Belajar Memaafkan

Dede Supriatna.(Dokumen pribadi)**

SATUMEDIA.ID – Pemaaf, salah satu sifat mulia Nabi Muhammad SAW yang jadi cermin akhlak muslim. Sesuai firman Allah SWT : “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”(QS. Ali Imran: 134).

  1. Menurut pendapat Muhbib A Wahab mengutip firman Allah SWT : “Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan juga tidak dianugerahkan melainkan kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat 34-35)

    Memberi maaf termasuk kebaikan hati yang dapat menghindarkan diri dari permusuhan dan dendam yang tidak pernah padam. Menurut Ibn Al-Qayyim, hakikat memberi maaf adalah menggugurkan hak untuk membalas dendam atau melawan karena kemurahan hati yang bersangkutan, meskipun ia dapat melampiaskan dendam dan permusuhannya.

Pemaaf adalah orang yang tidak mengambil haknya untuk menyakiti, mencaci maki, memusuhi orang lain yang telah menzaliminya , meskipun ia sanggup melakukannya. Orang bermurah hati seperti itulah yang dijanjikan oleh Allah SWT pahala (kebaikan dunia dan akhirat). “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan serupa. Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya (menjadi tanggungan) Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (QS. Asy-Syura 40).

Memaafkan adalah puncak kemuliaan hati orang yang disakiti atau dizalimi. Dalam sejarah Islam, pemberian maaf (pengampunan) tidak hanya menarik simpati musuh-musuh Islam untuk memeluk Islam, tetapi juga menunjukkan betapa Islam dibangun atas fondasi kemanusiaan yang kokoh: persaudaraan, persatuan, perdamaian, dan toleransi. Musthafa as-Siba’i, dalam bukunya, Min Rawa’i Hadharatina (Di antara Pesona Peradaban Kita), menyatakan memberi maaf adalah kata kunci rekonsiliasi dan sinergi potensi umat manusia. Ingatlah bagaimana Nabi Muhammad SAW memperlakukan orang-orang kafir Quraisy yang dalam kondisi kalah dan bersalah saat terjadi Fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah).

Beliau bertanya kepada mereka: “Apakah kalian mengira bahwa aku akan melakukan balas dendam terhadap kalian?” Mereka menjawab: “(Kami berharap engkau) berbuat yang terbaik untuk kami, wahai saudaraku.” Nabi Muhammad SAW pun memberi pengampunan massal: “Pergilah kalian, kalian semua itu bebas (tidak ada yang dihukum)!”

Memberi maaf itu tidak selalu mudah karena kadar kesalahan orang lain terhadap kita ada yang besar (sulit dimaafkan) dan ada yang kecil. Prinsip utama bagi yang bersalah, terutama kepada sesama, adalah meminta  maaf  dan sekaligus mengembalikan hak-hak yang pernah diambilnya secara tidak halal kepada yang berhak.

Sedangkan kewajiban sebagai muslim adalah memberi maaf kepada orang pernah bersalah kepadanya. “Allah tidak menambah seorang hamba karena mau memberi maaf melainkan kemuliaan; dan tidaklah seseorang yang bersikap rendah hati di hadapan Allah melainkan akan diangkat oleh Allah derajatnya.” (HR. Abu Daud).

Memberi maaf juga termasuk sifat orang bertaqwa (QS. Ali Imran : 133), dan sekaligus merupakan manifestasi dari sikap meneladani sifat Allah SWT yang Maha Penerima taubat, pemaaf, dan pengampun. Belajar memaafkan kesalahan orang lain sejatinya merupakan manifestasi dari seni menikmati hidup bahagia. Alangkah menderita dan tersiksanya, jika seseorang terus-menerus menyimpan rasa dendam kepada orang lain apalagi terhadap saudara sendiri.

Alangkah sengsaranya jika hati diberati rasa emosi dan amarah yang tidak berkesudahan. Belajar memaafkan jauh lebih mulia daripada menunggu orang lain meminta maaf kepada kita. Karena itu, hidup ini akan lebih indah jika ungkapan tiada maaf bagimu diubah menjadi aku sudah maafkan semuanya. Memaafkan bukan berarti menafikan penegakan hukum dan keadilan, melainkan mengedepankan moral kemanusiaan.

Jika hukuman sudah dijalani dan yang bersangkutan sudah menyadari kesalahannya, maka dosa sosial dan moralnya perlu dimaafkan. Jadi, kita semua perlu terus belajar menjadi arif, agar kita tidak mudah terjebak dalam kemarahan permanen.

Apalagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan merupakan bulan penuh permaafan. Karena itu, Ramadhan nanti harus dijadikan sebagai momentum pemaafan bagi sesama demi terciptanya kedamaian dan keharmonisan sosial. Menurut Zanuba Muhlisin dalam bukunya yang berjudul Berani Tersenyum Meski Terluka dan Semua Hal yang Akan Membuatmu Bangkit dari Kesedihan, ketika jiwa seseorang terhambat oleh rasa kebencian, kemarahan, dan dendam, maka ketika itu pula diri seseorang tersebut akan terus menyimpan kemarahan dan emosi-emosi yang negatif.

