Kenali Bahaya Riya

Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Dalam KBBI kata “riya‟ (pamer) berarti menunjukkan (mendemonstraksikan) sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri. Riya sendiri memiliki dua jenis jenis, yaitu riya kholish dan riya syirik.

Riya kholish adalah suatu perbuatan yang dimaksudkan untuk melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari manusia. Sedangkan Riya syirik terjadi jika seseorang menjalani perintah Allah SWT namun dengan niat agar mendapatkan perhatian dan pujian dari orang lain.

Tentu saja hal ini dilarang karena sejatinya amal perbuatan hendaklah diniatkan karena Allah SWT semata. Riya Kholish maupun Riya Syirik sejatimya merupakan suatu amal yang dicela oleh agama, karena ia merupakan akhlak atau karakter yang harus dijauhi oleh umat Islam.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 264, Allah SWT telah berfirman.  Artinya “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.

Allah SWT juga berfirman yang artinya “ Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan ( Q.S. al-Anfal : 47 )”.

Dalam menghadapi Riya , ibadah apapun baik salat, zakat, puasa bahkan haji itu harus didasari ikhlas karena Allah SWT semata. Ini kunci untuk memperoleh pahala.

Rasulullah SAW bersabda ; “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya amalan seseorang itu akan dibalas sesuai dengan apa yang ia niatkan.” Adapun amal perbuatan yang diridhai Allah SWT ialah yang diniatkan kepada Allah SWT semata, dikerjakan dengan ikhlas sesuai dengan kemampuan, tidak pilih kasih, dan merupakan rahmat bagi seluruh alam. Sementara ibadah yang tidak akan diterima oleh Allah SWT merupakan amal ibadah yang dikerjakan dengan niat bukan kepada Allah SWT, tidak ikhlas karena ingin mendapat imbalan (bisa berupa pujian atau penghargaan), serta mengada-ada.

Allah SWT berfirman yang artinya; “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ (dengan shalat itu) dihadapan manusia, dan tidaklah mereka dizkir kepada Allah kecuali sedikit sekali.” (Q. S. An-Nisa’ : 142).

Dari sinilah berangkat pemahaman tentang sikap riya’ sebagai syirik kecil, karena seorang hamba justru tidak benar-benar beribadah kepada Allah SWT , tapi ada yang dituju selain-Nya.

Pada dasarnya, perbuatan riya’ itulah adalah didasarkan daripada niatnya dalam mengerjakan amal ibadah yang ditujukan kepada selain Allah SWT. Oleh karena niat, orang lain tidak akan tahu bahwa apa yang dikerjakan itu tujuannya adalah untuk mendapat pujian.

Sekarang bagaimana agar terbebas dari perbuatan Riya. Dengan cara berdoa kepada Allah SWT agar dihindarkan daripada sifat riya’.Sebisa mungkin menyembunyikan segala macam bentuk ibadah dan amalan. Menumbuhkan semangat beribadah dengan cara memandang kecil kepada amalan-amalan yang sering kita lakukan. Menumbuhkan rasa takut bahwasanya ibadah akan ditolak jika tidak dikerjakan dengan ikhlas hanya kepada Allah SWT.

Selanjutnya jangan terpengaruh orang lain dan sadar bahwa sebaik-baiknya pujian adalah kebaikan di hadapan Allah SWT. Perbuatan riya berbahaya karena merupakan salah satu daripada penyakit hati yang menjadikan seseorang masuk dalam golongan orang munafik. Dan karena riya termasuk dalam perbuatan syirik kecil, maka riya dapat mendatangkan murka Allah SWT. Balasannya tidak lain adalah siksa api neraka.

Rasulullah SAW bersabda :“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,”Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi : yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”. (HR Ibnu Majah).

Selanjutnya dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dan dilepaskan di tengah sekumpulan domba lebih merusak daripada ketamakan seorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya”. [HR Ahmad) .

