SATUMEDIA.ID – Nama Tona’s Coffee bukan sekadar merek bagi Abah Kurnia Danu Miharja (68). Di balik nama tersebut tersimpan kisah keluarga dan kenangan terhadap putra bungsunya, Cantona Yusuf.
Cantona yang akrab disapa Tona merupakan sosok yang ikut merintis nama Tonas untuk usaha kopi keluarganya.
Namun, perjalanan nama tersebut tidak terlepas dari duka yang dialami keluarga Kurnia.
Pada awalnya, Kurnia menggunakan merek “Arjuna” untuk produk kopinya. Nama tersebut kemudian tidak dapat digunakan karena telah banyak dipakai dan tidak lolos saat akan didaftarkan.
Dalam kondisi tersebut, muncul nama Tonas yang berasal dari nama panggilan putra bungsunya, Tona.
Nama itu kemudian digunakan sebagai identitas usaha kopi yang dikembangkan Kurnia di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
¿…
Namun, pada 2018, Tona meninggal dunia akibat kecelakaan. Belum genap dua bulan setelah kepergian Tona, sang ibu juga meninggal dunia.
Kehilangan dua anggota keluarga dalam waktu berdekatan membuat perjalanan usaha kopi Kurnia sempat berada dalam suasana duka.
Meski demikian, keluarga memilih untuk tidak mengganti nama Tonas.
Sebaliknya, nama yang sebelumnya dirintis Tona justru dipertahankan dan terus dikembangkan hingga menjadi identitas usaha kopi keluarga.
“Nama Tonas kami pertahankan karena ada cerita dan kenangan Tona di dalamnya. Kami ingin apa yang sudah dia mulai tetap berjalan dan berkembang,” ujar Kurnia saat ditemui di Tonas’s Coffee, Maribaya, Lembang, Selasa (6/10/2026).
Nama Tona’s Coffee kemudian didaftarkan sebagai hak kekayaan intelektual (HAKI).
Bagi Kurnia, keberadaan nama tersebut membuat usaha kopi yang dibangunnya sejak 2008 memiliki makna yang lebih dalam. Tona’s bukan hanya menjadi merek yang melekat pada produk kopi, tetapi juga menjadi cara keluarga menjaga ingatan terhadap sosok Tona.
Berawal dari rasa ingin tahu
Jauh sebelum Tona’s Coffee berkembang, Kurnia sebenarnya tidak memiliki latar belakang sebagai petani kopi.
Pria berusia 68 tahun itu sebelumnya lebih banyak berkutat dengan mesin kendaraan.
Ketertarikannya terhadap kopi mulai tumbuh pada 2008. Ia kemudian belajar budidaya kopi ke sejumlah daerah, mulai dari Pangalengan, Toraja hingga Sidikalang.
Kurnia juga mendalami jenis-jenis kopi di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember.
Ia mempelajari Arabika, Robusta, Liberika dan Excelsa sebelum menyesuaikannya dengan kondisi lahan di Lembang.
Pilihan akhirnya jatuh pada varietas Sigararutang yang dinilai sesuai dengan karakter lahan di kawasan tersebut.
Pada 20 November 2008, Kurnia menanam benih pertama di lahan seluas 5 hektar.
Tiga tahun kemudian, kebun tersebut mulai menghasilkan panen. Hasil panen awalnya dijual dalam bentuk buah segar dengan harga Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kilogram.
Kurnia kemudian mengembangkan pengolahan hingga menghasilkan green bean dan kopi sangrai siap seduh. Pada 2016, ia membuka kafe sendiri.
Perjalanan Tona’s Coffee kemudian berkembang hingga ke pasar luar negeri.
Pada Juni 2019, Kurnia berangkat sendiri ke Berlin, Jerman, untuk mengikuti pameran internasional. Setelah sekitar 10 hari mencari mitra, ia berhasil menemukan pembeli dari Eropa.
Pengiriman pertama dilakukan pada Januari 2020.
Namun, pandemi Covid-19 membuat kerja sama tersebut terhenti. Pembeli dari Jerman tidak lagi dapat dihubungi sehingga Kurnia kembali memperkuat pasar domestik.
Produk Tonas Coffee kemudian dipasarkan hingga Kalimantan dan Bali.
Kebunnya juga dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan bagi guru SMK dari berbagai provinsi, termasuk Papua dan Maluku.
Bagi Kurnia, perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kopi Lembang sekaligus mempertahankan usaha yang kini membawa nama putranya.
Ia meyakini kopi Lembang memiliki karakter tersendiri yang terbentuk dari kondisi tanah, iklim, ketinggian serta lingkungan pegunungan.
“Kami tidak menjadikan kopi Lembang sebagai sesuatu yang harus dibandingkan dengan daerah lain. Yang kami jaga adalah karakter khasnya. Justru perbedaan itulah yang membuatnya punya nilai,” kata Kurnia.*
