Pandai Bersyukur

Dede Supriatna mantan pegawai bank BRI dan alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023.(Dokumen pribadi)**

SATUMEDIA.ID – Sebentar lagi kita sebagai bangsa yang telah merdeka akan merayakan hari ulang tahun ke-79 kemerdekaan Republik Indonesia dengan tema “Nusantara Baru Indonesia Maju”.

Dalam mewujudkan rasa syukur atas kemerdekaan RI, kita sebagai warga negara dapat melakukan beberapa hal, seperti mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan jalan mengisi kemerdekaan sesuai dengan kemampuan, keahlian, dan keterampilan masing-masing, menghormati dan menghargai jasa-jasa para pahlawan pejuang bangsa.

Sebenarnya arti kata ‘syukur’ berasal dari bahasa Arab ‘syakara’ yang artinya membuka. Jika diartikan bebas, maka bersyukur ialah diartikan sebagai kesediaan sikap untuk membuka mata hati dan mengakui semua nikmat dan karunia yang diberikan Allah SWT termasuk kita menikmati merdeka dari penjajah .

Kenapa kita harus bersyukur karena Allah SWT memerintahkan manusia untuk banyak bersyukur dan mengingat-Nya, karena semakin banyak kita mengingat Allah SWT, maka Allah SWT juga akan mengingat kita. Wujud mengingat itu dengan cara dimudahkan urusan dan rezeki kita, dan diberkahinya hidup kita. Sesuai firman Allah SWT “maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah : 152)”.

Pandai bersyukur merupakan ajaran yang sangat penting dalam Islam, sehingga dalam Al Quran dan hadist ia disebut beriringan dengan zikir dan ibadah kepada Allah SWT . Syukur dalam pengertiannya yang komprehensif mencakup perbuatan hati, lisan dan anggota-anggota tubuh yang lain. Namun demikian, banyak orang hanya terpaku pada syukur dengan lisan.

Oleh sebab itu, diperlukan pertolongan Allah SWT agar orang dapat bersyukur dengan benar. Syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah dianugerahkan akan menyebabkan pertambahan nikmat itu di dunia dan pahala di akhirat.

Sebaliknya, sikap kufur terhadap nikmat akan menyebabkan azab dan siksa yang pedih di dunia dan diakhirat. Pandai bersyukur merupakan motif tertinggi dalam ibadah kepada Allah. Ibadah yang dilandasi oleh syukur dapat terjamin kelestarian dan kelangsungannya, karena ia bebas dari pamrih.

Pada dasarnya Allâh SWT telah banyak memberikan  nikmat kepada manusia, mulai dari nikmat kesehatan hingga  nikmat berupa uang. Hanya terkadang kita lebih menghitung nikmat yang nampak dihadapan kita saja, sehingga melupakan nikmat yang lainnya.

Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri nikmat yang terlihat kecil seperti nikmat kesehatan jika hanya fokus pada nikmat lahir semata. Dari An Nu’man bin Basyir RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak”. (HR Ahmad ).

Nikmat bukan hanya uang tapi kesehatan dan waktu senggang juga termasuk nikmat, bahkan untuk sehat jika kita bayar butuh biaya yang teramat mahal, namun nikmat ini seringkali kita abaikan.
Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, artinya : “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari ).

Allâh SWT berfirman: artinya :“(Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. Ibrahim: 34).

Kunci utama keberkahan atas kenikmatan pada diri kita ialah sikap syukur nikmat. Allâh SWT berfirman artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”.(QS. Ibrahim: 7).

Dengan bersyukur, kita tentunya akan selalu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan oleh Allâh SWT. Jangan lupa, kita juga harus mensyukuri nikmat usia, bahkan di sisa-sisa usia kita. Bukankah sebaik – baik manusia adalah umurnya panjang dan baik amalnya, dan seburuk-buruk manusia umurnya panjang jelek amalnya.

Ketika  Allâh SWT masih  memberikan usia panjang pada umatnya, menandakan bahwa  kesempatan  untuk memperbaiki diri masih terbuka lebar. Karena kalau kita menyadari,  pada hakekatnya umur kita itu justru semakin berkurang dan otomatis jatah hidup kita semakin sedikit.

Kalau umur kita  semakin tua  berarti sudah dekat waktu kita untuk menghadap  Allâh SWT . Allâh SWT berfirman artinya : “Itulah surga  yang akan Kami wariskan  kepada hamba-hamba Kami  yang  selalu bertakwa”. (QS. Maryam : 63). Apa   bekal yang nanti kita bawa  kalau kita akan  menghadap kepada-Nya.

Tentu tidak lain adalah amal kita pada waktu masih hidup di dunia. Allâh SWT berfirman,artinya :“Dan carilah pada apa yang  telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,  dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan  berbuat baiklah  (kepada orang lain)  sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu,  dan janganlah  kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qasas: 77).

Bersyukur termasuk ke dalam salah satu perintah Allah SWT yang dianjurkan untuk diamalkan. Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dapat diwujudkan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan memanjatkan doa, merutinkan amalan sunnah, jarang mengeluh, tapi juga pintar melihat sisi positif dari sebuah masalah, menghargai kebaikan yang datang kepadanya. Meski kebaikan itu kecil bahkan tidak ada artinya di mata orang lain, namun mereka akan tetap menghargainya.

*) Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan
Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

Pos terkait