SATUMEDIA.ID – Selama ini, usia 18 tahun kerap dianggap sebagai batas seseorang memasuki fase dewasa. Namun, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet menunjukkan bahwa perjalanan menuju kedewasaan ternyata jauh lebih panjang. Perubahan pada otak, terutama yang berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan, mengendalikan emosi, dan menahan diri, masih terus berlangsung hingga seseorang memasuki usia 30-an.
Temuan tersebut turut mendorong para peneliti untuk melihat masa remaja dari sudut pandang yang berbeda. Mereka mengusulkan bahwa fase remaja dapat berlangsung sejak usia 10 hingga 24 tahun. Setelah itu, seseorang masih berada dalam periode transisi menuju kedewasaan yang prosesnya dapat berlanjut hingga sekitar usia 30–34 tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa kedewasaan bukan sekadar persoalan bertambahnya usia atau perubahan biologis. Kemampuan seseorang dalam mengelola emosi, menentukan pilihan, serta mengendalikan perilaku juga berkembang secara bertahap seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam otak.
Di sisi lain, faktor sosial turut memainkan peran penting dalam perjalanan tersebut. Pendidikan, pekerjaan, hubungan, kondisi ekonomi, hingga tuntutan kehidupan sehari-hari dapat membuat proses menuju kehidupan dewasa berlangsung lebih panjang. Jadi, jika di usia 20-an seseorang masih merasa sedang mencari arah hidup, kondisi tersebut bisa jadi merupakan bagian dari proses perkembangan yang memang belum sepenuhnya selesai.*