Dosen Unair Sebut Ikan Sapu-Sapu Spesies Invasif yang Sulit Dikendalikan

Kerja bakti penangkapan ikan sapu-sapu di Kali Cideng, tepatnya di depan Mal Plaza Indonesia, Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, pada Jumat (10/4/2026).(Dok.Pemkot Jakarta Pusat).**

SATUMEDIA.ID – Populasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai di Jakarta kini berada pada kondisi yang memprihatinkan. Spesies invasif ini semakin mendominasi perairan perkotaan, mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan berbagai langkah pengendalian, termasuk penangkapan besar-besaran.

Salah satu upaya tersebut dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Pusat yang berkolaborasi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta. Mereka menggelar kerja bakti penangkapan ikan sapu-sapu di Kali Cideng, tepatnya di depan Mal Plaza Indonesia, Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, pada Jumat (10/4/2026).

Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Veryl Hasan, menjelaskan bahwa menjamurnya ikan sapu-sapu erat kaitannya dengan kondisi sungai yang tercemar. Spesies ini memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi sehingga mampu bertahan hidup di lingkungan dengan kualitas air yang buruk.

“Ketika sungai tercemar berat, banyak ikan lokal tidak mampu bertahan hidup. Sebaliknya, ikan sapu-sapu tetap hidup dan berkembang pesat, sehingga populasinya tampak meledak,” ujar Veryl dikutip dari laman Unair, Rabu (15/4/2026).**

Kompetitor Serius bagi Ikan Lokal

Veryl menuturkan, ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan. Di habitat aslinya, ikan ini merupakan spesies lokal yang bahkan aman dikonsumsi masyarakat setempat. Namun, ketika masuk ke perairan Indonesia sebagai spesies asing, keberadaannya menjadi ancaman karena minimnya predator alami.

Selain dikenal tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem, ikan sapu-sapu juga merupakan predator oportunis yang memanfaatkan hampir seluruh sumber daya di sungai, mulai dari tumbuhan air hingga organisme kecil. Kondisi ini menjadikannya kompetitor serius bagi ikan lokal dalam memperoleh makanan dan ruang hidup.

“Ketika berada di luar habitat aslinya, sapu-sapu dapat menggeser keberadaan ikan lokal. Karena sedikit organisme yang memangsa, populasinya tumbuh tanpa hambatan berarti,” jelasnya. Ia menambahkan, pada perairan yang sehat, populasi ikan sapu-sapu biasanya tidak terlalu dominan karena harus bersaing dengan beragam ikan lokal lainnya.

Pentingnya Penegakan Regulasi dan Perbaikan Lingkungan

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Veryl menekankan pentingnya penegakan regulasi terkait larangan pelepasan ikan asing ke perairan umum. Menurutnya, aturan yang ada harus disertai pengawasan serta tindakan nyata di lapangan.

Selain itu, pemulihan kualitas air sungai menjadi langkah krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan kondisi perairan yang lebih baik, ikan lokal memiliki peluang untuk kembali berkembang dan menekan dominasi ikan sapu-sapu.

“Kunci utamanya bukan hanya menangkap sapu-sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya,” tuturnya.

Sebagai langkah tambahan, ia menyarankan pemberantasan manual melalui penangkapan ikan sapu-sapu dan pemanfaatannya sebagai bahan baku tepung ikan untuk pakan ikan hias. Veryl juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melepas ikan eksotik ke alam bebas.

“Jika tidak mampu merawat, lebih baik dijual kepada penghobi yang bertanggung jawab atau dimusnahkan dengan benar, jangan dilepas ke sungai,” pungkasnya.*

Pos terkait