Peringati Bulan Bung Karno, Kader PDI-P Bersihkan Eceng Gondok di Waduk Cirata

Eceng gondok menutupi perairan Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy, KBB.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, puluhan kader dan pengurus PAC PDI Perjuangan se-Kecamatan Cipeundeuy menggelar aksi bersih-bersih eceng gondok di Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Senin (29/6/2026).

Aksi sosial tersebut dilakukan sebagai bentuk implementasi semangat gotong royong yang diwariskan Presiden pertama RI, Soekarno, sekaligus menjawab keresahan warga yang selama ini menghadapi persoalan eceng gondok yang terus meluas di perairan waduk.

Warga khawatir penumpukan eceng gondok akan memicu berbagai persoalan lingkungan dan kesehatan, seperti yang terjadi di kawasan Waduk Saguling, tepatnya di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, yang hingga kini masih menghadapi masalah serupa.

Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Cipeundeuy, Jejen Jaenal Aripin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno. Sebanyak 125 kader dikerahkan untuk mengangkat eceng gondok yang semakin menutupi permukaan Waduk Cirata.

Meski demikian, Jejen mengakui upaya yang dilakukan secara manual selama satu hari itu belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Menurut dia, volume eceng gondok yang mencapai ribuan ton dan menyebar hingga tiga kabupaten membuat penanganannya membutuhkan dukungan alat berat serta perencanaan yang matang.

“Kegiatan ini hanya sebatas pengangkatan semampunya secara manual dalam satu hari saja,” kata Jejen, Senin (29/6/2026).

“Jika ingin benar-benar tuntas, mustahil tanpa alat berat khusus, bahkan mungkin butuh waktu lebih dari tiga bulan untuk membersihkan seluruh bagian yang sudah sedemikian padatnya,” lanjut dia.

Jejen mengatakan, dampak eceng gondok tidak hanya mengganggu keindahan waduk, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Hamparan tanaman air itu berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, sementara saat musim kemarau eceng gondok yang membusuk menimbulkan bau tidak sedap.

Selain itu, sektor perikanan menjadi yang paling terdampak. Akses menuju keramba terhambat sehingga proses pemberian pakan, perawatan, hingga panen menjadi lebih sulit dan membutuhkan biaya lebih besar.

“Yang paling memukul secara ekonomi itu nasib para pembudidaya ikan. Akses perahu menjadi terhambat, proses pemberian pakan hingga masa panen terganggu dan memakan biaya lebih besar,” ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, lanjut Jejen, hampir 80 persen pembudidaya ikan di wilayah itu terpaksa menghentikan usahanya.

“Sudah hampir 80 persen petani ikan di wilayah ini berhenti beroperasi. Jika terhalang eceng, jadwal panen terlewati, biaya pakan dan tenaga membengkak, sehingga kerugian tak terelakkan dan mereka memilih menutup usaha,” ungkapnya.

Karena itu, Jejen berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama instansi pengelola Waduk Cirata segera mengambil langkah konkret. Menurut dia, penanganan eceng gondok harus dilakukan secara terpadu karena waduk tersebut membentang di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Purwakarta, dan Cianjur.

“Kami berharap Gubernur Jawa Barat, Pak Dedi Mulyadi, dan instansi pengelola waduk yang berwenang segera turun tangan dengan kebijakan dan dukungan yang lebih serius,” ujarnya.

“Kami berharap pemerintah lebih peduli sebelum dampaknya meluas. Penanganan ini sebaiknya dilakukan setingkat provinsi karena menyangkut tiga kabupaten. Semoga Gubernur Jawa Barat mendengar keluh kesah kami dan segera bertindak tegas demi menyelamatkan Waduk Cirata dan mata pencaharian warga,” tandasnya.*