Pandai Bersyukur

Dede Supriatna.(Dokumen pribadi)**

SATUMEDIA.ID – Tahun 2024 sudah terlewati, ungkapan syukur layak disampaikan kepada Allah SWT karena di sepanjang tahun 2024 sudah menikmati nikmat iman, nikmat Islam, nikmat sehat dan nikmat panjang umur.

Kata syukur sebenarnya berasal dari bahasa Arab yakni syakaro-yaskuru-syukron yang berarti pujian untuk yang memberikan kebaikan. Dalam ajaran agama Islam, syukur adalah ungkapan rasa terima kasih kepada Allah SWT atas kenikmatan yang sudah diberikan.

Bukan hanya sekadar berterima kasih dengan mengungkapkannya dengan mengucapkan Alhamdulillah, namun juga diwujudkan dengan tindakan dan menaikkan ketaatan kita saat beribadah kepada Allah SWT.

Syukur juga satu implementasi sifat Qana’ah yakni salah satu sifat terpuji yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Secara etimologis, qana’ah berarti merasa cukup dengan apa yang ada, tidak tamak, dan selalu bersyukur atas nikmat Allah, baik nikmat yang kecil terlebih nikmat yang besar.

Bersyukur merupakan salah satu sifat orang beriman. Perintah untuk mensyukuri nikmat Allah SWT termaktub dalam Al Quran dan hadits. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya jika kita mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT berikan, Allah SWT akan menambahkan nikmat itu.

Secara spesifik, Allah SWT bahkan memerintahkan manusia untuk banyak bersyukur dan mengingat-Nya, karena semakin banyak Anda mengingat Allah SWT, maka Allah SWT juga akan mengingatnya. Wujud mengingat itu dengan cara dimudahkan urusan dan rezeki dan diberkahinya hidup.

Firman Allah SWT : Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah : 152). Wujud dari Syukur dapat terlihat dari sifat jarang mengeluh. Mengeluh saat hidup sedang di masa sulit adalah hal yang wajar dilakukan. Bagaimanapun sebagai manusia biasa.

Lagi pula, tidak ada juga undang-undang yang melanggar bahwa manusia tidak boleh mengeluh. Namun bukan berarti Anda harus mengeluh setiap lima menit sekali. Mengeluh itu boleh, tapi terlalu sering mengeluh juga berefek buruk pada hidup kita.Mengeluh sesekali memang akan membuat beban kita terasa lebih ringan.

Namun jika terlalu sering, mengeluh juga akan membuat masalah yang sebenarnya ringan jadi terasa lebih berat. Orang yang pandai bersyukur bukan hanya jarang mengeluh, tapi juga pintar melihat sisi positif dari sebuah masalah. Normalnya, ketika seseorang sedang terjebak dalam sebuah masalah, mereka cenderung berhenti di masalah tersebut. Karena hidup tidak selalu mudah, hidup itu seperti roda yang berputar.

Kadang di atas, kadang di bawah, dan memang begitulah kenyataannya. Tidak jarang, saat kondisi kita sedang dibawah, hidup kita berantakan hingga merasa malu meski itu kepada teman-teman sendiri.

Orang yang suka bersyukur tidak akan begitu. Mereka sadar bahwa (lagi-lagi) hidup itu berputar. Sekarang, hidupnya memang sedang dibawah, tapi dia sadar, kondisinya tidak akan selamanya begitu. Selama dia mau berusaha dan berdoa, besok lusa keadaan pasti akan membaik.

Sifat baik lain yang dimiliki oleh orang yang rajin bersyukur adalah, mereka tahu caranya menghargai kebaikan yang datang kepadanya. Meski kebaikan itu kecil bahkan tidak ada artinya di mata orang lain, namun mereka akan tetap menghargainya.

Selain itu, mengucapkan “Terima Kasih” adalah salah satu ungkapan pamungkas mereka saat sebuah kebaikan datang padanya. Hanya karena mereka sering berterima kasih, bukan berarti mereka mengucapkannya asal-asalan, ya! Ketika seseorang yang pandai bersyukur mengucapkan terima kasih, ucapan itu tidak hanya keluar dari mulutnya, tapi juga hatinya.

