SATUMEDIA.ID – Keberadaan kereta api sebagai alat transportasi darat kian hari semakin diminati. Sebagai angkutan massal, selain memiliki ketepatan waktu juga tak mengenal macet.
Bahkan kini, kereta api di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Kereta api kelas ekonomi yang tadinya tak ber-AC, cukup mengandalkan angin “gelebug” dari jendela sudah tak ada lagi. Semua sudah berpendingin udara.
Selain semakin nyaman, kelebihan lain selama perjalanan penumpang tak perlu kesal karena terjebak kemacetan yang kerap dialami angkutan transportasi darat lainnya.
Dan tentunya, ketika naik kereta api tak ada waktu yang tersita untuk mengisi bahan bakar selama perjalanan. Lho kok bisa?
Memang ketika bepergian naik kereta api, sangat jarang terjadi kereta api berhenti apalagi sampai mogok kehabisan bensin alias bahan bakar.
Dalam keadaan normal, sebagaimana dikutip dari laman PT KAI, lokomotif kereta tidak akan kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan karena masinis selalu memantau jumlah bahan bakar yang tersedia melalui layar monitor/smart display/fire screen.
Namun, jika terjadi kendala yang mengakibatkan kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan, masinis akan berkoordinasi dengan unit terkait untuk mendapatkan izin pengisian bahan bakar di lokasi yang dilengkapi dengan fasilitas pengisian bahan bakar terdekat sebelum bahan bakar benar-benar habis.
Pengisian bahan bakar hanya dapat dilakukan di depo lokomotif, depo kereta, pengawas urusan sarana (PUS), pengawas urusan kereta (PUK), dan di balai yasa yang dilengkapi dengan fasilitas pengisian. Saat ini terdapat 47 lokasi di wilayah operasional KAI yang memenuhi standar tersebut.
Kapasitas tangki bahan bakar pada lokomotif bervariasi tergantung pada jenisnya, namun rata-rata berkisar antara 3000-3800 liter. Untuk lokasi tangki bahan bakar pada lokomotif terletak di bagian tengah bawah, antara bogie 1 dan bogie 2.
Pengisian bahan bakar disesuaikan dengan jarak yang akan dilayani oleh kereta api. Untuk mengetahui jarak yang dapat ditempuh dengan bahan bakar yang terisi penuh, hal ini tergantung pada jenis lokomotifnya karena SFC (Specific Fuel Consumption) dari masing-masing jenis lokomotif berbeda.
Namun, untuk perkiraan rata-rata, jarak yang dapat ditempuh dengan kapasitas bahan bakar penuh sekitar 3000 liter adalah sekitar 1.034 KM. KAI menggunakan SAP Personas untuk menghitung kebutuhan bahan bakar dengan presisi sehingga tidak akan kehabisan bahan bakar ditengah perjalanan.
Lokomotif umumnya menggunakan bahan bakar jenis High Speed Diesel (HSD), namun saat ini beralih ke Bio Solar (B35) untuk mendukung program penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN). Bio Solar merupakan bahan bakar alternatif yang terbuat dari campuran bahan bakar fosil dan bahan organik seperti minyak kelapa sawit atau limbah tumbuhan. Penggunaan Bio Solar membantu mengurangi jejak karbon dan mendukung keberlanjutan lingkungan.
Ternyata pula, pengisian bahan bakar pada lokomotif verbeda dengan pengisian bahan bakar pada motor atau mobil, proses pengisian pada lokomotif memiliki karakteristik yang khas serta memerlukan keahlian khusus.
Proses pengisian dimulai dengan memposisikan lokomotif tepat pada jalur pengisian bahan bakar. Petugas akan mengamankan lokomotif selama proses ini berlangsung. Kemudian, mereka akan memastikan jumlah bahan bakar yang tersedia dan menentukan jumlah yang perlu ditambahkan.
Pengisian tidak bisa sembarangan harus dilakukan oleh petugas khusus menggunakan peralatan seperti nozzle gun, flow meter, dan fuel pump. Proses pengisian bahan bakar dilakukan oleh petugas khusus yang memiliki kompetensi khusus dan telah dilatih oleh PT Pertamina Patra Niaga. Petugas ini harus memiliki kompetensi khusus dan terlatih. Mereka bertanggung jawab untuk memastikan keselamatan, manajemen lingkungan, ketersediaan bahan bakar, dan keandalan peralatan.
Vice President Public Relations KAI Joni Martinus mengatakan pengisian bahan bakar pada lokomotif kereta api adalah proses yang sangat penting dan memerlukan keahlian khusus serta perencanaan yang matang untuk menjaga kelancaran perjalanan. Dengan pemahaman yang baik mengenai proses ini, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan keamanan operasional kereta api secara keseluruhan.
“Dengan memilih bahan bakar yang ramah lingkungan, menggunakan prosedur yang aman, dan melibatkan petugas yang terlatih, KAI berkontribusi pada upaya global untuk menjaga kelestarian lingkungan,” kata Martinus.*

