SATUMEDIA.ID – Kabar duka menyelimuti sepak bola Indonesia. Kuncoro, asisten pelatih Arema FC di ajang BRI Super League 2025/26, meninggal dunia saat menghadiri rangkaian perayaan 100 tahun Stadion Gajayana, Kota Malang. Acara yang semula berlangsung penuh kegembiraan itu mendadak berubah menjadi momen kehilangan mendalam bagi keluarga besar Arema FC, Aremania, dan insan sepak bola nasional.
Kepergian Kuncoro meninggalkan luka mendalam, mengingat sosoknya dikenal sebagai pribadi yang hangat, humoris, namun tegas dan penuh loyalitas. Ucapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai pihak. General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyampaikan rasa terpukul atas wafatnya sosok yang begitu lekat dengan perjalanan klub. Ia menyebut Stadion Gajayana sebagai tempat bersejarah dalam hidup Kuncoro, dari awal merintis karier hingga mengembuskan napas terakhir.
Nama Kuncoro tak terpisahkan dari Arema FC. Ia pernah menjadi bagian penting skuad Singo Edan pada periode 1991 hingga 1996, sebelum melanjutkan kariernya di sejumlah klub besar nasional seperti Mitra Surabaya, Persija Jakarta, PSM Makassar, Persik Kediri, hingga PSIR Rembang. Sepanjang kariernya, ia turut merasakan atmosfer juara, termasuk gelar Galatama XII 1992/1993 bersama Arema, Liga Indonesia 1999/2000 bersama PSM, serta Liga 2003 bersama Persik Kediri.
Sebagai pemain, Kuncoro dikenal serbabisa dan tangguh, mampu bermain di berbagai posisi mulai dari bek kanan, stoper, hingga gelandang. Ia juga sempat memperkuat Tim Nasional Indonesia di ajang Piala Kemerdekaan 1994 dan Piala Tiger 1998. Usai gantung sepatu, dedikasinya untuk Arema berlanjut di pinggir lapangan sebagai asisten pelatih, bahkan beberapa kali dipercaya menjadi caretaker. Kepergiannya meninggalkan warisan pengabdian, keteladanan, dan kecintaan mendalam terhadap sepak bola Malang dan Indonesia.*





