KAI Beberkan Sistem Pengamanan Berlapis di Balik Operasional Kereta

Proses perbaikan jalur rel yang terdampak telah selesai dilakukan oleh 200 anggota Tim teknis KAI.(Dok.PT KAI).**

SATUMEDIA.ID – Di balik perjalanan kereta api yang tiba tepat waktu dan terasa aman bagi jutaan pelanggan setiap hari, terdapat sistem operasional yang bekerja tanpa henti selama 24 jam. Ribuan insan perkeretaapian menjalankan tugas dengan disiplin tinggi demi memastikan setiap perjalanan berlangsung selamat.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) menegaskan bahwa keselamatan perjalanan kereta api tidak hanya bergantung pada teknologi dan sarana, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya.

Mulai dari awak sarana, pengatur perjalanan kereta api, petugas pemeriksa jalur, tenaga perawatan, hingga penjaga perlintasan, seluruhnya memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga operasional tetap aman dan andal.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan, operasional kereta api merupakan sistem yang sangat detail dan membutuhkan presisi tinggi dalam setiap prosesnya.

“Kereta api merupakan moda transportasi yang memiliki sistem operasional sangat detail. Setiap petugas memegang peran penting dan seluruh proses harus berjalan presisi,” ujar Anne dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).

Menurut Anne, seluruh insan operasional wajib memiliki kompetensi, kesiapan, dan disiplin tinggi sebelum bertugas di lapangan. Karena itu, KAI terus memperkuat kualitas SDM melalui pendidikan, pelatihan, sertifikasi, hingga penyegaran kompetensi secara berkala.

Jumlah pekerja tersertifikasi di lingkungan KAI pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2022 tercatat lebih dari 14 ribu pekerja tersertifikasi. Angka itu naik menjadi sekitar 15.983 pekerja pada 2023, kemudian 16.186 pekerja pada 2024, dan melonjak menjadi 19.167 pekerja tersertifikasi pada 2025.

Sementara pada 2026, KAI menargetkan sebanyak 18.297 pekerja tersertifikasi yang tersebar di berbagai bidang strategis operasional. Mereka terdiri dari Awak Sarana Perkeretaapian (ASP), Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), pengendali kereta api, tenaga pemeriksa jalur, perawatan sarana dan prasarana, hingga Penjaga Jaga Lintas (PJL).

Anne menjelaskan, setiap pekerja operasional harus melewati tahapan pendidikan, pelatihan, uji kompetensi, hingga sertifikasi sebelum diperbolehkan menjalankan tugas. Selain sertifikasi dari lembaga resmi seperti Badan Nasional Sertifikasi Profesi, KAI juga rutin menggelar diklat, workshop, simulasi operasional, dan forum diskusi untuk menjaga kesiapan personel.

“Dalam operasional kereta api, keputusan yang diambil petugas harus cepat, tepat, dan sesuai prosedur. Karena itu proses pembentukan kompetensi dilakukan secara berkelanjutan,” kata Anne.

Tak hanya fokus pada SDM, KAI juga melakukan pemeriksaan rutin terhadap sarana dan prasarana untuk memastikan operasional tetap andal. Pemeriksaan dilakukan mulai dari jalur rel, wesel, sinyal, jembatan, sistem operasi, hingga kondisi kereta api melalui inspeksi lapangan dan pengawasan detail oleh petugas tersertifikasi.

Untuk memperkuat budaya keselamatan, KAI juga memanfaatkan aplikasi Safety Railway Information (SRI). Melalui sistem ini, setiap pegawai dapat melaporkan potensi bahaya atau kondisi tidak aman yang berisiko mengganggu perjalanan kereta api agar segera ditindaklanjuti.

Di sisi lain, operasional kereta api juga menghadapi berbagai tantangan eksternal, seperti pelanggaran di perlintasan sebidang, pelemparan kereta, pencurian aset, bangunan liar di sekitar jalur, hingga ancaman cuaca ekstrem seperti banjir dan longsor.

Karena itu, KAI terus memperkuat kolaborasi bersama pemerintah, regulator, aparat kewilayahan, komunitas, dan masyarakat demi menjaga keselamatan perjalanan kereta api secara menyeluruh.

“Setiap perjalanan kereta api yang berjalan aman sesungguhnya dijaga oleh banyak insan yang bekerja penuh disiplin selama 24 jam,” tutup Anne.*

Pos terkait