Ikhlas dalam Kehidupan oleh Dede Supriatna

Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Tulisan ini lahir bermula dari ustad Roni Rodiana mengirim WA tentang ‘Ikhlas’ dimana perasaan seringkali terjebak dalam rasa lelah karena terlalu berharap pada apresiasi manusia. Padahal, ada dua kunci ketenangan yang sering kita lupakan Ikhlas dan Ridho.

Ikhlas adalah tentang niat. Melakukan yang terbaik semata-mata karena Allah SWT , tanpa perlu pengakuan dunia. Ridho adalah tentang hati. Menerima apa pun ketetapan Allah SWT setelah kita berikhtiar, tanpa ada rasa kecewa. Intinya belajar ikhlas saat beraksi, belajar ridho saat menerima hasil. Jika keduanya sudah ada di hati, maka tidak ada lagi ruang untuk rasa kecewa.

Khusus tentang Ikhlas mari telusuri Ikhlas dalam kehidupan. Mengutip Humas Baznas Trenggalek, dijelaskan bahwa dalam Islam, nilai suatu amal tidak diukur dari besar kecilnya, melainkan dari niat dan keikhlasannya. Ikhlas bukan hanya soal berbuat baik tanpa pamrih, melainkan juga tentang menjaga hati agar setiap amal yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

Dalam dunia yang penuh kepentingan dan godaan, memahami arti ikhlas dalam kehidupan menjadi kunci agar seorang muslim dapat hidup dengan ketenangan, keberkahan, dan kedekatan dengan Alllah SWT.

Ikhlas bukan sekadar sifat, tetapi refleksi dari kedalaman iman seorang hamba kepada Tuhannya. Seseorang yang memahami arti ikhlas dalam kehidupan akan terbiasa merendahkan hatinya.

Ia tidak mudah merasa lebih baik dari orang lain, karena ia sadar bahwa semua kebaikan berasal dari Allah SWT, bukan semata dari dirinya. Ketika seseorang ikhlas, ia tidak butuh pengakuan atau penghargaan. Ia berbuat baik karena kewajiban sebagai hamba, bukan untuk mendapatkan status sosial.

Arti ikhlas dalam kehidupan juga terlihat dari bagaimana seseorang menghadapi kesuksesan. Orang yang ikhlas tidak sombong ketika berhasil, karena ia tahu semua itu hanya titipan dari Allah SWT.

Sebaliknya, ketika gagal, ia tidak putus asa karena yakin bahwa Allah SWT memiliki rencana terbaik. Sikap seperti ini hanya mungkin muncul dari hati yang ikhlas dan berserah diri kepada Allah SWT .Dengan keikhlasan, seseorang bisa menjaga diri dari penyakit hati seperti riya, ujub, dan takabur.

Ia belajar bahwa kemuliaan sejati bukan pada penilaian manusia, tetapi pada keridhaan Allah SWT. Dalam Islam, nilai suatu amal tidak diukur dari besar kecilnya, melainkan dari niat dan keikhlasannya.

Arti ikhlas dalam kehidupan adalah memahami bahwa amal kecil yang tulus bisa lebih besar nilainya daripada amal besar yang dilakukan dengan pamrih. Contohnya, sedekah seribu rupiah yang diberikan dengan ikhlas bisa lebih berharga di sisi Allah SWT daripada sedekah jutaan rupiah yang dilakukan untuk pamer.

Arti ikhlas dalam kehidupan juga mengajarkan kita untuk tidak menghitung pahala dari setiap perbuatan baik. Tugas manusia hanyalah berbuat dengan tulus, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman: “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.( Al Kahfi : 110) ”.

Ayat ini menegaskan bahwa amal yang ikhlas akan memiliki nilai abadi, menjadi tabungan akhirat yang tak akan hilang meski dunia berakhir. Orang yang ikhlas menerima ujian dengan penuh tawakal, karena ia tahu bahwa setiap cobaan adalah bentuk kasih sayang Allah SWT yang ingin mengangkat derajat hambanya. Keikhlasan membuat seseorang tidak mudah menyerah.

