SATUMEDIA.ID – Menurut Ahmad Hanan, sebagian orang mungkin ada yang mengira bahwa orang yang banyak bicara itu adalah orang hebat karena punya banyak pengetahuan dan pengalaman. Namun dalam ajaran Islam, diam dan menjaga lisan dinilai lebih baik karena memiliki sejumlah keutamaan.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam as-Syafi’I, disebutkan bahwa salah satu faedah menjadi orang yang sedikit bicara atau tidak banyak omong adalah bisa menambah kecerdasan akal.
Ada tiga hal yang bisa menambah kecerdasan seseorang: Pertama adalah berkumpul atau duduk bersama ulama, kedua adalah berkumpul dengan orang-orang saleh, dan ketiga adalah meninggalkan pembicaraan yang tidak berarti. Lebih lanjut, dalam keterangan yang sama, disebutkan bahwa siapa pun yang menginginkan agar diberikan hati yang bersinar, hendaknya ia meninggalkan pembicaraan yang sia-sia atau tidak berarti. Jadi barangsiapa yang menginginkan agar Allah SWT menyinari hatinya, maka hendaknya ia berhenti membicarakan hal yang bukan urusannya.
Sayyidina Umar bin Khattab yang merupakan khalifah kedua di masa Khulafaur Rasyidin juga berpesan agar kita menjadi orang yang hemat dalam berbicara, dalam hal ini adalah tidak ikut campur terhadap apa yang bukan menjadi urusan kita.
Artinya: “Sayyidina Umar bin al-Khattab RA menasihati seorang laki-laki dan berkata kepadanya: Janganlah engkau berbicara terhadap apa yang bukan urusanmu, menjauhlah dari musuhmu, waspadalah terhadap temanmu yang dapat dipercaya – sebab tidak ada orang yang dapat dipercaya kecuali orang yang bertakwa kepada Allah SWT , jangan bergaul dengan orang yang bermaksiat karena untuk berhati-hati dari maksiatnya, janganlah kamu membocorkan rahasiamu kepadanya, jangan berdiskusi tentang urusanmu kecuali kepada orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT.
Rasulullah SWT berpesan kepada umat Islam agar bisa menjadi orang yang lebih memilih untuk diam jika tidak bisa berkata yang baik. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam hadits dari Abi Hurairah RA,
Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau memilih untuk diam ..” (HR Bukhari dan Muslim) .
Sabda Rasulullah SAW sangatlah jelas, yaitu memerintahkan kepada umatnya agar bisa menjadi orang yang hemat bicara jika tidak bisa berkata yang baik. Terlebih lagi, apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam hadits “man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir”. Hal ini mengisyaratkan bahwa jika seseorang mengaku sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, tentunya ia akan melaksanakan ajaran yang ada dalam hadits tersebut.
Mengenai ini, Imam al-Ghazali pernah berpesan agar bisa menjaga lisan sehingga tidak sampai merusak urusan kita. Artinya: “Imam Al-Ghazali RA berkata: Jangan membesar-besarkan lisanmu, jangan sampai mereka merusak urusanmu” . Terlebih lagi Rasulullah SAW bersabda:. Artinya: “Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu.” (HR Ahmad).
Untuk itu, sudah seyogyanya kita berusaha untuk menjaga lisan agar diri kita bisa mendapatkan kebaikan, serta bisa termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir karena menjaga lisan kita. Belajar berbicara memang tidak gampang. Tapi, belajar diam juga tidak mudah. Bahkan, bisa jadi jauh lebih sulit.
Selain tidak ada sekolahnya, juga kerap salah menilai. Dalam realitas, orang yang pendiam cenderung dipahami kampungan, bodoh dan tak berpendidikan.
Menurut Dr. Enjang Muhaemin, M.Ag , orang orang yang mengumbar kata seringkali dianggap modern, cerdas, dan berwawasan luas. Padahal, Rasulullah SAW, seperti yang diriwayatkan Ibnu Hibban, menuturkan, “Diam itu hikmah.”
Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah SAW mengingatkan: “Kebanyakan kesalahan anak Adam berasal dari lisannya” (HR Thabrani). Peringatan ini tak banyak diindahkan, kecuali oleh sedikit manusia. As-syafi’i, imam mazhab paling disegani dan banyak pengikutnya hingga saat ini, termasuk kelompok yang sedikit.
Bila hendak berbicara, Imam Syafi’i selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang hendak dikatakanya.“Kalau jelas ada manfaatnya bagi kepentingan umat, baru dia berbicara. Jika tidak, atau merasa ragu baik buruknya, maka kupilih lebih baik menutup mulutku rapat-rapat.
