Diskarmatan Kota Bandung Hadapi Kendala Akses dan Air Saat Bantu Evakuasi Longsor Cisarua

Pencarian korban yang tertimbun longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, KBB (Darma/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Dinas Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung menghadapi sejumlah kendala saat terlibat dalam penanganan bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua,  Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kepala Diskarmatan Kota Bandung, Soni Bakhtiar, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar muncul pada hari pertama penanganan, terutama terkait akses menuju lokasi bencana dan ketersediaan air untuk operasional peralatan.

“Akses menuju lokasi cukup sulit untuk kendaraan pemadam. Selain itu, pompa bertekanan tinggi yang kami gunakan membutuhkan debit air yang besar,” ujar Soni dikutip dari laman Pemkot Bandung, Rabu (28/1/2026).

Keterbatasan sumber air sempat menghambat proses evakuasi. Untuk mengatasinya, petugas Diskarmatan membuat bendungan sementara agar tersedia air yang cukup untuk penyemprotan material longsoran.

“Karena membutuhkan debit air yang cukup besar kami sempat kesulitan. Akhirnya kami membuat bendungan sementara agar tersedia air yang bisa digunakan untuk penyemprotan,” katanya.

Sejak hari pertama kejadian, Sabtu (24/1/2026) pagi, Diskarmatan Kota Bandung langsung menerjunkan personel terbaiknya guna membantu proses pencarian dan evakuasi korban yang tertimbun longsor.

Setiap hari, dua regu diterjunkan secara bergiliran, terdiri dari regu rescue dan regu pemadaman, dengan total 14 personel yang bertugas di lokasi bencana.

“Sampai hari ini sudah empat hari kami berada di lokasi untuk membantu proses evakuasi korban longsor,” ujar Soni.

Dalam operasi tersebut, Diskarmatan mengandalkan pompa air bertekanan tinggi sebagai sarana utama untuk mengurai material tanah longsor. Menurut Soni, metode ini cukup efektif untuk membuka timbunan tanah yang menutup keberadaan korban.

“Dengan tekanan air yang tinggi, tanah longsoran bisa dibuka sehingga memudahkan proses evakuasi korban,” jelasnya.

Soni menegaskan bahwa penggunaan alat berat sepenuhnya menjadi kewenangan tim SAR gabungan, BNPB, dan BPBD. Sementara itu, Diskarmatan Kota Bandung fokus pada pemanfaatan sarana pemadam dan keahlian rescue yang dimiliki personelnya.

Terkait durasi penugasan, Soni memastikan pihaknya akan tetap berada di lokasi hingga ada komando resmi dari Basarnas dan BPBD mengenai penghentian pencarian korban.

Lebih lanjut, keterlibatan Diskarmatan dalam penanganan longsor ini menjadi pembelajaran penting dalam menghadapi potensi bencana di Kota Bandung, khususnya di tengah cuaca ekstrem.

“Kami sudah menyiapkan pompa air untuk penanganan banjir serta personel rescue untuk human rescue maupun animal rescue,” kata Soni.

Meski sebagian personel dikerahkan ke lokasi bencana di Cisarua, Soni memastikan pelayanan pemadam kebakaran di Kota Bandung tetap berjalan optimal.

“Memang ada pengurangan personel, tetapi sudah kami perhitungkan. Petugas yang seharusnya libur bersedia mengorbankan waktu istirahatnya agar pelayanan di Kota Bandung tidak terganggu,” tuturnya.*

Pos terkait