Rasulullah SAW memberikan permisalan rusaknya agama seorang muslim karena tamaknya kepada harta, kemuliaan, pangkat dan kedudukan. Semua ini menggerakkan riya’ di dalam diri seseorang. Selanjutnya bahaya Riya adalah amal shalih akan hilang pengaruh baiknya dan tujuannya disertai Riya’. Allah SWT berfirman :“Maka celakalah bagi orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan mencegah (menolong dengan) barang yang berguna”. (al Ma’uun: 107).

Sebagaimana Nabi SAW bersabda:“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?” [HR Ahmad,)

Bahaya lain dari Riya yakni mewariskan kehinaan dan kerendahan. Rasulullah SAW bersabda. “Barangsiapa memperdengarkan amalnya kepada orang lain (agar orang tahu amalnya), maka Allah akan menyiarkan aibnya di telinga-telinga hambaNya, Allah SWT rendahkan dia dan menghinakannya”. [HR Thabrani ). Selain itu pelaku Riya’ tidak akan mendapatkan ganjaran di akhirat.

Seperti disampaikan Rasulullah SAW .“Sampaikan kabar gembira kepada umat ini dengan keluhuran, kedudukan yang tinggi (keunggulan), agama, pertolongan dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka melakukan amal akhirat untuk dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat” (HR Ahmad) .

Lalu bagaimana perkara atau amalan yang disangka oleh sebagian orang sebagai perbuatan riya’, padahal sesungguhnya tidak demikian. Perkara-perkara tersebut misalnya pujian manusia atas seorang hamba atas amal baik yang ia lakukan tetapi bukan tujuannya ingin dipuji.

Apabila seseorang mengamalkan sesuatu perbuatan dengan ikhlas dan sampai selesai amal itu pun dilakukan dengan ikhlas, kemudian ada yang mengetahui amal tersebut lalu memujinya, namun ia tidak menghendaki yang demikian itu, maka hal itu tidak termasuk riya’.

Seperti dalam hadits : “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang seseorang yang mengerjakan satu amal kebaikan, lalu orang memujinya?” Beliau menjawab,”Itu merupakan kabar gembira bagi orang mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.” [HR Muslim).

Namun ia tidak berlaku ‘ujub, dan tidak pula sengaja agar orang mengetahui kebaikannya. Dalam perkara lain wajib bagi seorang mukmin atas mukmin lainnya, apabila berbuat suatu kesalahan, hendaklah ia tutupi dan jangan ia tampakkan dosanya. Kemudian ia wajib segera bertobat kepada Allah SWT.

Karena, menceritakan maksiat yang telah terlanjur dilakukan, berarti menyiarkan kekejian di antara kaum mukminin dan akan membuat dia meremehkan batas-batas Allah.

Allah SWT berfirman :“Sesungguhnya orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu disiarkan di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”. (An-Nuur: 24).

Rasulullah SAW bersabda:“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat dzarrah (biji atom)”. Seseorang berkata: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang menyukai pakaiannya bagus dan sandalnya bagus,” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Sesungguhnya Allah indah dan menyukai keindahan; sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. [HR Muslim, Abu Dawud, dan at Tirmidzi)

Di dalam Islam ada beberapa ibadah yang tidak mungkin disembunyikan dalam pelaksanaannya, seperti haji, umrah, shalat Jum’at, shalat berjama’ah yang lima waktu dan lainnya.Seorang muslim tidak dikatakan berbuat riya’, bila ia menampakkan amal-amal ini.

Karena termasuk amal-amal yang wajib ditampakkan dan dimasyhurkan serta melaksanakannya adalah termasuk syiar-syiar Islam. Akan tetapi, jika amal-amal ibadah sunnah, hendaknya disembunyikan, karena tidak tercela bagi orang yang meninggalkannya. Tetapi jika ia menampakkan amal itu dengan tujuan supaya orang lain mengikuti sunnah itu, maka hal itu adalah baik. Sesungguhnya yang dikatakan riya’, yaitu apabila tujuannya menampakkan amal tersebut supaya dilihat, dipuji dan disanjung manusia.
Selamat menunaikan ibadah Ramadhan 1446 H…..

*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

Pos terkait