Perkiraan Kehancuran Israel: Antara Tafsir dan Batas Pengetahuan Manusia oleh Dede Supriatna

Massa Free Palestine Network (FPN) kembali melakukan aksi solidaritas untuk Palestina di Ibu Kota Asia Afrika, Kota Bandung (27/6/2025).(Dok.FPN).**

SATUMEDIA.ID – Eskalasi perang terus meluas, mulai dari Jalur Gaza, Tepi Barat, Lebanon Selatan, hingga Suriah. Menurut data terakhir kementerian Kesehatan Gaza memperkirakan bahwa hingga 16 Februari, setidaknya 72.063 orang telah tewas (mati syahid) sejak awal perang, belum termasuk korban luka.

Hati terasa miris melihat korban dan penderitaan mereka. Berbagai tuduhan dan penilaian terhadap tindakan Israel layak kita ketahui. Sebagai Muslim, mungkin terbersit pertanyaan: kapan Allah SWT akan membalas pihak-pihak yang berbuat zalim? Namun, kapan terjadinya suatu ketetapan Allah SWT sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya.

Sebagai ikhtiar, mari kita merujuk pada buku “ Mukjizat Al-Quran Yang Tak Terbantahkan karya Yusuf Al-Hajj Ahmad. Disebutkan , Rasulullah SAW bersabda: Hari kiamat belum akan terjadi sampai kaum Muslimin memerangi bangsa Yahudi.

Mereka diserang oleh kaum Muslimin hingga bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun, batu maupun tumbuhan itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, di belakangku ada orang Yahudi. Kemari dan bunuhlah dia!’ kecuali pohon Gharqad. Sebab, pohon Gharqad adalah pohon orang Yahudi.'” (HR. Muslim)”.

Selanjutnya Allah SWT berfirman: “Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, ‘Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak, dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.'” (QS Al-Isra: 4–6).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa AS, sebagaimana termaktub dalam Taurat, bahwa Bani Israil akan melakukan kerusakan dua kali di bumi. Dalam tafsir yang dikutip, kerusakan itu dikaitkan dengan peristiwa sejarah yang membuat mereka kalah, hancur, dan terusir dari negeri mereka.

Setelah bertobat, mereka kembali memperoleh kekuasaan dan kehidupan yang lebih baik. Allah SWT memberi mereka harta, keturunan, dan kekuatan. Namun, ketika mereka kembali berbuat kerusakan, Allah SWT menimpakan hukuman melalui musuh-musuh mereka. Kisah ini dipahami sebagai gambaran bahwa penyimpangan dari petunjuk Allah SWT membawa akibat buruk: kehancuran di dunia dan balasan setimpal di akhirat.

Bentuk pembangkangan yang disebutkan antara lain mengabaikan perintah Allah SWT, mengubah isi Taurat, serta tindakan terhadap sejumlah nabi, termasuk Nabi Zakaria AS dan Nabi Yahya AS, bahkan upaya membunuh Nabi Isa AS. Bani Israil kemudian mengalami perubahan politik dan kekuasaan, antara lain terbaginya kerajaan menjadi dua, yaitu di selatan dan di utara.

Sejarah mencatat peperangan, penaklukan, pembuangan, dan kembalinya sebagian orang Yahudi ke wilayah tersebut. Salah satu peristiwa pentingnya adalah penaklukan Yerusalem oleh Babilonia di bawah Nebukadnezar, yang diikuti pembuangan sebagian penduduk ke Babilonia. Setelah Persia mengalahkan Babilonia, sebagian orang Yahudi diizinkan pulang.

Ayat-ayat ini juga memberi pelajaran: manusia yang mengikuti petunjuk Allah SWT dapat memperoleh kehidupan lebih baik, sedangkan yang menyimpang dan menuruti hawa nafsu dapat mengalami kesulitan dan penderitaan.

Menurut Yusuf Al-Hajj Ahmad, kerusakan pertama Bani Israil terjadi sebelum datangnya Islam. Adapun kerusakan kedua, ada pandangan yang mengaitkannya dengan berdirinya negara Israel di Palestina pada 1948. Setelah pengumuman itu, pecah perang antara Israel dan sejumlah negara Arab.

