Dampak Dolar AS Menguat

Dede Supriatna.(Dokumen pribadi)**

SATUMEDIA.ID – Sebelum mengulas berita dari media mainstream yang mewartakan tentang pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Penulis masih ingat teori yang diajarkan dosen S2 di UGM . Secara empiris hubungan ekonomi Indonesia dengan negara lain, khususnya perdagangan luar negeri, investasi, pariwisata, dan lain-lain dilakukan melalui transaksi atau pertukaran mata uang seperti rupiah dengan dolar AS dan mata uang asing lainnya.

Transaksi pertukaran mata uang rupiah terhadap dolar AS ini dilakukan di pasar uang melalui perkembangan nilai kurs (exchange rate) mata uang rupiah terhadap mata uang negara lain, khususnya terhadap dolar AS.

Besaran nilai kurs rupiah terhadap mata uang negara lain seperti dolar AS menentukan posisi tawar mata uang rupiah di pasar uang (money market) yang disebut dengan apresiasi dan depresiasi. Apabila selisih perbedaan nilai kurs rupiah terhadap dolar AS sangat tipis/kecil, maka hal ini mengindikasikan rupiah cenderung mengalami apresiasi terhadap dolar AS, dan diprediksi nilainya akan dapat mendekati sama dengan nilai dolar AS dan dolar AS mengalami depresiasi terhadap rupiah Indonesia.

Sebaliknya, apabila selisih perbedaan nilai kurs rupiah terhadap dolar AS sangat besar/tinggi, maka hal ini menggambarkan rupiah cenderung semakin melemah atau mengalami depresiasi terhadap dolar AS dan dolar AS mengalami apresiasi (penguatan) terhadap rupiah.

Dijelaskan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya apresiasi rupiah terhadap dolar AS, yakni jumlah peredaran dolar AS di pasar Indonesia cenderung semakin berkurang/sedikit. Artinya dolar AS semakin sulit diperoleh. Pasokan dolar AS yang semakin sulit dan sedikit di pasar valuta asing, maka mengakibatkan harga dolar AS (nilai kurs)cenderung naik terhadap rupiah.

Kelangkaan dolar AS di Indonesia menyebabkan dolar AS mahal, sehingga nilai rupiah secara perlahan terdepresiasi atau melemah. Dampaknya akan terjadi inflasi yang disebabkan depresiasi rupiah terhadap dolar AS karena terjadi penambahan nominal rupiah untuk membayar impor barang dari luar yang cenderung meningkat setiap tahun (import/cost push inflation).

Dampaknya, pembeli akan menaikkan harga barang impor yang dipasarkan di dalam negeri. Faktor lainnya adalah kebijakan bank sentral AS (the US Federal Reserve) menaikkan suku bunganya, sehingga pemegang dolar AS cenderung akan menyimpan dolar di bank, baik di negara AS maupun di bank negara lain.

Depresiasi rupiah juga disebabkan oleh depresiasi berantai terhadap mata uang negara Asia terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (Dollar AS) dalam beberapa pekan terakhir terus melemah, atau nilai tukar US dollar terus menguat terhadap rupiah. Bahkan per 24 Juni 2024 ini, tingkat kurs dollar terhadap rupiah kurs beli Rp16.448 per dollar AS dan Kurs jual Rp16.468 per dollar AS.

Otoritas moneter Indonesia yakni BI akan mengelola nilai tukarnya dengan melakukan intervensi (membeli dan menjual mata uang) di pasar valuta asing untuk meminimalkan fluktuasi dan menjaga mata uang tetap dekat dengan targetnya (atau dalam rentang targetnya).

Sebagian besar penguatan greenback (dolar) baru-baru ini didasarkan pada kinerja ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan dan berkurangnya seruan penurunan suku bunga The Fed lebih awal. Diharapkan pertengahan tahun ini Federal Reserve siap untuk mulai memotong suku bunga, dolar mungkin akan melemah secara umum.

Namun, kinerjanya terhadap masing-masing mata uang mungkin sangat bervariasi. Anda perlu juga memahami bahwa investasi dolar memperhatikan tinggi rendahnya nilai mata uang suatu negara dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan negara tersebut.

Jika pasokan melebihi permintaan, nilai tukar suatu negara akan turun. Sebaliknya jika permintaan lebih besar dari penawaran maka nilai tukar suatu negara akan semakin tinggi. Ada juga factor lainnya yang menyebabkan suatu negara memiliki nilai tukar yang rendah, seperti defisit neraca perdagangan,  suku bunga rendah, dan kondisi ekonomi dan politik yang kurang mendukung.

Sejumlah kalangan menilai, menguatnya dolar AS terhadap rupiah, tentu membawa dampak yang luas terhadap perekonomian nasional. Pada satu sisi, menguatnya dolar AS terhadap rupiah membuat pendapatan para eksportir mengalami peningkatan, dan daya saing produk yang diorientasikan untuk pasar ekspor juga turut meningkat.

Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi musibah bagi industri manufaktur yang menggunakan bahan baku yang diimpor dari luar negeri. Biaya produksi meningkat, sehingga harga jual produk mau tidak mau ikutan naik. Dampaknya akan terjadi inflasi yang disebabkan depresiasi rupiah terhadap dolar AS karena terjadi penambahan nominal rupiah untuk membayar impor barang dari luar yang cenderung meningkat setiap tahun (import/cost push inflation).

Dampaknya, pembeli akan menaikkan harga barang impor yang dipasarkan di dalam negeri.Pada akhirnya, tingkat inflasi di dalam negeri mengalami peningkatan, karena membengkaknya harga jual barang, sementara daya beli masyarakat menurun. Kondisi itu menjadi buah simalakama bagi Bank Indonesia (BI) untuk menetapkan tingkat suku bunga acuan.

Sebab, kebijakan menaikan tingkat suku bunga acuan (BI) pada suku bunga pinjaman atau bunga kredit otomatis juga meningkat dan berpotensi membuat pasar modal bergejolak. Namun apabila BI Rate tidak dikerek maka tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing khususnya dollar AS akan semakin melemah. Ujung-ujungnya, pertumbuhan ekonomi akan tersendat.

Selain itu, ketegangan politik yang juga terjadi di Timur Tengah punya andil cukup besar. Akibat masalah geopolitik tersebut, permintaan produk ekspor Indonesia menurun. Sementara, jika masih ada permintaan harganya menurun.

Oleh karena itu, tidak ada yang berani memastikan sampai kapan tren melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tersebut bakal berakhir. Satu-satunya pendapat yang menguat adalah yang mengatakan jika ketegangan politik di sejumlah kawasan itu berakhir, dan ekonomi di berbagai belahan dunia yang saat ini lesu kembali membaik.

Kenaikan nilai dollar AS memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat Indonesia, salah satunya adalah peningkatan harga impor komoditas utama bagi masyarakat Indonesia, yaitu minyak mentah (petroleum) untuk bahan baku bahan bakar minyak dan beras. Juga kinerja pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor,misalnya industri farmasi petrokimia, makanan dan minuman, hingga tekstil.

Sekarang bagaimana peranan Anda sebagai warga negara yang baik, dalam membantu menguatkan nilai rupiah, antara lain dengan membeli produk dalam negeri, menahan diri terhadap produk impor, tidak menimbun dollar dan menukarkannya dengan rupiah, berwisata dan berinvestasi di dalam negeri, serta bepergian dengan transportasi publik untuk menghemat penggunaan BBM.*

Penulis Dede Supriatna mantan pekerja Bank BRI dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

 

Pos terkait