Mantan Ketua DPRD Jabar Minta Kasus Perusakan Monumen Eyang Madfai Dibawa ke Jalur Hukum

Monumen juru kunci pertama Gunung Tangkubanparahu, Eyang Madfai  diduga  dirusak oleh pengelola taman wisata alam tersebut.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Aksi perusakan terhadap monumen Eyang Madfai (1897-1967) oleh oknum pegawai keamanan taman wisata alam (TWA) Gunung Tangkubanparahu dikecam mantan Ketua DPRD Jabar Eka Santosa.

Menurutnya, merusak Monumen Eyang Madfai sama saja mencederai sejarah yang berkaitan peradaban masyarakat Sunda.

“Tangkubanparahu bukan hanya sebagai objek wisata dan simbol ilmu pengetahuan, tapi juga memiliki nilai sejarah berkaitan dengan peradaban masyarakat Sunda, khususnya masyarakat adat di sekitar Tangkuban Parahu,” kata Eka yang juga
Sekjen Baresan Olot Masyarakat Adat (Bona) saat dihubungi, Minggu (22/9/2024).

Menurutnya, sudah sepatutnya dan menjadi kewajiban moral pengelola TWA Tangkubanparahu untuk menghormati dan bersinergi dengan nilai-nilai kearifan lokal. Jika tidak bisa atau bahkan mengabaikan, ia menyerukan pengelola agar sebaiknya hengkang.

“Kami mengutuk keras aksi tak terpuji ini. Jika memang tidak mampu bahkan mengabaikan tata nilai budaya lokal setempat, lebih baik pengelola segera hengkang sebelum para Olot mengambil tindakan,” tegasnya.

Eka yang juga menjabat Ketua Forum Penyelamat Hutan Jawa (FPHJ) ini berharap kasus ini diusut hingga dibawa ke jalur pidana.

“Saya meminta agar Kementerian LHK mengevaluasi izin pengelolaan oleh
PT GRPP. Bahkan jika perlu dicabut bilamana ada indikasi perusakan tersebut dilakukan atas perintah manajemen atau pengelola,” tandasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, oknum petugas keamanan itu menendang parukuyan atau anglo yang selalu dipakai dalam upacara ritual adat dan budaya Sunda.

Tindakan tidak terpuji oknum pegawai pengelola TWA Gunung Tangkubanparahu dilihat seseorang yang akhirnya sampai ke pihak keluarga Eyang Madfai. Tindakan oleh oknum keamanan kemudian dikecam karena telah melukai hati pihak keluarga dan umumnya masyarakat Sunda.

“Tindakan tersebut tidak sepatutnya dilakukan dengan alasan apa pun. Sebagai
keturunan Eyang Madfai merasa terlukai atas apa yang telah dilakukan oknum tersebut,” kata Juru Kunci Gunung Tangkubanparahu, Abah Suwandi, Jumat (20/9/2024).

Menurutnya, aksi perusakan ini telah menghina adad budaya Sunda. Seharusnya tempat tersebut dijaga bersama karena memiliki nilai-nilai budaya kesundaan, terutama masyarakat yang berada di sekitar Gunung Tangkubanparahu.

“Aksi ini jelas telah menghina adad budaya Sunda, kami tidak terima, pelaku harus ditindak,” tandasnya.

Kawasan Pemandian Air Keramat Cikahuripan lokasinya tidak jauh dari Kawah Ratu. Telah lama ada dan kerap digunakan sebagai tempat ruwatan Gunung Tangkubanparahu setiap bulan Muharam.

Diungkapkannya, sebelumnya berada di atas. Baru pada Februari 2023 dipindah ke bawah karena berbahaya sesuai rekomendasi Badan Geologi.

“Bahkan kini sudah dilakukan penataan dengan tempat pemandian lebih layak dan tertutup,” ucapnya.*

Pos terkait