SATUMEDIA.ID – Perjalanan Fajar dan Senja Utama Solo telah melewati hampir lima dekade. Dari rangkaian kereta buatan Yugoslavia pada akhir 1970-an, layanan ini kini menggunakan kereta generasi terbaru produksi industri dalam negeri.
Jejak perjalanan tersebut bermula pada 14 Oktober 1978. Saat itu, Senja Utama Solo pertama kali beroperasi melayani rute Solo Balapan-Gambir sebagai kereta kelas bisnis.
Rangkaian yang digunakan ketika itu merupakan kereta buatan Goša, Yugoslavia. Salah satu cirinya adalah delapan jendela pada setiap sisi kereta, yang menjadi bagian dari karakter rangkaian kereta kelas bisnis pada masa tersebut.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, perjalanan panjang layanan tersebut menunjukkan bagaimana pelayanan kereta api antarkota terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
“Selama hampir lima dekade, Fajar dan Senja Utama Solo telah menemani beberapa generasi pelanggan. Perubahan terjadi pada rangkaian, kelas layanan, hingga fasilitas, tetapi nama Solo tetap menjadi bagian dari perjalanan ini,” ujar Anne melalui siaran pers yang dikutip Rabu (30/9/2026).
Pada awal pengoperasiannya, Senja Utama Solo melayani perjalanan malam dari Solo Balapan menuju Gambir. Waktu keberangkatan tersebut kemudian melekat dengan penggunaan nama “Senja”.
Kereta ini menghubungkan Surakarta dan Jakarta melalui sejumlah kota di Pulau Jawa, termasuk Yogyakarta, Purwokerto, dan Cirebon.
Dalam perkembangannya, layanan pada koridor tersebut hadir dalam dua perjalanan dengan nama yang menyesuaikan waktu keberangkatan.
Fajar Utama Solo melayani perjalanan dari Jakarta menuju Solo pada pagi hari, sedangkan Senja Utama Solo beroperasi dari Solo menuju Jakarta pada malam hari.
Saat ini, kedua layanan tersebut melayani perjalanan dengan relasi Pasar Senen-Solo Balapan melalui Yogyakarta dan Purwokerto.
Pernah Gunakan Kereta Tidur
Perjalanan Fajar dan Senja Utama Solo tidak selalu menggunakan satu jenis rangkaian. Memasuki dekade 1990-an, komposisi keretanya sempat mengalami perubahan.
Pada periode tersebut, Senja Utama Solo tercatat pernah membawa kereta eksekutif-A, eksekutif-B, hingga couchette atau kereta tidur yang dilengkapi tempat tidur tetap.
Catatan perjalanan pada 25 November 1994 bahkan mencantumkan tarif layanan couchette sebesar Rp33.000.
Keberadaan kereta tidur tersebut menunjukkan bahwa perjalanan malam Solo-Jakarta pada masa itu tidak hanya menawarkan tempat duduk, tetapi juga pilihan bagi penumpang untuk beristirahat selama perjalanan.
Setelah periode tersebut, layanan kembali menggunakan rangkaian kelas bisnis.
“Setiap masa memiliki karakter pelayanan yang berbeda. Layanan ini pernah melalui fase kereta bisnis, menggunakan kereta eksekutif dan couchette, hingga akhirnya berkembang dengan sarana generasi terbaru,” kata Anne.
Perubahan juga terlihat dari asal rangkaian yang digunakan. Jika pada 1978 Senja Utama Solo mengandalkan kereta buatan Goša dari Yugoslavia, perkembangan berikutnya memperlihatkan semakin besarnya penggunaan produk industri perkeretaapian dalam negeri.
Pada 2016, layanan Fajar dan Senja Utama Solo kembali menghadirkan kelas eksekutif. Dua tahun kemudian, tepatnya 21 Mei 2018, layanan tersebut mulai menggunakan rangkaian berbahan baja nirkarat produksi PT INKA dengan kelas eksekutif dan ekonomi premium.
Perubahan jadwal kembali terjadi ketika Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019 mulai diberlakukan pada 1 Desember 2019.
Sejak saat itu, perjalanan dari Jakarta dijadwalkan pada pagi hari, sementara keberangkatan dari Solo berlangsung pada malam hari.
Penamaan layanan pun semakin identik dengan waktu keberangkatan. Perjalanan pagi dari Jakarta menuju Solo menggunakan nama Fajar Utama Solo, sedangkan perjalanan malam dari Solo menuju Jakarta menggunakan nama Senja Utama Solo.
Dengan demikian, istilah “Fajar” dan “Senja” tidak sekadar menjadi nama kereta, tetapi juga menggambarkan karakter waktu perjalanan masing-masing layanan.
Modernisasi berlanjut pada 31 Januari 2025. Fajar dan Senja Utama Solo mulai menggunakan rangkaian campuran kelas eksekutif dan ekonomi generasi terbaru berbahan baja nirkarat yang diproduksi PT INKA Madiun.
Perubahan itu memperlihatkan perjalanan panjang industri perkeretaapian Indonesia.
Pada awal pengoperasiannya, Senja Utama Solo menggunakan rangkaian produksi Yugoslavia. Hampir lima dekade kemudian, layanan tersebut menggunakan sarana generasi terbaru yang diproduksi di dalam negeri.
Selain mengalami perubahan sarana dan layanan, Fajar Utama Solo juga masih mencatat permintaan perjalanan yang cukup tinggi.
Data KAI menunjukkan, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Fajar Utama Solo melayani 148.669 pelanggan.
Jumlah tersebut meningkat 7,65 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebanyak 138.102 pelanggan.
Rinciannya, jumlah pelanggan pada Januari 2026 mencapai 17.540 orang, Februari 14.036 orang, Maret 21.068 orang, April 18.049 orang, Mei 18.995 orang, Juni 20.335 orang, Juli 19.656 orang, dan Agustus 18.990 orang.
Maret menjadi bulan dengan jumlah pelanggan terbanyak selama periode tersebut, yakni 21.068 orang.
Secara keseluruhan, terdapat tambahan 10.567 pelanggan dibandingkan periode Januari-Agustus tahun sebelumnya.
Data tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang layanan yang telah beroperasi sejak 1978.
Hampir 48 tahun setelah Senja Utama Solo pertama kali melintas dengan kereta bisnis buatan Yugoslavia, layanan Fajar dan Senja Utama Solo kini hadir dengan rangkaian generasi terbaru produksi dalam negeri.
Perubahan rangkaian, kelas pelayanan, jadwal, hingga stasiun terminus menjadi bagian dari perjalanan layanan tersebut. Namun, koridor yang menghubungkan Jakarta dan Surakarta tetap menjadi bagian penting dalam mobilitas masyarakat.
“Perjalanan panjang Fajar dan Senja Utama Solo masih berlanjut karena layanan ini tetap dipilih pelanggan. KAI akan mempertahankan identitas historisnya sekaligus melakukan pengembangan layanan agar sesuai dengan kebutuhan pelanggan,” ujar Anne.*




