Memutus Silaturahmi Keluarga

Dede Supriatna

SATUMEDIA – Memutus tali silaturahmi adalah hal yang sangat dilarang dalam agama, bahkan ancamannya adalah tidak masuk surga. Bagi umat muslim yang memutus silaturahmi akan mendapatkan azab Allah SWT dan tidak diterima amalnya.

Rasulullah SAW bersabda : tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam Al-Qur’an, surat An-Nisa ayat 1, Allah SWT berfirman “ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu“.

Menjaga silaturahmi sesama manusia adalah salah satu ajaran utama dalam Islam.Tak jarang, terdapat orang tua yang memutus silaturahmi dengan anaknya atau sebaliknya lantaran emosi yang berlebihan . Begitu juga antar saudara hanya karena beda pihan pilpres , karena media sosial atau karena berebut warisan dan sebab lainnya.

Jika Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga silaturahmi, apa hukumnya bagi orang yang memutus silaturahmi seperti pada contoh di atas? Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Islam tidak memperbolehkan umatnya memutus tali silaturahmi. Quraish Shihab menyebut bahwa banyak hadis dan ayat  Al-Qur’an yang mengancam orang yang memutus tali silaturahmi.

Seperti, dalam firman Allah SWT pada Ar-Ra’ad ayat 25 : “Dan orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diikrarkannya, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itu memperoleh kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Jahanam).”

Menurut Quraish Shihab kesalahpahaman karena suatu masalah antara seseorang dengan kerabatnya harusnya diluruskan, bukan memutus hubungan silaturahmi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW , pernah menjelaskan bahwa keretakan hubungan kekerabatan tidak boleh dibiarkan lama.

Keretakan hubungan harus diselesaikan dengan damai dan segera. Rasulullah SAW bahkan menyebutkan bahwa tidak saling sapa ketika terjadi keretakan tersebut hanya boleh hingga tiga hari.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak dibenarkan bagi seorang Muslim untuk meninggalkan saudaranya [tidak mengajak berbicara karena benci] lebih dari tiga hari,” [HR. Muslim]. Sekarang bagaimana kalau salah satu pihak sudah minta maaf atau ingin berdamai sementara pihak yang berseteru lainnya tidak merespon atau tidak memaafkan?

Menurut Fadli Nasrudin, dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan umatnya untuk berlapang dada dan mudah memaafkan. “[yaitu] orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan [kesalahan] orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134).

Rasulullah SAW bersabda:”Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat).” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lainnya, Nabi Muhammad SAW juga bersabda: Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah),” (HR. At-Thabrani).

Bagi yang memaafkan kedudukannya lebih mulia. Permasalahannya, ketika baru saja melakukan kesalahan terhadap rekan, teman, sahabat, orang tua, saudara atau pasangan, seseorang seringkali malu atau gengsi untuk meminta maaf. Di sisi lain, orang yang dikenai kesalahan juga enggan mengalah dan memaafkan lebih dulu.

Orang yang tidak memaafkan kesalahan orang lain, bisa jadi disebabkan oleh dendam dan kebencian. Hal ini sama sekali tidak dianjurkan dalam Islam. Sabda Rasulullah SAW: “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam kesumat [bertengkar]”. (HR. Muslim).

Setelah menyimpan dendam, orang biasanya cenderung akan memutus hubungan baik dengan sesamanya maupun saudaranya . Pada akhirnya, dendam berpotensi menimbulkan perasaan negatif di kemudian hari seperti iri dan dengki.

Merasa terus-menerus sakit hati, iri, dengki, atau marah terhadap seseorang dapat berdampak buruk pada kesehatan mental . Hal ini bisa menyebabkan depresi, kecemasan, dan perasaan tidak berdaya. Sabda Nabi Muhammad SAW “Jauhilah hasad [dengki], karena hasad dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Selain itu tidak mau memaafkan juga dapat merusak hubungan dengan orang yang kita tidak maafkan, serta dengan orang lain di sekitar kita. Sikap tidak mau memaafkan dapat menciptakan ketegangan, konflik, dan membatasi kemungkinan untuk memperbaiki hubungan.

Sikap tidak mau memaafkan bisa membuat seseorang merasa terasing atau terisolasi, karena mungkin sulit bagi orang lain untuk mendekati atau menjalin hubungan yang sehat dengan kita jika kita terus-menerus memelihara dendam.

Selain itu, sikap tidak mau memaafkan juga dapat mempengaruhi cara kita memaafkan diri sendiri. Kita mungkin terjebak dalam siklus rasa bersalah atau penyesalan yang tidak sehat.

Dalam Islam, seorang yang beriman sangat dianjurkan memaafkan orang lain. Sebab, pada dasarnya, Allah SWT sendiri memiliki sifat Maha pengampun.

Dalam surah An-Nuur ayat 22, Allah SWT berfirman: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka [tidak] akan memberi [bantuan] kepada kaum kerabat[nya], orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

*) Dede Supriatna mantan pekerja bank BRI dan alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023

Pos terkait