SATUMEDIA.ID – Keberangkatan Kloter 7 Jemaah Haji Kota Cimahi tahun ini menyisakan kisah haru yang sulit dilupakan. Di antara para calon tamu Allah, ada sosok muda berusia 20 tahun, Alifiyah Nur Syabani, yang menjadi jemaah termuda bukan sekadar berangkat untuk dirinya sendiri, tetapi membawa amanah besar dari sang ayah yang telah tiada.
Langkah Alifiyah menuju Tanah Suci bukan perjalanan biasa. Ia berangkat menggantikan posisi ayahnya yang wafat pada 2024, memanfaatkan kebijakan pelimpahan porsi haji kepada ahli waris. Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang pernah dibayangkan keluarga mereka, yang semula dijadwalkan berangkat pada 2027.
“Saya tidak menyangka bisa berangkat secepat ini. Bapak saya meninggal tahun 2024, lalu karena ada kebijakan pelimpahan, akhirnya saya yang menggantikan beliau,” ujar Alifiyah, Senin (27/4/2026).
Di balik keberangkatan yang terbilang mendadak, tersimpan perjuangan panjang. Selama berbulan-bulan, Alifiyah dan keluarganya berpacu dengan waktu mengurus berbagai persyaratan—mulai dari paspor, visa, hingga pemeriksaan kesehatan. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswi, ia harus membagi fokus antara tanggung jawab akademik dan persiapan ibadah.
“Prosesnya cukup panjang dan melelahkan. Tapi alhamdulillah semuanya berjalan lancar,” katanya.
Dukungan pun mengalir dari lingkungan kampus. Pihak akademik dan para dosen memberikan izin khusus agar Alifiyah bisa menunaikan ibadah haji tanpa beban, meski harus meninggalkan perkuliahan untuk sementara waktu.
Namun, perjalanan ini bukan hanya tentang dirinya. Keberangkatan Alifiyah juga menjadi jawaban atas penantian panjang sang ibu, yang telah menunggu selama 12 tahun untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Kini, ibu dan anak itu akan menjalani ibadah bersama—dengan satu sosok yang tetap hadir dalam doa, meski tak lagi di sisi mereka.
“Rasanya campur aduk. Sedih karena Bapak sudah tidak ada, tapi juga bahagia bisa mendampingi Ibu. Ini seperti takdir yang luar biasa,” ungkapnya.
Dengan bekal manasik, kesiapan fisik, serta tekad yang kuat, Alifiyah menatap perjalanan spiritual ini dengan penuh harap. Ia tak hanya membawa doa-doa pribadi, tetapi juga amanah dan kerinduan seorang anak kepada ayahnya yang kini ia lanjutkan langkahnya di Tanah Suci.*