Selain tidak berlebihan, orang yang rajin bersyukur juga tidak memiliki sifat sombong. Mereka sadar diri, apapun yang dia miliki sekarang hanyalah titipan Tuhan. Namanya titipan, bisa diambil kapan saja oleh pemilik-Nya. Jangankan harta benda, dirinya sendiri bahkan bukan miliknya. Jika semua hal ini milik Tuhan, lantas apa yang harus disombongkan?

Dalam ajaran Islam, ada bagian orang lain dalam setiap rezeki kita. Orang lain siapa? Tentu saja, orang-orang yang lebih membutuhkan dibanding kita. Orang yang suka bersyukur sadar betul hal itu.

Makanya setiap kali dia mendapatkan sebuah kebaikan, entah itu rezeki atau makanan yang lebih, mereka akan dengan senang hati berbagi kepada orang lain.Mungkin rezeki yang diberikan memang tidak banyak, namun bagi orang yang membutuhkan, itu berarti banyak. Lagipula, dengan berbagi, kita sudah menyebarkan kebahagiaan yang kita miliki kepada orang lain.

Orang yang suka bersyukur senang berbagi, pintar menghargai, dan juga memiliki pikiran yang positif. Dengan semua kebaikan itu, mustahil jika dia memiliki hati yang kotor. Sebaliknya, orang yang rajin bersyukur justru memiliki hati dan pikiran yang bersih. Mereka selalu merasa cukup dengan apa yang dia miliki, maka rasa iri dan dengki selalu jauh dari hatinya. Karena hatinya bersih, maka pikiran mereka juga bersih. Dia tidak pernah memiliki pikiran buruk, apalagi sampai ingin mencelakai orang lain.

Pada dasarnya Allâh SWT telah banyak memberikan  nikmat kepada manusia, mulai dari nikmat kesehatan hingga  nikmat berupa uang. Hanya terkadang kita lebih menghitung nikmat yang nampak dihadapan kita saja, sehingga melupakan nikmat yang lainnya.

Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri nikmat yang terlihat kecil seperti nikmat kesehatan jika hanya fokus pada nikmat lahir semata. Dari An Nu’man bin Basyir RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak”. (HR Ahmad ).

Nikmat bukan hanya uang tapi kesehatan dan waktu senggang juga termasuk nikmat, bahkan untuk sehat jika kita bayar butuh biaya yang teramat mahal, namun nikmat ini seringkali kita abaikan. Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, artinya : “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari ) .

Allah SWT berfirman: artinya :“(Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. Ibrahim: 34).

Kunci utama keberkahan atas kenikmatan pada diri kita ialah sikap syukur nikmat. Allâh SWT berfirman artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”.(QS. Ibrahim: 7). Dengan bersyukur, kita tentunya akan selalu merasa cukup dengan rizeki yang diberikan oleh Allâh SWT.

Jangan lupa, kita juga harus mensyukuri nikmat usia, bahkan di sisa-sisa usia . Bukankah sebaik – baik manusia adalah umurnya panjang dan baik amalnya, dan seburuk-buruk manusia umurnya panjang jelek amalnya. Ketika  Allâh SWT masih  memberikan usia panjang pada umatnya, menandakan bahwa  kesempatan  untuk memperbaiki diri masih terbuka lebar.

Karena kalau kita menyadari,  pada hakekatnya umur kita itu justru semakin berkurang dan otomatis jatah hidup kita semakin sedikit.Kalau umur kita  semakin tua  berarti sudah dekat waktu kita untuk menghadap  Allâh SWT . Allâh SWT berfirman artinya : “Itulah surga  yang akan Kami wariskan  kepada hamba-hamba Kami  yang  selalu bertakwa”. (QS. Maryam : 63).

Apa bekal yang nanti kita bawa  kalau kita akan  menghadap kepada-Nya. Tentu tidak lain adalah amal kita pada waktu masih hidup di dunia. Allâh SWT berfirman,artinya :“Dan carilah pada apa yang  telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,  dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan  berbuat baiklah  (kepada orang lain)  sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu,  dan janganlah  kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qasas: 77).

Bersyukur termasuk ke dalam salah satu perintah Allah SWT yang dianjurkan untuk diamalkan. Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dapat diwujudkan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan memanjatkan doa, merutinkan amalan sunnah, jarang mengeluh, tapi juga pintar melihat sisi positif dari sebuah masalah, menghargai kebaikan yang datang kepadanya. Meski kebaikan itu kecil bahkan tidak ada artinya di mata orang lain, namun mereka akan tetap menghargainya.

*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

Pos terkait