Hal ini akan dengan mudah membuatnya mengalami bad mood, sakit, atau merasa tidak bahagia. Untuk menghindari hal tersebut, cobalah untuk selalu bersikap positif ketika ada yang menyakiti. Salah satunya adalah dengan cara memaafkan kesalahan orang lain. Namun, tidak ada gunanya juga untuk terus menyimpan dendam kepada orang yang telah berbuat semena-mena kepadamu itu. Hatimu akan terus dihantui dengan rasa benci dan bisa membuatmu merasa sulit untuk bahagia

Adapun cara memaafkan orang lain diantaranya dengan cara menghilangkan ingatan buruk. Jika seseorang menyakitimu, lupakanlah apa yang telah ia lakukan. Jangan terus mengingat-ingat bagaimana cara dia menyakitimu. Hal ini jika terus Anda lakukan, akan membuat hatimu penuh dengan kemarahan. Anda juga akan terus merasa tidak nyaman dengan semua yang ada di sekelilingmu.

Meskipun ia telah menyakitimu, coba ingat kembali hal baik apa saja yang telah ia lakukan untukmu. Tentunya, dalam setiap insan, pasti akan ada hal baik yang melekat pada dirinya. Ingat terus kebaikannya hingga kamu merasa bahwa dia adalah orang yang baik. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah untuk melupakan kesalahannya. Selanjutnya setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan.

Kesalahan yang pernah Anda buat sebelumnya tidak membuat orang yang Anda sakiti terus membencimu. Cobalah untuk menerima dengan lapang dada kejadian buruk yang menimpamu. Jika Anda sudah bersikap ikhlas, perlahan rasa sakit itu akan menghilang.
Cara memaafkan kesalahan orang lain memang mudah disebut, tapi sulit untuk dilakukan. Namun, jika Anda ingin hidup tenang dan damai, memaafkan adalah salah satu kuncinya. Dengan memaafkan kesalahan orang lain, hidupmu akan dipenuhi oleh hal-hal yang positif yang mengarahkan kamu pada kebahagiaan dalam hidup.

Seperti diawal disebutkan memang tidak mudah memaafkan namun perlu dipahami dalam proses memaafkan adalah mengerti dan merasakan emosi yang Anda alami. Jangan menekan atau menyembunyikan emosi tersebut, karena hal itu hanya akan memperburuk situasi. Izinkan diri Anda untuk merasakan kemarahan, kekecewaan, atau sakit hati yang Anda alami.

Tulis atau bicarakan perasaanmu kepada orang terdekat yang dapat dipercaya. Dengan mengakui dan mengungkapkan emosi tersebut, Anda dapat mulai melangkah menuju pemulihan.Langkah selanjutnya adalah mencari pemahaman mengenai alasan di balik kesalahan yang dilakukan orang lain. Bukan berarti Anda harus membenarkan tindakan mereka, namun mencoba memahami konteks atau situasi yang mungkin mempengaruhi perilaku mereka.

Kadang-kadang, kesalahan seseorang bisa disebabkan oleh tekanan, ketidaktahuan, atau masalah pribadi yang mereka alami. Dengan mencari pemahaman, Anda dapat melihat situasi secara lebih objektif dan mungkin merasa lebih empati terhadap orang tersebut. Setelah Anda merasa siap, cobalah untuk berbicara dan berkomunikasi dengan orang yang menyakiti kamu. Jelaskan bagaimana perbuatan mereka telah menyakiti dan mempengaruhi dirimu.

Namun, pastikan Anda melakukannya dengan tenang dan terkontrol. Berbicara dengan nada yang marah atau menuduh hanya akan memperburuk situasi. Tunjukkan keinginanmu untuk memahami dan memaafkan mereka, tetapi juga sampaikan batasan atau harapanmu ke depannya. Komunikasi yang jujur dan terbuka dapat membantu memperbaiki hubungan dan memulihkan kepercayaan.

Memaafkan tidak berarti melupakan atau menghapus kesalahan yang telah terjadi. Namun, memaafkan adalah tentang menerima bahwa kesalahan itu telah terjadi dan melepaskan beban emosional yang terkait dengannya.ini berarti melatih diri untuk menerima bahwa orang lain adalah manusia, dan manusia kadang-kadang membuat kesalahan.

Jangan biarkan dendam atau kebencian meracuni hatimu. Cobalah untuk melepaskan emosi negatif tersebut dan fokuslah pada hal-hal yang lebih positif dalam hidupmu. Latihan meditasi atau yoga dapat membantu kamu dalam proses ini. Memaafkan kesalahan orang lain yang menyakitimu adalah proses yang membutuhkan waktu dan ketekunan. Ingatlah bahwa memaafkan adalah pilihan yang kamu buat dirimu sendiri, bukan untuk orang lain. Dengan memaafkan, Anda dapat membebaskan dirimu dari beban emosional dan melanjutkan hidup dengan damai.

Memaafkan merupakan sifat yang penting dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis dengan orang lain apalagi dengan saudara. Ketika kita melakukan kesalahan atau menyakiti orang lain, penting untuk meminta maaf dengan tulus dan menunjukkan kesediaan untuk memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. Ini merupakan bentuk tanggung jawab atas tindakan kita.

Memiliki kemampuan untuk memaafkan kesalahan orang lain adalah langkah penting dalam menumbuhkan sikap pemaaf. Ini memungkinkan kita untuk melepaskan dendam dan memperbaiki hubungan dengan orang lain atau dengan saudara sendiri.*

*Penulis Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan
lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

 

Pos terkait