Hakikat Taubat

Dede Supriatna mantan pegawai bank BRI dan alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023.(Dokumen pribadi)**

SATUMEDIA.ID – Hakikat taubat adalah perbuatan akal, hati dan tubuh sekaligus. Dimulai dengan perbuatan akal, diikuti oleh perbuatan hati, dan menghasilkan perbuatan tubuh.

Oleh karena itu, al Hasan berkata: “ia adalah penyesalan dengan hati, istighfar dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa dengan tubuh, dan berjanji untuk tidak akan mengerjakan perbuatan dosa itu lagi.”

Taubat seperti dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya “Ihya ulumuddin” adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur: ilmu, hal dan amal. Ilmu adalah unsur yang pertama, kemudian yang kedua hal, dan ketiga amal.Ia berkata: yang pertama mewajibkan yang kedua, dan yang kedua mewajibkan yang ketiga. Berlangsung sesuai dengan hukum (ketentuan) Allah SWT yang berlangsung dalam kerajaan dan malakut-Nya. Ia berkata: “Sedangkan ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah penghalang antara hamba dan seluruh yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu akan berpengaruh dalam hatinya dan ia merasakan kepedihan karena kehilangan yang dia cintai. Karena hati, ketika ia merasakan hilangnya yang dia cintai, ia akan merasakan kepedihan, dan jika kehilangan itu diakibatkan oleh perbuatannya, niscaya ia akan menyesali perbuatannya itu. Dan perasaan pedih kehilangan yang dia cintai itu dinamakan penyesalan. Jika perasaan pedih itu demikian kuat berpengaruh dalam hatinya dan menguasai hatinya, maka perasaan itu akan mendorong timbulnya perasaan lain, yaitu tekad dan kemauan untuk mengerjakan apa yang seharusnya pada saat ini, kemarin dan akan datang.

Tindakan yang ia lakukan saat ini adalah meninggalkan dosa yang menyelimutinya, dan terhadap masa depannya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan dosa yang mengakibatkannya kehilangan yang dia cintai hingga sepanjang masa. Sedangkan masa lalunya adalah dengan menebus apa yang ia lakukan sebelumnya, jika dapat ditebus, atau menggantinya.

Jadi hakikat taubat meliputi perbuatan akal, hati dan tubuh sekaligus. Dimulai dengan perbuatan akal, diikuti oleh perbuatan hati, dan menghasilkan perbuatan tubuh. Oleh karena itu Dzun-Nun al Mishri berkata hakikat taubat adalah Anda merasakan bumi ruang luas ini menjadi sempit karena dosamu, hingga Anda tidak dapat lari darinya, kemudian kesempitan itu engkau rasakan dalam dirimu. Sedangkan taubat kepada Allah SWT berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya serta tetap di pintu-Nya.

Allah SWT telah menciptakan manusia dari dua unsur. Di dalam tubuhnya terdapat unsur tanah, juga unsur ruh. Inilah yang menjadikannya layak dijadikan objek sujud oleh malaikat sebagai penghormatan dan pemuliaan kedudukannya.

Allah SWT berfirman:”(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”( QS. Shaad: 71-72)

Taubat yang diperintahkan agar dilakukan oleh kaum mu’minin adalah taubat nasuha (yang semurni-murninya) seperti disebut dalam Al Quran:”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. at-Tahrim: 8). Sedangkan nasuha adalah redaksi hiperbolik dari kata nashiih.

Dikatakan dalam bahasa Arab: “nashaha al ‘asal” jika madu itu murni, tidak mengandung campuran. Sedangkan kesungguhan dalam bertaubat adalah seperti kesungguhan dalam beribadah. Dan dalam bermusyawarah, an-nush itu bermakna membersihkannya dari penipuan, kekurangan dan kerusakan, dan menjaganya dalam kondisi yang paling sempurna. An nush-h (asli) adalah lawan kata al-gisysy-(palsu).
Sedangkan Al Kulabi berkata agar meminta ampunan dengan lidah, menyesal dengan hatinya, serta menjaga tubuhnya untuk tidak melakukannya lagi. Sa’id bin Musayyab berkata taubat nasuha adalah agar engkau menasihati diri kalian sendiri.

