Hafal Sepuluh Ayat Pertama Al-Kahf Dilindungi Fitnah Dajjal oleh Dede Supriatna

Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Surah Al-Kahf merupakan surah Makkiyah yang turun setelah Surah Al-Ghasyiyah dan sebelum Surah An-Nahl. Surah ini terdiri atas 110 ayat. Mengutip buku Quran Mapping karya Nur Fajri Romadhon, surah ini disebut Al-Kahf yang berarti “gua”.

Kata al-kahf dalam Al Quran disebutkan dalam Surah Al-Kahf dan berkaitan dengan kisah para pemuda yang dikenal sebagai Ashhabul Kahf atau para penghuni gua. Kisah Ashhabul Kahf sering dikaitkan dengan masa Kekaisaran Romawi.

Dalam sejumlah penjelasan sejarah, mereka digambarkan sebagai tujuh orang pemuda yang mempertahankan keimanan kepada Allah di tengah masyarakat yang melakukan kemusyrikan. Mereka menolak mengikuti praktik penyembahan berhala dan kemudian melarikan diri untuk menyelamatkan keimanan mereka dengan berlindung di sebuah gua.

Dalam berbagai riwayat dan penafsiran, kisah tersebut dikaitkan dengan masa Kaisar Decius. Para pemuda itu kemudian tertidur dalam gua dalam waktu yang sangat lama. Al Quran menyebutkan: “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.”(QS. Al-Kahf: 25).

Angka 300 tahun dalam hitungan kalender Masehi kurang lebih setara dengan 309 tahun dalam hitungan kalender Hijriah. Namun, ayat tersebut pada dasarnya menegaskan lamanya mereka berada di dalam gua, sedangkan rincian mengenai tahun, kaisar, dan kronologi sejarahnya merupakan bagian dari penjelasan atau riwayat yang berkembang dalam literatur tafsir dan sejarah.

Setelah mereka terbangun, para pemuda tersebut keluar dari gua dan mengutus salah seorang di antara mereka untuk membeli makanan dengan uang yang mereka miliki. Penduduk setempat kemudian merasa heran karena uang tersebut berasal dari masa yang sudah sangat lama berlalu.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah SWT dan menjadi pelajaran bagi manusia tentang kebangkitan setelah kematian.

Secara umum, Surah Al-Kahf mengandung banyak pelajaran tentang berbagai macam fitnah, dalam arti ujian dan godaan yang dapat mengganggu keimanan manusia. Beberapa kisah utama dalam Surah Al-Kahf menggambarkan bentuk-bentuk ujian tersebut.

Pertama, kisah Ashhabul Kahf (ayat 9–26).Kisah ini menggambarkan ujian keimanan yang dihadapi oleh para pemuda penghuni gua. Mereka memilih mempertahankan keimanan meskipun harus meninggalkan lingkungan dan kehidupan yang mereka miliki. Dari kisah ini, umat Islam dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya menjaga keimanan ketika menghadapi tekanan.

Kedua, kisah pemilik dua kebun (ayat 32–44). Kisah ini memberikan pelajaran mengenai ujian harta. Kekayaan dapat membuat seseorang menjadi sombong, lupa bersyukur, dan merasa bahwa apa yang dimilikinya akan berlangsung selamanya. Karena itu, harta merupakan salah satu bentuk ujian yang harus dihadapi dengan iman dan rasa syukur.Ketiga, kisah Nabi Musa AS dan Khidir (ayat 60–82).

Kisah ini memberikan pelajaran tentang ujian ilmu. Nabi Musa AS belajar bahwa pengetahuan manusia memiliki keterbatasan dan bahwa tidak semua hal dapat dipahami hanya berdasarkan apa yang terlihat secara langsung. Kisah ini mengajarkan pentingnya kesabaran, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa ilmu Allah SWT jauh lebih luas daripada pengetahuan manusia.

Ketiga, kisah Dzulqarnain serta Ya’juj dan Ma’juj (ayat 83–98).Kisah ini antara lain memberikan pelajaran mengenai ujian kekuasaan. Dzulqarnain digambarkan sebagai seorang yang memiliki kekuasaan dan kemampuan, tetapi menggunakan kekuasaannya dengan adil dan bertanggung jawab.

Dari kisah ini, manusia dapat mengambil pelajaran bahwa kekuasaan juga merupakan amanah dan ujian. Dengan demikian, kisah-kisah dalam Surah Al-Kahf tidak hanya merupakan cerita tentang masa lalu, tetapi juga mengandung pelajaran yang relevan bagi kehidupan manusia: ujian iman, harta, ilmu, dan kekuasaan. Karena Surah Al-Kahf memiliki banyak pelajaran tentang berbagai fitnah, Rasulullah SAW memberikan petunjuk mengenai perlindungan dari fitnah Dajjal.

Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari Surah Al-Kahf akan terlindungi dari fitnah Dajjal. Dalam riwayat lain disebutkan tentang sepuluh ayat terakhir. Membaca Surah Al-Kahf juga dikenal sebagai salah satu amalan yang dianjurkan pada hari Jumat.

Dalam beberapa riwayat disebutkan mengenai keutamaan membaca Surah Al-Kahf, antara lain memperoleh cahaya di antara dua Jumat. Makna “cahaya” tersebut dapat dipahami sebagai petunjuk dan kebaikan yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya. Karena itu, membaca Surah Al-Kahf pada hari Jumat dapat menjadi salah satu amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus mengingatkan kita agar selalu berhati-hati terhadap berbagai bentuk ujian kehidupan.

Membaca Al Quran dengan penuh penghayatan juga dapat memberikan ketenangan hati. Ketika seseorang membaca Surah Al-Kahf, memahami maknanya, dan berusaha mengamalkan pesan-pesannya, diharapkan ia semakin dekat kepada Allah SWT dan memperoleh bimbingan dalam menjalani kehidupan.

Pada akhirnya, Surah Al-Kahf mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah lepas dari ujian. Ada ujian keimanan, harta, ilmu, dan kekuasaan. Karena itu, seorang Muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan Allah SWT agar mampu menghadapi setiap ujian dengan kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman.

Semoga dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Surah Al-Kahf, kita senantiasa mendapatkan petunjuk, perlindungan, ketenangan, dan keberkahan dari Allah SWT.*

*Penulis alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023
dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM