Kasus Manchester City Memanas, Pochettino Soroti Sistem Pengawasan Premier League

Mauricio Pochettino, pelatih Timnas Amerika Serikat.(instagram @pochettino).**

SATUMEDIA.ID – Mauricio Pochettino ikut angkat bicara mengenai kasus dugaan pelanggaran aturan yang melibatkan Manchester City. Pelatih Timnas Amerika Serikat (USMNT) itu mempertanyakan bagaimana sistem pengawasan Premier League bisa berjalan, terlebih setelah City menghadapi 115 dakwaan terkait dugaan pelanggaran aturan finansial. Menurut Pochettino, persoalan tersebut bukan hanya soal hukuman bagi pihak yang nantinya terbukti bersalah, tetapi juga mengenai efektivitas kontrol kompetisi.

Pochettino membandingkan situasi tersebut dengan kasus Nottingham Forest dan Everton yang sebelumnya mendapatkan sanksi pengurangan poin serta hukuman finansial karena pelanggaran aturan. Ia mengaku heran ketika mendengar banyaknya dakwaan yang diarahkan kepada Manchester City. “Bagaimana hal ini bisa terjadi? Yang paling penting adalah bagaimana semuanya bisa diperbaiki,” ujar Pochettino. Ia juga mempertanyakan mengapa aturan yang begitu ketat dapat diterapkan kepada klub seperti Tottenham saat dirinya masih menangani tim tersebut, sementara sistem pengawasan dalam kasus lain dinilainya menimbulkan banyak pertanyaan.

Mantan pelatih Tottenham dan Chelsea itu kemudian menyoroti dampak yang lebih luas jika seluruh tuduhan terhadap Manchester City nantinya terbukti. Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar menentukan jenis hukuman, sebab hasil pertandingan dan pencapaian yang sudah terjadi di masa lalu tidak mungkin begitu saja dikembalikan. Pochettino bahkan menyebut, apabila seluruh dugaan pelanggaran tersebut terbukti, maka sepak bola Inggris telah melewati periode yang menurutnya mencederai prinsip keadilan olahraga.

Meski begitu, Pochettino mengakui belum ada yang bisa memastikan bagaimana kasus tersebut akan berakhir. Ia menilai hukuman apa pun nantinya tidak akan mampu sepenuhnya mengubah apa yang sudah terjadi di lapangan.

“Jika tuduhan itu terbukti, sangat sulit memperbaiki apa yang telah terjadi. Saya berharap setidaknya kasus ini bisa menjadi pelajaran agar kesetaraan benar-benar diterapkan di masa depan. Bagaimana cara memperbaikinya? Kita tunggu dan lihat,” katanya.*

Pos terkait