Tentu saja prinsip Imam Syafi’i ini bukan sekadar ucapan tanpa makna, juga bukan tanpa kesadaran. Prinsipnya justru lahir dari kesadaran, keyakinan, dan perenungan yang mendalam pada apa yang dikatakan Rasulullah SAW, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari pembalasan, seyogyanya ia mengucapkan yang baik saja atau pilihlah berdiam diri.” Orang-orang yang menghendaki kebersihan dirinya tetap terjaga, akan begitu ketat menjaga lisannya. Bukan sekadar asal ucap, juga bukan sekadar asal bunyi.
Para pendamba kesufian akan lebih menyukai berzikir menyebut-nyebut nama Allah SWT dari pada bercengkrama tanpa manfaat. Lantaran ucapan lisan, bukanlah sekadar lidah bergoyang, juga bukan sebatas ucapan tanpa makna, karena bagaimana pun, apa yang kita ucapkan dan apa yang kita tuturkan akan dihisab Allah SWT . “Barang siapa yang menjamin kepadaku apa yang ada di antara dua rahangnya (yaitu mulut), dan apa yang ada di antara dua kakinya (yaitu farji), maka aku menjamin surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Betapa indahnya jaminan itu, dan banyak orang yang ingin menggapainya. Namun sayang tak banyak orang yang berusaha sepenuh hati untuk meraihnya. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya: surga menjadi harapan, tapi ucapan dibiarkan tanpa kendali, janji-janji manis sebatas di mulut diobral ke sana ke mari.
Apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan jauh berbeda, dusta menjadi kebiasaan, ingkar janji menjadi tabiat diri.Siapa pun kita, patut segera beristighfar memohon ampunan atas segala ucapan yang sarat dengan dusta dan janji-janji kosong penuh kebohongan.
Peringatan Allah SWT begitu keras:
“Wahai orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. As-Saff ayat 2-3).
Dalam kehidupan sehari-hari, lisan atau perkataan adalah salah satu alat komunikasi yang paling kuat. Kata-kata bisa membangun, namun juga bisa menghancurkan. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan agar tidak menyakiti perasaan orang lain, menyebarkan kebohongan, atau melakukan ghibah (bergunjing).
Salah satu ajaran yang sangat ditekankan oleh Rasululllah SAW adalah menjaga lisan. Kisah Sahabat tentang menjaga lisan menjadi teladan yang sangat berharga bagi umat Islam untuk selalu berhati-hati dalam berbicara. Dalam sejarah Islam,
kisah sahabat tentang menjaga lisan memberikan banyak pelajaran berharga tentang bagaimana para sahabat Rasulullah SAW begitu menjaga perkataan mereka sebagai bagian dari akhlak mulia yang mereka amalkan.
Menjaga lisan adalah salah satu bagian dari akhlak yang sangat ditekankan dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 11: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).”
Dalam ayat ini, Allah SWT melarang perbuatan mengolok-olok, menghina, atau merendahkan orang lain melalui perkataan. Keberadaan lisan yang tidak terjaga bisa menyebabkan perpecahan, kebencian, dan perasaan terluka pada orang lain.
Kisah Sahabat tentang menjaga lisan mengajarkan kita betapa berbahayanya perkataan yang tidak terkontrol dan bagaimana para sahabat Nabi sangat berhati-hati dalam berbicara.
Abu Hurairah adalah salah satu sahabat yang sangat terkenal karena banyaknya hadits yang beliau riwayatkan. Namun, Abu Hurairah juga dikenal sebagai seseorang yang sangat menjaga lisan dan berhati-hati dalam berkata.
Suatu ketika, Abu Hurairah mengatakan: “Saya tidak pernah berbicara kecuali jika saya yakin bahwa itu adalah kebaikan, dan saya akan lebih suka diam daripada mengatakan sesuatu yang sia-sia.” Hal ini menunjukkan bagaimana Abu Hurairah sangat berhati-hati dalam berbicara. Beliau mengutamakan kualitas daripada kuantitas dalam berbicara.
Kisah Sahabat tentang menjaga lisan ini mengingatkan kita untuk selalu berpikir terlebih dahulu sebelum mengucapkan sesuatu, memastikan bahwa kata-kata kita memberikan manfaat dan tidak menyakiti orang lain. Selain itu, Abu Hurairah juga sangat menghindari berbicara tentang hal-hal yang tidak penting.
Ia lebih memilih diam daripada terlibat dalam pembicaraan yang tidak membawa kebaikan. Ini adalah contoh sempurna tentang bagaimana kisah sahabat tentang menjaga Lisan mengajarkan kita untuk memilih kata-kata yang baik dan menghindari pembicaraan yang bisa menimbulkan dosa atau kerugian bagi orang lain.*
*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 J0dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM