Tragedi Longsor Menjadi Akhir Cerita Jalur Kereta Api Bandung Selatan (bagian 2)

Sisa rel kereta api yang terputus setelah dibangun rumah penduduk di daerah Sadu, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung/Dicky Mawardi/Satumedia

SATUMEDIA – Kereta api sebagai alat transportasi berdaya angkut banyak, murah, dan tak kenal macet, pernah juga dinikmati warga Bandung Selatan. Bagi masyarakat Bandung Selatan pada dekade 1950 sampai 1972 ketika hendak berpergian ke Kota Bandung selalu menggunakan kereta api.

Menurut Umar warga Ciwidey, setiap harinya kereta api lokomotif melayani tiga kali trayek Stasiun Kota Bandung-Ciwidey. Kereta api lokomotif tersebut berangkat dari Ciwidey mulai pukul 05.00 WIB.

Selain mengangkut penumpang, kereta api lokomotif ini juga membawa rangkaian gerbong pengangkut teh dan kayu. Suasana dalam gerbong tak jauh berbeda dengan sekarang.

Ketika itu pedagang asongan sudah ada. Perbedaannya hanya satu, meski penuh tapi enggak ada penumpang yang nekad naik ke atas gerbong.

Saksi hidup lainnya, Eman (71) warga Kampung Cileutik, Desa Banjaran Wetan, Kecamatan Banjaran, sempat menjadi bagian hidup dari kereta api lokomotif tersebut. Betapa tidak, Eman muda pernah
menjadi pedagang asongan di Stasiun Banjaran. Ia menjual makanan “ganepo” yang terbuat dari tepung terigu. Harganya Rp 5 ketip/buah.

“Ketika itupun penumpang kereta api sudah lumayan banyak, tapi aman. Beda dengan sekarang, naik kereta api perlu waspada jangan sampai dompet berpindah tangan. Dulu yang namanya copet nyaris tidak ada. Selama saya jualan tak pernah mendengar ada orang yang kecopetan,” kata Eman.

Namun, kereta api itu kini telah menjadi bagian dari catatan sejarah masa lalu. Sejak tahun 1972 pemerintah menutup jalur Stasiun Bandung-Ciwidey. Penutupan itu dilakukan setelah jalur kereta api di Kampung Cukanghaur, Desa Sukajadi, Kecamatan Soreang mengalami longsor dan menggulingkan lokomotif pengangkut kayu.

Empat orang meninggal dalam peristiwa yang ketika itu tergolong besar tersebut. Kepala Stasiun Ciwidey, Adromi ikut menjadi korban dalam kejadian itu. Jalur kereta api yang terputus akibat longsor hingga sekarang tak diperbaiki .

Sejak saat itulah otomatis jalur Stasiun Bandung-Ciwidey tak lagi beroperasi. Kejayaan itu, kini tinggal menyisakan rangkaian rel yang nyaris sudah hilang, jembatan, dan bangunan eks stasiun yang telah berubah fungsi.

Di atas rel kereta api sudah berdiri bangunan, terutama rumah penduduk. Begitupun dengan bangunan stasiunnya telah mengalami perubahan fungsi. Bahkan bangunan itu telah tak terawat dan lapuk termakan usia.(Tamat)*

Pos terkait