SATUMEDIA.ID – Timnas Indonesia harus menelan kekalahan pahit 2-3 dari Arab Saudi pada laga pembuka ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang digelar di King Abdullah Sports City, Jeddah, Kamis (9/10) dini hari WIB.
Sempat unggul lebih dulu lewat eksekusi penalti Kevin Diks di awal babak pertama, skuad Garuda gagal mempertahankan keunggulan. The Green Falcons bangkit dan membalikkan keadaan menjadi 2-1 lewat gol Al Shamat dan Feras Albrikan sebelum turun minum.
Memasuki babak kedua, Feras Albrikan kembali mencetak gol untuk membawa Arab Saudi menjauh 3-1. Indonesia kemudian memperkecil ketertinggalan melalui penalti kedua Kevin Diks, namun skor 2-3 tak berubah hingga peluit akhir berbunyi.
Hasil ini membuat peluang Indonesia untuk lolos langsung ke putaran final Piala Dunia 2026 semakin menipis. Kekalahan tersebut juga memperpanjang catatan buruk pelatih Patrick Kluivert sejak menggantikan Shin Tae-yong pada Januari 2025. Dari tiga laga tandang yang dipimpinnya, Indonesia selalu kalah dan total sudah kebobolan 14 gol.
Padahal, pada pertemuan sebelumnya di ronde ketiga kualifikasi, Indonesia mampu menahan imbang Arab Saudi di Jeddah dan menang di kandang sendiri ketika masih dilatih Shin Tae-yong. Hal itu membuat publik Tanah Air ramai membandingkan era STY dengan Kluivert, terutama dalam hal strategi dan efektivitas permainan.
Di bawah Shin Tae-yong, Indonesia dikenal mengandalkan effective football dengan formasi 3-5-2, yang fokus pada pertahanan rapat dan serangan balik cepat. Sebaliknya, Kluivert mencoba menerapkan gaya possession football dengan formasi 4-3-3 yang lebih menyerang — namun justru mudah dieksploitasi lawan.
Salah satu keputusan yang paling disorot adalah penempatan Yakob Sayuri sebagai bek kanan, padahal posisi aslinya adalah penyerang sayap. Keputusan ini membuat sisi kanan pertahanan Indonesia kerap ditembus Salem Al-Dawsari dan kolega. Padahal, Kluivert memiliki opsi lain seperti Sandy Walsh, yang sedang tampil impresif di Buriram United, atau Eliano Reijnders yang juga berpengalaman bermain di posisi tersebut.
Selain itu, sektor tengah juga tampil kurang solid. Marc Klok gagal menjalankan peran sebagai gelandang penghubung serangan, sementara duetnya, Joey Pelupessy, juga tidak tampil menonjol sebagai pemutus serangan lawan. Akibatnya, aliran bola dari tengah ke depan kerap terputus.
Dengan hasil ini, laga berikutnya melawan Irak menjadi sangat krusial bagi Indonesia. Patrick Kluivert diharapkan tidak lagi melakukan eksperimen dan mampu membawa timnya meraih kemenangan demi menjaga asa menuju Piala Dunia 2026.*





