Mahasiswa Telkom University Pilih Turun ke Sungai, Bantu Atasi Banjir Dayeuhkolot

Tim Pentahelix Dayeuhkolot membersihkan sungai di sejumlah wilayah sebagai upaya mengantisipasi banjir.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Menjadi mahasiswa tidak membuat Auliana Mulia Hernawan menutup mata terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Di tengah aktivitas perkuliahan, mahasiswa semester lima Jurusan Administrasi Bisnis Telkom University Bandung itu justru aktif turun ke lapangan membantu menangani persoalan lingkungan di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Auliana yang akrab disapa Iyan merupakan anggota Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) Miftahul Jannah di Lamajang Peuntas, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.

Selain aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial, kepeduliannya terhadap lingkungan membuat Iyan bergabung dengan Tim Pentahelix Dayeuhkolot.

Tim tersebut menjadi wadah kolaborasi berbagai unsur masyarakat dalam membantu pemerintah menangani persoalan di wilayah Dayeuhkolot, termasuk banjir dan masalah lingkungan.

Iyan pun tak sekadar hadir dalam kegiatan. Ia ikut terjun langsung melakukan pemantauan sungai, membersihkan sampah di bawah jembatan, serta membantu normalisasi sungai dan drainase.

Tak jarang, ia harus masuk ke saluran air yang sempit untuk mengangkat sedimentasi dan sampah.

Bongkahan batu, kayu berukuran besar hingga ular sanca yang bersembunyi di sekitar saluran air menjadi bagian dari risiko yang dihadapinya saat bekerja di lapangan.

“Saya merasa senang bisa ikut turun tangan menangani persoalan banjir dan lingkungan. Walaupun kontribusinya kecil, mudah-mudahan tetap bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Iyan saat mengikuti normalisasi anak Sungai Cipalasari, Sabtu (15/8/2026).

Bagi Iyan, keterlibatan dalam kegiatan sosial menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama menjalani perkuliahan.

Ia menilai pengalaman menghadapi persoalan nyata di masyarakat memberikan pembelajaran yang tidak selalu bisa diperoleh dari ruang kelas.

“Menjadi mahasiswa bukan hanya soal belajar teori. Saya ingin ilmu yang saya dapat juga bisa digunakan untuk melihat persoalan di masyarakat dan ikut mencari solusinya,” kata dia.

Beraktivitas di sungai juga membuatnya harus berhadapan dengan panas terik hingga rasa gatal setelah membersihkan saluran air.

Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya.Menurut Iyan, rasa lelah terbayar ketika kegiatan yang dilakukan bersama tim dapat membantu mengurangi persoalan banjir yang selama ini menghantui warga Dayeuhkolot.

“Ada kepuasan tersendiri ketika melihat kita bisa membantu masyarakat. Saya berharap upaya seperti ini bisa terus dilakukan sehingga persoalan banjir di Dayeuhkolot semakin berkurang,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pemuda dan berbagai pihak lainnya dapat terus diperkuat untuk mengatasi persoalan lingkungan di Dayeuhkolot.

Kiprah Iyan menunjukkan bahwa mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk memberikan kontribusi. Dari lingkungan terdekat, anak muda dapat mengambil peran dan terlibat langsung dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.*