Ia yakin bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluar, sebagaimana janji Allah SWT dalam surat Al-Insyirah ayat 6: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. Dengan keikhlasan, ujian bukan lagi beban, tetapi menjadi ladang pahala dan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bersyukur tidak hanya dilakukan saat mendapatkan nikmat, tetapi juga saat diuji. Di sinilah arti ikhlas dalam kehidupan diuji — apakah seseorang benar-benar bersyukur atas segala ketentuan Allah SWT. Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas akan membawa keberkahan. Arti ikhlas dalam kehidupan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga dalam pekerjaan, keluarga, dan hubungan sosial.

Orang yang bekerja dengan ikhlas akan merasa tenang, karena ia tidak bekerja semata-mata demi uang, melainkan sebagai bentuk ibadah. Ia percaya bahwa hasil terbaik akan datang dari Allah SWT . Arti ikhlas dalam kehidupan juga terlihat dalam rumah tangga. Suami atau istri yang ikhlas dalam menjalankan perannya akan menciptakan keharmonisan dan kasih sayang yang tulus.

Dalam bermasyarakat, keikhlasan menumbuhkan kepercayaan dan rasa saling menghargai. Amal yang dilakukan tanpa pamrih akan menebar kebaikan yang luas. Keberkahan itu hadir bukan karena jumlah, tetapi karena kualitas amal yang tulus. Itulah rahasia kehidupan yang diridhai Allah SWT.

Pada akhirnya, arti ikhlas dalam kehidupan mengantarkan manusia menuju tujuan tertinggi: ridha Allah dan surga-Nya. Amal tanpa ikhlas mungkin tampak besar di dunia, tetapi tidak akan memiliki nilai di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang ikhlas dan hanya mengharap wajah-Nya.” (HR. Nasa’i).

Orang yang ikhlas akan selalu memperbaiki niatnya, karena ia tahu bahwa surga hanya diperuntukkan bagi mereka yang memurnikan ibadahnya untuk Allah SWT. Arti ikhlas dalam kehidupan membuat seseorang beramal tanpa mengharapkan balasan duniawi, karena ia yakin bahwa balasan terbaik akan diberikan di akhirat.

Menurut Muhammad Aiz Luthfi, Kemenag, Ikhlas adalah amal ibadah yang dilakukan oleh hati, nilai ibadah yang dilakukan oleh raga sangat bergantung pada nilai ikhlas yang ada dalam hati seorang mukmin. Berkaitan dengan ikhlas, Syekh Nawawi Al-Bantani membaginya menjadi 3 tingkatan, hal ini sebagaimana diungkap dalam kitab Nurudh Dholam (Syekh Nawawi Al-Bantani, Nurudh Dholam, [Kediri: PPA, tt], halaman 44), sebagaimana berikut
Ikhlas karena Allah SWT menempati posisi pertama dan utama.

Ikhlas dalam kelompok ini adalah seorang mukmin ketika beribadah kepada Allah SWT dan melakukan amal saleh, sama sekali tidak mengharapkan apapun kecuali ridla Allah SWT , tidak juga mengharapkan pahala surga atau untuk menghindari siksa neraka.

Menurut Syekh Nawawi, ikhlas seperti ini berada pada tingkatan tertinggi.  Ikhlas karena akhirat tingkatan ikhlas kedua adalah beribadah dan beramal saleh karena mengharapkan pahala, mendapatkan surga, dan takut pada siksa neraka.

Syekh Nawawi menyebut, tingkatan ikhlas ini berada pada tingkatan menengah. Ikhlas karena dunia tingkatan ikhlas terakhir adalah beribadah karena mengharapkan balasan di dunia, misalnya seseorang melakukan ibadah membaca Surat Al-Waqi‘ah dengan harapan bisa mendapat kekayaan, mengeluarkan sedekah berharap mendapat rezeki yang berlipat ganda, dan seterusnya.

Menurut Syekh Nawawi, ikhlas seperti ini adalah ikhlash yang berada pada tingkatan paling rendah.*

*Penulis Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023
dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

 

Pos terkait