Jejak Sejarah Masa Lalu Bandung Barat: Dari Manusia Guha Pawon hingga Gununghalu

Wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, diduga menyimpan jejak kehidupan manusia prasejarah yang tidak hanya terpusat di kawasan Guha Pawon, Kecamatan Cipatat.(Dok.Disparbud KBB).**

SATUMEDIA.ID – Wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, diduga menyimpan jejak kehidupan manusia prasejarah yang tidak hanya terpusat di kawasan Guha Pawon, Kecamatan Cipatat.

Temuan artefak berupa beliung persegi atau kapak batu di Kecamatan Gununghalu menjadi salah satu bukti yang mengindikasikan bahwa wilayah tersebut pernah dihuni manusia pada masa prasejarah.

Artefak sepanjang sekitar 20 sentimeter itu terbuat dari batu jasper berwarna cokelat. Benda peninggalan tersebut telah disimpan oleh ahli geologi dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), Sujatmiko, sejak 1970.

Temuan itu diperoleh jauh sebelum penemuan tengkorak dan kerangka manusia Homo sapiens di Gua Pawon pada Oktober 2003.

Sujatmiko mengatakan, artefak yang ditemukan di Gununghalu menunjukkan karakteristik pengerjaan batu yang lebih halus dibandingkan sejumlah artefak dari Gua Pawon dan Dago Pakar.

Berdasarkan perkiraannya, artefak tersebut berasal dari periode 1.000 hingga 2.500 sebelum Masehi atau zaman Neolitikum.

Periode itu jauh lebih muda dibandingkan perkiraan masa hidup manusia prasejarah Gua Pawon yang diperkirakan berasal dari sekitar 10.000 sebelum Masehi.

“Ketika melakukan penelitian pada 1970, seorang kepala desa bernama Elis memberikan artefak tersebut kepada saya,” ujar Sujatmiko dalam wawancara ekslusif beberapa waktu lalu.

Diduga sudah mengenal kegiatan bercocok tanam

Menurut Sujatmiko, keberadaan beliung persegi tersebut mengindikasikan bahwa Gununghalu pernah menjadi lokasi aktivitas manusia prasejarah.

Bentuk dan tingkat kehalusan artefak itu juga memberikan petunjuk mengenai kemampuan manusia pada masa tersebut dalam mengolah batu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Beliung persegi, kata dia, umumnya digunakan untuk mendukung kegiatan bercocok tanam, bukan sebagai senjata untuk berperang.

Karakteristik tersebut menjadi salah satu petunjuk yang dapat digunakan untuk mengkaji kehidupan manusia pada zaman Neolitikum di kawasan Bandung Barat.

Sujatmiko menduga, manusia yang tinggal di Gununghalu telah memiliki pola kehidupan yang berbeda dibandingkan manusia yang menghuni Gua Pawon pada periode lebih tua.

Ia memperkirakan, kelompok manusia di Gununghalu tidak lagi bergantung pada gua sebagai tempat tinggal, tetapi telah mampu membangun rumah atau gubuk sederhana.

Sayangnya, bangunan dengan konstruksi sederhana itu diperkirakan tidak meninggalkan jejak yang dapat diteliti pada masa sekarang.

Sujatmiko menilai, penelitian lebih mendalam diperlukan untuk mengungkap keberadaan serta kehidupan manusia prasejarah di Gununghalu.

Ia meyakini, kajian lanjutan berpotensi mengungkap temuan artefak lain yang dapat memperkaya informasi mengenai sejarah peradaban manusia di Bandung Barat.

Namun, pencarian peninggalan prasejarah di kawasan tersebut diperkirakan menghadapi tantangan tersendiri.

Berbeda dengan kawasan karst Citatah yang memiliki gua-gua alami, Gununghalu tidak memiliki karakteristik gua serupa yang dapat menjadi lokasi potensial untuk menemukan peninggalan arkeologis dalam jumlah besar.

Pada masa prasejarah, gua tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi tempat persinggahan kelompok manusia yang berpindah-pindah. Dalam sejumlah konteks, gua juga digunakan sebagai lokasi pemakaman.

Kondisi tersebut membuat keberadaan gua menjadi salah satu faktor yang membantu pelestarian jejak kehidupan manusia prasejarah di kawasan tertentu.

Selain Gununghalu dan Gua Pawon, jejak kehidupan manusia prasejarah juga ditemukan melalui artefak di Dago Pakar.

Kesamaan jenis peninggalan di sejumlah wilayah tersebut turut memberikan petunjuk mengenai mobilitas manusia pada masa lalu.

Sujatmiko menjelaskan, manusia prasejarah yang hidup di kawasan Cekungan Bandung diperkirakan memiliki pola hidup nomaden atau berpindah-pindah.

Salah satu petunjuknya adalah temuan batu yang digunakan sebagai ujung panah di Gua Pawon dan Dago Pakar. Material batu tersebut diketahui berasal dari Garut.

Temuan itu menunjukkan bahwa manusia pada masa prasejarah telah melakukan perpindahan antardaerah, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun memperoleh bahan baku peralatan.

Penelitian terhadap artefak di Gununghalu diharapkan dapat menambah bukti mengenai persebaran manusia prasejarah sekaligus membantu mengungkap perkembangan kehidupan masyarakat awal yang pernah mendiami wilayah Bandung Barat.*

Pos terkait