SATUMEDIA.ID – UEFA tengah bersiap melakukan gebrakan besar dalam penjualan hak siar, yang diperkirakan bisa mendatangkan lebih dari Rp80 triliun per tahun. Klub-klub elite Eropa pun berpeluang besar menikmati pundi-pundi tambahan dari hak tayang digital.
Badan sepak bola Eropa itu menargetkan pemasukan minimal €5 miliar (sekitar Rp85 triliun) setiap tahun dari penjualan hak siar Liga Champions, Liga Europa, dan Liga Konferensi. Angka ini naik signifikan dari kontrak saat ini yang bernilai sekitar Rp58 triliun per tahun, dan kontrak baru tersebut akan mulai berjalan pada tahun 2027.
UEFA akan membuka proses lelang bulan ini dan kemungkinan kontraknya berlangsung hingga enam tahun, menggandakan durasi perjanjian sebelumnya.
Menariknya, satu laga pilihan di setiap putaran kemungkinan akan diperebutkan oleh raksasa platform streaming seperti Amazon, Disney, atau Netflix untuk ditayangkan secara eksklusif.
Penawaran hak siar juga bisa dilakukan lintas pasar besar Eropa yakni Inggris, Spanyol, Prancis, Italia, dan Jerman secara bersamaan.
Distribusi pendapatan saat ini masih menguntungkan para peserta Liga Champions yang menerima 75% dari total, disusul klub Liga Europa (17%) dan Liga Konferensi (8%).
Untuk pasar Inggris, hak siar langsung dipegang TNT dan Amazon Prime, sedangkan BBC Sport menayangkan sorotan pertandingan.
Format liga dengan 36 klub yang sudah diterapkan sejak musim lalu tetap dipertahankan untuk semua kompetisi.
Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, menegaskan pentingnya inovasi dalam penyiaran. Ia menyampaikan:
“Bersama-sama kita membangun sesuatu yang unik dengan ambisi untuk menghadirkan sepak bola yang paling menarik, inovatif, dan mudah diakses demi memperluas sumber pendapatan utama kami”
“[Kami ingin] menginspirasi penggemar baru untuk mengikuti kompetisi kami, meningkatkan interaksi dengan audiens baru di tengah lanskap media dan streaming yang terus berubah, serta memanfaatkan platform digital untuk semakin mendekatkan sepak bola Eropa. Inilah cara kami menjaga sepak bola Eropa tetap berada di puncak.”




