SATUMEDIA.ID – Konsep ‘Tobat Lingkungan’ menjadi pesan utama yang dibawa delegasi Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING) saat berkunjung ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Gerakan ini dinilai penting sebagai upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam di tengah semakin meningkatnya krisis lingkungan.
Penasehat PAGER SAGULING, H.Agus Ishak, menegaskan bahwa berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini pada dasarnya merupakan cerminan dari perilaku manusia yang semakin jauh dari tanggung jawabnya sebagai penjaga bumi.
Menurut dia, penyelamatan lingkungan tidak cukup dilakukan melalui pembangunan infrastruktur, regulasi, atau teknologi semata. Lebih dari itu, diperlukan perubahan cara pandang dan kesadaran moral masyarakat terhadap lingkungan hidup.
“Taubat Lingkungan adalah ajakan untuk kembali kepada fitrah manusia sebagai penjaga kehidupan. Kita harus berani mengakui bahwa banyak kerusakan alam yang terjadi merupakan akibat dari ulah manusia. Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki kesadaran dan perilaku kita terhadap alam,” ujar Agus saat dikonfirmasi Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan, konsep Taubat Lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan gerakan perubahan yang berangkat dari nilai-nilai spiritual dan keagamaan. Dalam pandangan tersebut, menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada sesama manusia maupun kepada Tuhan.
Agus menilai pesantren memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan kesadaran ekologis kepada masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan yang dekat dengan kehidupan sosial, pesantren dapat menjadi motor penggerak lahirnya budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.
Gagasan Taubat Lingkungan yang diusung PAGER SAGULING juga sejalan dengan konsep “Tobat Ekologi” yang digaungkan Menteri Lingkungan Hidup RI, Mohammad Jumhur Hidayat. Bagi PAGER SAGULING, seruan tersebut menjadi momentum penting untuk membangun gerakan nasional yang mengajak masyarakat melakukan refleksi mendalam atas berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini.
Koordinator Delegasi PAGER SAGULING, Haris Bunyamin, mengatakan bahwa Taubat Lingkungan merupakan ajakan untuk tidak lagi saling menyalahkan, melainkan bersama-sama mengambil tanggung jawab dalam memperbaiki kondisi lingkungan.
“Taubat Lingkungan adalah momentum introspeksi nasional. Kita diajak menyadari bahwa eksploitasi alam yang berlebihan telah menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari pencemaran, kerusakan ekosistem, hingga bencana lingkungan. Kini saatnya melakukan perbaikan secara bersama-sama,” kata Haris.
Ia menambahkan, gerakan yang berkembang di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dan Waduk Saguling itu tidak hanya berfokus pada konservasi alam, tetapi juga membangun kesadaran moral, sosial, dan spiritual masyarakat.
Dalam audiensi dengan KLH, delegasi PAGER SAGULING turut memaparkan sejumlah program yang mendukung gerakan Taubat Lingkungan, di antaranya rehabilitasi kawasan Saguling, konservasi daerah tangkapan air, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pemanfaatan eceng gondok menjadi produk bernilai ekonomi, pengembangan energi terbarukan, serta pemberdayaan masyarakat.
Melalui gerakan Taubat Lingkungan, PAGER SAGULING berharap lahir kesadaran baru bahwa menjaga alam bukan sekadar aktivitas pelestarian, melainkan bentuk pertanggungjawaban moral kepada generasi mendatang. Gerakan ini juga menegaskan bahwa pesantren dapat menjadi pusat transformasi sosial dan ekologis dalam menghadapi tantangan krisis lingkungan yang semakin kompleks.*