Konflik tersebut terus berkembang dan melibatkan upaya internasional, termasuk melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, ada pula pandangan berbeda tentang makna kerusakan kedua dalam QS Al-Isra ayat 4–7.

Donny Syofyan, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, berpendapat bahwa kehancuran kedua secara spesifik merujuk pada kehancuran di bawah kekuasaan Romawi pada 70 M, ketika Bait Suci Kedua di Yerusalem dihancurkan. Menurut pandangan ini, Al-Qur’an tidak meramalkan peristiwa masa kini, melainkan merujuk pada rangkaian peristiwa sejarah masa lalu.

Terkait ayat 6, yaitu “Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka…”, ayat tersebut dikaitkan dengan masa setelah pembuangan di Babilonia. Pada masa Persia, sebagian orang Yahudi diizinkan kembali dan membangun kehidupan komunitasnya. Setelahnya muncul berbagai kerajaan dan pemerintahan Yahudi, termasuk Dinasti Hasmonean.

Pada masa Herodes, pembangunan kembali Bait Suci menjadi proyek penting di Yerusalem. Menurut Donny Syofyan, rangkaian ini menunjukkan bahwa kehancuran pertama dan kedua dalam Al-Qur’an dapat dipahami sebagai sejarah masa lalu, bukan semata-mata ramalan masa depan.

Sementara itu, Ustaz Adi Hidayat (UAH), saat menjelaskan QS Al-Isra ayat 7, mengaitkan beberapa fase dengan kondisi dunia saat ini, khususnya Masjid Al-Aqsa dan konflik Israel–Palestina. Allah SWT berfirman: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.” (QS Al-Isra: 7).

UAH membagi pembahasannya menjadi tiga fase: Fase pertama runtuhnya mitos benteng yang tidak tertembus. Fase ini dikaitkan dengan frasa liyasū’ū wujūhakum yang antara lain dipahami sebagai mempermalukan atau menyuramkan wajah.

UAH mengaitkannya dengan peristiwa ketika sistem pertahanan Israel yang dianggap sangat kuat ternyata dapat ditembus oleh serangan kelompok bersenjata pada 7 Oktober 2023, yang menarik perhatian dunia pada konflik Israel–Palestina. Fase kedua kembali menguasai Masjid Al-Aqsa.

Fase ini dikaitkan dengan frasa wa liyadkhulū al-masjida kamā dakhalūhu awwala marrah. UAH mengaitkannya dengan siklus perjuangan Palestina selama 40 tahun. Dengan merujuk perhitungan yang dinisbahkan kepada pendiri Hamas, Syekh Ahmad Yasin, tahun 1987 dipandang sebagai titik awal penting.

Jika dihitung 40 tahun, muncul perkiraan sekitar 2027. Perhitungan ini adalah interpretasi yang dinisbahkan kepada tokoh tertentu, bukan kepastian bahwa suatu peristiwa akan terjadi pada tahun tersebut dan fase ketiga kehancuran dan perang besar. Fase ini dikaitkan dengan bagian ayat yang bermakna kehancuran besar. UAH mengaitkannya dengan kemungkinan perubahan besar dalam keseimbangan kekuatan dunia dan menyebut 2037 sebagai kemungkinan titik penting berdasarkan perhitungan siklus tertentu.

Sekali lagi, ini perkiraan manusia, bukan kepastian tentang masa depan.
Tulisan ini juga mengutip Syekh Ahmad Yasin dalam buku Syaikh Ahmad Yāsīn Syāhidun ‘ala ‘Ashr Al-Intifādhah karya Ahmed Mansour, yang disebut sebagai transkrip wawancara Al Jazeera. Dalam kutipan itu, beliau menyampaikan pandangan bahwa Israel akan lenyap, insya Allah, pada awal abad mendatang, dan secara khusus menyebut tahun 2027.

Terlepas dari berbagai perkiraan tersebut, manusia tidak dapat memastikan kapan peristiwa besar terjadi atau kapan negara Israel akan hancur. Karena itu, perkiraan tentang 2027, 2037, atau tahun-tahun lainnya sebaiknya diposisikan sebagai pendapat, tafsir, atau analisis manusia, dan segala sesuatunya kita kembalikan kepada Allah SWT.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.**

*Penulis Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023
dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM 2012

 

Pos terkait