Taubat tidak sekadar mengucapkan dengan lidah, seperti dipahami oleh kalangan awam. Ketika salah seorang dari mereka datang kepada seorang tokoh agama ia berkata kepadanya: “Pak kiyai, berilah taubat kepada saya”. Kiyai itu akan menjawab: “ikutilah perkataanku ini!”: “aku taubat kepada Allah SWT, aku kembali kepada-Nya, aku menyesali dosa yang telah aku lakukan, dan aku berjanji untuk tidak melakukan maksiat lagi selamanya, serta aku membebaskan diri dari seluruh agama selain agama Islam”. Dan ketika ia telah mengikuti ucapan kiyai itu dan pulang, ia menyangka bahwa ia telah selesai melakukan taubat!.Ini adalah bentuk kebodohan dua pihak sekaligus yaitu kebodohan orang awam itu, serta sang kiyai juga. Karena taubat bukan sekadar ucapan dengan lidah saja, karena jika taubat hanya sekadar berbuat seperti itu, alangkah mudahnya taubat itu.

Seperti dikatakan diawal dan mengutip pendapat yang sejalan tentang taubat itu hendaknya pertama didasari ilmu. Dialah pangkal pertama seluruh kebaikan ini. Yang di maksudkan dengan ilmu ini adalah keimanan dan keyakinan. Karena iman bermakna pembenaran bahwa dosa adalah racun yang menghancurkan. Sedangkan yakin adalah penegasan pembenaran ini, tidak meragukannya serta memenuhi hatinya.

Maka cahaya iman dalam hati ini ketika bersinar akan membuahkan api penyesalan, sehingga hati merasakan kepedihan. Karena dengan cahaya iman itu ia dapat melihat bahwa saat ini, karena dosanya itu, ia terhalang dari yang dia cintai. Seperti orang yang diterangi cahaya matahari, ketika ia berada dalam kegelapan, maka cahaya itu menghilangkan penghalang penglihatannya sehingga ia dapat melihat yang dia cintai.

Ilmu dan penyesalan, serta tekad untuk meninggalkan perbuatan dosa saat ini dan masa akan datang, serta berusaha menutupi perbuatan masa lalu mempunyai tiga makna yang berkaitan dengan pencapaiannya itu. Secara keseluruhan dinamakan taubat.

Banyak pula taubat itu disebut dengan makna penyesalan saja. Ilmu akan dosa itu dijadikan sebagai permulaan, sedangkan meninggalkan perbuatan dosa itu sebagai buah dan konsekwensi dari ilmu itu. Dari itu dapat dipahami sabda Rasulullah SAW : ” Penyesalan adalah taubat” (HR Bukhari dan Muslim), karena penyesalan itu dapat terjadi dari ilmu yang mewajibkan serta membuahkan penyesalan itu, dan tekad untuk membuahkan penyesalan itu, dan tekad untuk meninggalkan dosa sebagai konsekwensinya. Maka penyesalan itu dipelihara dengan dua cabangnya, yaitu buahnya dan apa yang membuahkannya.”

Seperti diutarakan Sayyid Abdul Aziz al-Darani, bahwa sejak dini, setiap saat, dari mulai baligh sampai ajal menjemput agar taubat terus menerus dilakukan . Allah SWT dan Rasullah SAW tidak pernah mensyaratkan “tua” sebagai salah satu syarat diterimanya taubat. Taubat bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, bahkan bagi orang yang merasa dirinya tidak pernah melakukan dosa. Dia harus taubat dari perasaannya itu, karena tidak ada manusia yang tidak membawa beban dosa selain para malaikat.

Dalam rangka pertaubatan tersebut, salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca adalah perbanyak memohon ampunan, sebagaimana salah satu doa berikut:  Wahai Allah. Sesungguhnya Engkau maha pengampun serta suka mengampuni, maka ampunilah aku.

Di antara aktifitas yang sangat penting dan berbobot tinggi, namun ringan dilakukan oleh umat Islam adalah memperbanyak dzikir, doa dan istighfar. Sepertiga malam terakhir, yaitu ketika Allah SWT- turun ke langit dunia dan berkata: “Siapa yang bertaubat? Siapa yang meminta? Siapa yang memanggil, sampai waktu shubuh” (HR Muslim) dan memperbanyak istighfar . Allah SAW berfirman , “dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariat 18), yang dilakukan pada hari Jum’at, yaitu disaat-saat terakhir pada sore hari Jum’at. Dan duduk untuk dzikir, do’a dan istighfaar di masjid, yaitu setelah menunaikan shalat Shubuh sampai terbit matahari.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Barangsiapa shalat fajar berjama’ah di masjid, kemudian tetap duduk berdzikir hingga terbit matahari, lalu shalat dua rakaat, maka seakan=akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna” (HR At-Tirmidzi).

*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister
Ekonomi Pembangunan FEB UGM .

Pos terkait