Foto Pengukir Kayu Jepara Bawa Siswa SMP Cimahi Jadi Juara 1 Kompetisi UNESCO

Yudha Pramudya (15), siswa kelas IX SMP Negeri 2 Cimahi, meraih prestasi di tingkat internasional. Foto berjudul A Legacy in Every Carving karya Yudha berhasil meraih juara pertama dalam Kompetisi Fotografi Internasional UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads edisi ke-8 tahun 2026. (Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Ketelitian seorang pengrajin kayu Jepara saat mengukir menjadi objek foto yang mengantarkan Yudha Pramudya (15), siswa kelas IX SMP Negeri 2 Cimahi, meraih prestasi di tingkat internasional.

Foto berjudul A Legacy in Every Carving karya Yudha berhasil meraih juara pertama dalam Kompetisi Fotografi Internasional UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads edisi ke-8 tahun 2026.

Yudha menjadi pemenang untuk kategori usia 14-17 tahun. Karyanya terpilih dari lebih dari 7.000 foto yang dikirimkan peserta dari 100 negara.

Penilaian kompetisi mencakup orisinalitas, kekhasan tema, serta kekuatan visual dalam menggambarkan makna warisan budaya yang tetap hidup.

Bagi Yudha, pencapaian tersebut menjadi kejutan besar. Sebab, keikutsertaannya dalam kompetisi tersebut pada awalnya hanya ditujukan untuk menambah pengalaman sekaligus menjadi bekal sebelum melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Saya awalnya hanya ingin mencoba dan mencari pengalaman. Jadi ketika mendapat email yang menyatakan saya juara pertama, saya benar-benar tidak menyangka,” kata Yudha, Minggu (4/10/2026).

Yudha mengetahui kompetisi fotografi UNESCO tersebut dari sebuah unggahan di Instagram pada akhir Juni 2026.

Tanpa banyak pertimbangan, ia kemudian mendaftarkan diri dan mulai mencari objek foto yang sesuai dengan tema yang ditetapkan UNESCO tahun ini, yakni Living Heritage atau warisan budaya yang hidup.

Pencarian objek pertama dilakukan Yudha di kawasan Jelekong, Kabupaten Bandung. Ia sempat mencari pengrajin wayang golek yang dinilai sesuai dengan tema kompetisi.

Namun, objek yang dicarinya belum ditemukan.Yudha kemudian menemukan seorang pengrajin kayu Jepara di kawasan Antapani, Kota Bandung. Setelah meminta izin, ia mengabadikan aktivitas pengrajin tersebut menggunakan kamera Sony A74 miliknya.

Dalam foto tersebut, Yudha menangkap momen ketika sang pengrajin menunduk dan berkonsentrasi menggoreskan pahat ke permukaan kayu.

Bagi Yudha, foto tersebut tidak hanya menggambarkan aktivitas seorang pengrajin. Ia ingin memperlihatkan ketekunan, keterampilan, dan proses pewarisan budaya yang berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Saya ingin orang yang melihat foto itu bisa merasakan ketelitian dan kesabaran pengrajin ketika membuat motif. Setiap goresan pahat menurut saya punya cerita tentang warisan budaya yang terus dilanjutkan,” tuturnya.

Yudha mengirimkan dua foto melalui laman resmi kompetisi. Seluruh karya tersebut merupakan hasil jepretannya sendiri dan dibuat tanpa menggunakan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Setelah mengirimkan karya, Yudha harus menunggu hingga pengumuman pemenang.

Pada 20 September 2026, pemberitahuan kemenangan akhirnya masuk ke kotak surat elektroniknya.

Ia dinyatakan sebagai juara pertama kategori usia 14-17 tahun.

Karya tersebut selanjutnya akan dimuat dalam album foto resmi UNESCO berjudul Youth Lens on the Silk Roads. Foto Yudha juga berpeluang ditampilkan dalam berbagai kegiatan UNESCO.

Prestasi tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Yudha yang baru menekuni fotografi sejak duduk di bangku SMP.

Minat terhadap fotografi muncul setelah ia melihat seorang temannya kerap mengabadikan berbagai momen menggunakan kamera.

Yudha kemudian bergabung dengan ekstrakurikuler fotografi di SMP Negeri 2 Cimahi. Dari sana, ia mempelajari berbagai teknik dasar fotografi, mulai dari komposisi hingga bagaimana menentukan momen yang tepat untuk diabadikan.

Perjalanan Yudha juga tidak selalu dihiasi kemenangan. Sebelum mengikuti kompetisi UNESCO, ia pernah mengikuti lomba fotografi di tingkat Kota Cimahi tetapi belum berhasil menjadi juara.

Kegagalan itu justru membuatnya mencoba kembali di kompetisi dengan cakupan lebih luas.

“Saya pernah ikut lomba di Cimahi dan hasilnya belum berhasil. Setelah itu saya mencoba lagi di tingkat internasional. Ketika ternyata menang, saya langsung menyampaikan kabar tersebut kepada orangtua setelah pulang sekolah,” ujar Yudha.

Ingin Jadi Fotografer di Istana Negara

Prestasi di kompetisi UNESCO semakin menguatkan cita-cita Yudha di bidang fotografi.

Ia berencana melanjutkan pendidikan ke SMK Negeri 1 Cimahi. Setelah itu, Yudha ingin mengembangkan kemampuan fotografi hingga suatu hari dapat menjadi fotografer di Istana Negara.

Pembimbing ekstrakurikuler fotografi SMP Negeri 2 Cimahi, Nugraha Mukti, mengatakan Yudha memiliki ketekunan dan kemauan untuk terus mengembangkan kemampuannya.

Menurut Nugraha, foto yang kemudian memenangkan kompetisi UNESCO tersebut sebelumnya juga telah diperlihatkan kepadanya.

“Sebelum dikirim, saya sudah melihat fotonya. Saya menilai hasilnya bagus dan meminta Yudha untuk terus berkarya. Tidak lama kemudian, justru datang kabar bahwa fotonya menjadi juara,” kata Nugraha.

Ia menambahkan, kemampuan dasar fotografi telah dipelajari para siswa yang mengikuti ekstrakurikuler tersebut. Yudha menjadi salah satu siswa yang mampu mengembangkan kemampuan itu hingga menghasilkan prestasi di tingkat internasional.

“Anak-anak di ekstrakurikuler sudah dibekali teknik dasar dan mereka juga aktif menghasilkan karya. Yudha menjadi salah satu yang menunjukkan bahwa proses latihan itu bisa membawa hasil,” ujar Nugraha.*