Australia Kekurangan Perawat, Peluang bagi Tenaga Kesehatan Indonesia

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne menggandeng Indonesian Professionals in Healthcare (IPHC) serta PPNI Kabupaten Sumbawa Barat menggelar webinar bertajuk “Pathways and Opportunities for Nurses from Indonesia to Work in Australia” pada Rabu (15/4/2026).(Dok.KJRI Melbourne).**

SATUMEDIA.ID – Australia membutuhkan puluhan ribu tenaga perawat dalam beberapa tahun ke depan. Peluang ini mulai dilirik Indonesia dengan menyiapkan jalur resmi bagi tenaga kesehatan untuk berkarier di Negeri Kanguru secara legal, aman, dan berkelanjutan.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne menggandeng Indonesian Professionals in Healthcare (IPHC) serta PPNI Kabupaten Sumbawa Barat menggelar webinar bertajuk “Pathways and Opportunities for Nurses from Indonesia to Work in Australia” pada Rabu (15/4/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 300 peserta secara hybrid ini menjadi forum strategis lintas negara untuk memetakan peluang kerja di sektor keperawatan Australia.

Wakil Konsul Jenderal RI di Melbourne, Jani Sasanti, mengungkapkan kebutuhan tenaga perawat di Australia terus meningkat. Mengacu pada data Kementerian Kesehatan Australia, negara tersebut diproyeksikan kekurangan hingga 123.000 perawat pada 2030. Di negara bagian Victoria, kebutuhan melonjak terutama pada layanan lansia dan disabilitas.

“Kolaborasi ini bukan sekadar menjawab kebutuhan pasar kerja, tetapi juga menjadi instrumen diplomasi ekonomi yang konkret. Kami ingin memastikan perawat Indonesia memiliki akses informasi yang akurat untuk menembus karier internasional,” ujar Jani dikutip dari laman KJRI Melbourne, Jumat (17/4/2026).

Dalam webinar tersebut, para peserta mendapatkan panduan komprehensif terkait proses bekerja sebagai perawat di Australia. Akademisi dari La Trobe University, Prof. Lisa McKenna, menjelaskan alur registrasi resmi agar kualifikasi perawat Indonesia dapat diakui, termasuk melalui kerangka kerja sama Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Sementara itu, perawat asal Indonesia yang kini berpraktik di Australia, Katarina Constantine dan Fauzia Sarah, membagikan pengalaman mereka menghadapi transisi budaya kerja hingga tantangan teknis di rumah sakit setempat.

Tak hanya berdampak ekonomi, peluang ini juga dinilai sebagai langkah pemberdayaan perempuan. Sebab, sekitar 71 persen tenaga perawat di Indonesia merupakan perempuan. Akses kerja ke luar negeri dinilai dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus martabat profesional tenaga kesehatan perempuan Indonesia.

Dengan tingkat penghasilan yang relatif tinggi di Australia, program ini diharapkan menjadi alternatif peningkatan taraf hidup yang terukur dan tetap terlindungi oleh hukum internasional.

Kegiatan ini juga bertepatan dengan momentum menjelang Hari Perawat Internasional 2026 serta peringatan HUT ke-52 Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Sinergi tersebut diharapkan memperkuat kemitraan strategis Indonesia dan Australia, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia, menjelang 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2027.

Melalui langkah ini, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan tenaga kerja Indonesia yang berkarier di luar negeri mendapatkan perlindungan maksimal melalui sistem migrasi yang terkelola dengan baik.*