Jalur Kereta Api Bandung Selatan dalam Kenangan (Bagian 1)

Jembatan kereta api di Desa Sadu, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, kini dimanfaatkan warga sebagai akses jalan sepeda motor dan pejalan kaki/Dicky Mawardi/Satumedia.

SATUMEDIA – Tanda-tanda kejayaan masa lalu perkeretaapian di Kabupaten Bandung tergambar dari sisa rel kereta api yang membentang dari Kecamatan Ciwidey hingga Kecamatan Bojongsoang. Sisa dari kejayaan masa lalu terlihat dari kokohnya jembatan kereta api di Desa Sadu, Kecamatan Soreang, ada pula jembatan sejenis di Kecamatan Pasirjambu.

Meski kini rel dan jembatan kereta api yang melayani warga Bandung Selatan itu mulai terserang karat, malah semakin memperkuat arsitektur warisan masa lalu. Sekarang dijadikan bidikan dari para fogografer profesional sampai amatir.

Tak hanya itu, pelukis pun tidak ketinggalan memanfaatkan panorama alam dan peninggalan kolonial Belanda itu kedalam kanvas.Paling banyak dijadikan obyek pre wedding.

Itulah sekelumit dari sepotong gambaran masa kini dari masa keemasan kereta api di Bandung Selatan.

Berdasarkan kisah yang berhasil dikumpulkan Satumedia.Id, ketika itu masyarakat yang tinggal di Bandung Selatan (kini, Kabupaten Bandung) menjadikan kereta api sebagai sarana transportasi utama.

Bagi masyarakat Bandung Selatan pada dekade 1950 sampai 1972 ketika hendak berpergian ke Kota Bandung selalu menjadikan kereta api sebagai alat transportasi utama.

Masyarakat Bandung Selatan (Bojongsoang, Dayeuhkolot, Baleendah, Banjaran, Soreang, dan Ciwidey) ketika itu sangat lekat dengan kereta api lokomotif warisan zaman kolonial Belanda tersebut.

Di jalur lintasan Bandung-Soreang-Ciwidey sepanjang 40,396 kilometer, terdapat lima stasiun, yaitu Cikudapateuh, Dayeuhkolot, Bnjaran, Soreang, dan Ciwidey. Sedangkan stoplatnya ada 11 buah, terletak di Cibangkong, Buahbatu, Bojongsoang, Kulalet, Pameungpek, Cikupa, Cangkuang, Citaliktik, Sadu, Cukanghaur, dan Cisondari.
Jangan membayangkan kendaraan umum sebanyak sekarang.

Menurut cerita, angkutan umum sejenis oplet maupun Suburban memang sudah
ada namun jumlahnya sangat sedikit, bisa dihitung dengan jari.
Selain masih kurangnya oplet, jalan dari Kota Bandung-Soreang-Ciwidey  tak semulus sekarang, penuh lobang dan berbatu.

Keberadaan kereta api lokomotif, ketika itu sangat membantu masyarakat yang hendak berpergian.(Bersambung)*

Pos terkait