SATUMEDIA.ID – Sebanyak 440 siswa SMK KP 3 Majalaya mengikuti kegiatan pesantren ekologi yang digelar selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Program yang sebelumnya dikenal sebagai pesantren kilat ini menggabungkan pembinaan keagamaan dengan pendidikan kepedulian lingkungan.
Kegiatan tersebut berlangsung di lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Bebedahan, Desa Talun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Pesantren ekologi dimulai pada Senin (9/3/2026) dan akan mencapai puncaknya pada Jumat (13/3/2026).
Kepala SMK KP 3 Majalaya, Deden Fauzi Kurnia, mengatakan kegiatan ini merupakan agenda rutin sekolah setiap Ramadan yang diikuti mayoritas siswa.
“Sebanyak 440 siswa mengikuti pesantren ekologi tahun ini. Kegiatan ini rutin kami laksanakan setiap bulan suci Ramadan,” kata Deden saat dihubungi, Senin (9/3/2026).
Selama kegiatan berlangsung, para siswa mengikuti berbagai aktivitas keagamaan seperti tausiah, tadarus Al Quran, serta pembelajaran mengenai kandungan ayat-ayat Al Quran.
Selain itu, siswa juga didorong untuk menumbuhkan kepedulian sosial dengan berbagi takjil kepada masyarakat sekitar menjelang waktu berbuka puasa.
Menurut Deden, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan siswa, tetapi juga melatih kesabaran serta membangun kepedulian terhadap sesama.
“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih diri untuk lebih peduli kepada orang lain serta memperbaiki sikap lahir dan batin,” ujarnya.
Pesantren ekologi juga menjadi sarana untuk menanamkan kesadaran menjaga lingkungan kepada para siswa. Melalui pendekatan berbasis nilai-nilai keagamaan, sekolah mengajak siswa membangun budaya ramah lingkungan.
Program tersebut mencakup edukasi pengelolaan sampah berbasis konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pembuatan kompos, hingga gerakan penghijauan.
“Siswa kami dorong memahami pengelolaan sampah agar bisa diselesaikan dari sumbernya, termasuk di rumah masing-masing,” kata Deden.
Selain itu, para siswa juga diajak memanfaatkan lahan kosong di rumah untuk menanam pohon, budidaya tanaman, hingga mencoba sistem hidroponik.
Kegiatan pesantren ekologi juga mengenalkan praktik pertanian organik, peternakan, hingga pemanfaatan energi alternatif seperti biogas dalam pengelolaan lingkungan berbasis komunitas.
Deden berharap program tersebut mampu membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan karakter kuat, tetapi juga kesadaran ekologis untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Tujuannya adalah membentuk siswa yang berkarakter, berilmu, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup,” ujarnya.*