kuliah di Fakultas Pertanian agar bisa mengembangkan praktik pertanian yang lebih modern,” ucapnya.

Selain itu, HKTI Kabupaten Bandung juga berencana mendorong pendirian Sekolah Menengah Pertanian (SMPertanian) di wilayah tersebut. Ketiadaan sekolah kejuruan pertanian dinilai menjadi salah satu kendala dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pertanian.

“Tidak adanya Sekolah Menengah Pertanian di Kabupaten Bandung juga menjadi problem. Ini akan kami dorong bersama, sambil tetap melibatkan Pemuda Tani di tingkat kecamatan untuk pendampingan teknis,” tutur Toni.

Ia menambahkan, untuk meningkatkan daya tarik pertanian di kalangan anak muda, diperlukan contoh konkret dari kelompok pemuda yang berhasil mengembangkan usaha pertanian secara berkelanjutan dan menguntungkan.

“Kalau sudah ada bukti nyata, pertanian akan dipandang sebagai peluang masa depan, bukan lagi pekerjaan yang dipinggirkan,” pungkasnya.*