SATUMEDIA.ID – Dalam kamus besar bahasa Indonesia riya‟ (pamer) berarti menunjukkan (mendemonstraksikan) sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri.
Riya adalah penyakit hati yang perlu kita hindari. Riya sendiri memiliki dua jenis jenis, yaitu riya kholish dan riya syirik. Riya kholish adalah suatu perbuatan yang dimaksudkan untuk melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari manusia.
Sedangkan Riya’ syirik terjadi jika seseorang menjalani perintah Allah SWT namun dengan niat agar mendapatkan perhatian dan pujian dari orang lain. Tentu saja hal ini dilarang karena sejatinya amal perbuatan hendaklah diniatkan karena Allah SWT semata.
Riya Kholish maupun Riya Syirik sejatimya merupakan suatu amal yang dicela oleh agama, karena ia merupakan akhlak atau karakter yang harus dijauhi oleh umat Islam. Riya juga termasuk penyakit hati dan bahkan dikategorikan sebagai perbuatan syirik kecil.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 264, Allah SWT telah berfirman. Artinya “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.
Allah SWT juga berfirman yang artinya “ Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan ( Q.S. al-Anfal : 47 )”.
Menurut Imam Izzuddin bin Abdus Salam, ketika riya menghantui orang yang mau atau tengah beribadah, ada beberapa tindakan yang perlu dilakukan supaya amalannya tetap bernilai di mata Allah SWT.
Ketiga hal ini disebutkan dalam kitabnya Maqashidur Ri‘ayah Li Huquqillah yakni terdapat tiga bentuk riya, pertama yaitu orang yang terbesit riya sebelum mengerjakan amalan dan dia mengerjakan amalan tersebut hanya semata karena riya. Agar selamat, orang semacam ini harus menunda amalannya sampai timbul rasa ikhlas.
Kedua, orang yang timbul di dalam hatinya riya syirik (mengerjakan ibadah karena ingin mengharap pujian manusia selain ridha Allah SWT). Orang seperti ini juga dianjurkan menunda amalan hingga benar-benar ikhlas.
Ketiga, riya yang muncul di saat melakukan aktivitas/amalan. Orang yang dihadang riya di tengah jalan seperti ini, dianjurkan untuk menghalau gangguan itu sambil meneruskan amalannya. Kalau godaaan riya terus hadir, ia tidak perlu menggubrisnya. Insya Allah amalannya diterima karena tetap berpijak pada niatnya semula.
Dalam menghadapi Riya, ibadah apapun baik salat, zakat, puasa bahkan haji itu harus didasari ikhlas karena Allah SWT semata. Ini kunci untuk memperoleh pahala. Ikhlas itu takhollush al-qolbi an syai’in siwa Allahi ( mengosongkan hati dari sesuatu selain Allah SWT ).
Rasulullah SAW bersabda yang artinya; “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya amalan seseorang itu akan dibalas sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Adapun amal perbuatan yang diridhai Allah SWT ialah yang diniatkan kepada Allah SWT semata, dikerjakan dengan ikhlas sesuai dengan kemampuan, tidak pilih kasih, dan merupakan rahmat bagi seluruh alam.
Sementara ibadah yang tidak akan diterima oleh Allah SWT merupakan amal ibadah yang dikerjakan dengan niat bukan kepada Allah SWT, tidak ikhlas karena ingin mendapat imbalan (bisa berupa pujian atau penghargaan), serta mengada-ada.
Allah SWT berfirman yang artinya; “Sesungguhnya orang-rang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ (dengan shalat itu) dihadapan manusia, dan tidaklah mereka dizkir kepada Allah kecuali sedikit sekali.” (Q. S. An-Nisa’ : 142).
Seperti disampaikan tadi perbuatan riya’ termasuk ke dalam syirik kecil sehingga dilarang oleh agama Islam. Dari sinilah berangkat pemahaman tentang sikap riya’ sebagai syirik kecil, karena seorang hamba justru tidak benar-benar beribadah kepada Allah SWT , tapi ada yang dituju selain-Nya.
Ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Allah SWT akan mencabut pahala dari amal baik seorang hamba, jika dilakukan dengan perasaan riya atau pamer. Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau SAW menjawab: “Ar Riya’.”
Berkaitan dengan niat di dalam hati seseorang yang merupakan awal daripada setiap perbuatan yang menyebabkan tidak adanya rasa ikhlas. Dalam sebuah hadist yang artinya; “Aku mendengar Umar bin Khattab berkata di atas mimbar; ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan.” (H. R. Bukhari Muslim.
Pada dasarnya, perbuatan riya’ itulah adalah didasarkan daripada niatnya dalam mengerjakan amal ibadah yang ditujukan kepada selain Allah SWT. Oleh karena niat, orang lain tidak akan tahu bahwa apa yang dikerjakan itu tujuannya adalah untuk mendapat pujian.
Ada baiknya mengenali beberapa perkara yang kebanyakan dikira riya’ , padahal bukan. Misalnya tidak dengan sengaja mendapat pujian dari orang lain atas perbuatan baik yang dilakukan. Dari Abu Dzar: “Ditanyakan kepada Rasulullah SAW. Beritakan kepadaku tentang seseorang yang melakukan amalan kebaikan dan orang-orang memujinya padanya!” Beliau bersabda: “itu adalah kabar gembira yang segera bagi seorang mukmin.” (H. R. Muslim).
Contoh lain Ibadah yang dilakukan dengan giat tidak hanya dihadapan orang lain tapi juga saat sendirian. Membaguskan pakaian bukan untuk pamer atau ingin dipuji melainkan karena Allah SWT menyukai keindahan. Dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda yang artinya;“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”.
Sekarang bagaimana agar terbebas dari perbuatan Riya. Dengan cara berdoa kepada Allah SWT agar dihindarkan daripada sifat riya’.Sebisa mungkin menyembunyikan segala macam bentuk ibadah dan amalan. Menumbuhkan semangat beribadah dengan cara memandang kecil kepada amalan-amalan yang sering kita lakukan.
Menumbuhkan rasa takut bahwasanya ibadah akan ditolak jika tidak dikerjakan dengan ikhlas hanya kepada Allah SWT.Selanjutnya jangan terpengaruh orang lain dan sadar bahwa sebaik-baiknya pujian adalah kebaikan di hadapan Allah SWT.*
*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.




