SATUMEDIA.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ekosistem riset energi nasional. Melalui Pusat Riset Material Energi di bawah Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM), BRIN kini fokus mengembangkan material aktif untuk baterai generasi baru yang lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan.
Penelitian yang dilakukan mencakup pengembangan katoda nikel tinggi (Ni-rich NMC) untuk kapasitas energi lebih besar, anoda berbasis Li₄Ti₅O₁₂ (LTO) yang memiliki stabilitas tinggi, serta elektrolit padat Li₃PO₄ hasil sintesis metode Spark Plasma Sintering (SPS). Sejumlah inovasi tersebut bahkan telah menghasilkan paten nasional dan publikasi ilmiah internasional bereputasi.
“Inovasi ini berpotensi besar menghasilkan baterai masa depan yang lebih aman dan berdaya tahan tinggi,” ujar Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, Peneliti Ahli Utama BRIN, dalam Workshop rangkaian kegiatan International Seminar on Material and Metallurgy (ISMM) yang berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie, Serpong, 4–6 November 2025.
Selain di sisi riset material, BRIN juga memperkuat fasilitas pengujian performa dan keselamatan baterai. Bersama mitra industri, BRIN telah mengembangkan laboratorium pengujian yang mencakup uji sel dan paket baterai (battery cell & pack testing), getaran, kejut mekanik, serta ketahanan terhadap suhu ekstrem.
Fasilitas ini menjadi rujukan penting dalam standarisasi baterai nasional serta mendukung penerapan regulasi keamanan internasional, seperti UNR 100 dan UNR 136 yang digunakan pada kendaraan listrik global.
Menurut Prof. Evvy, penerapan UNR 136 memiliki peran vital untuk menjamin keselamatan sistem penyimpanan energi listrik (Rechargeable Electrical Energy Storage System/RESS) pada kendaraan listrik. Regulasi tersebut mengatur berbagai uji penting, mulai dari getaran, kejut mekanik, thermal shock, overcharge, over-discharge, hingga ketahanan terhadap kebakaran.
“Setelah melalui seluruh pengujian, baterai tidak boleh menunjukkan tanda kebocoran elektrolit, ledakan, atau kebakaran. Standar ini menjadi tolok ukur utama keselamatan kendaraan listrik,” tegasnya dikutip dari laman BRIN.
Sebagai pelengkap, Indonesia telah mengadopsi regulasi ini ke dalam SNI 8872:2020 yang disusun oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Standar nasional tersebut menjadi pedoman utama bagi produsen dan lembaga pengujian di Tanah Air untuk menilai performa dan keamanan baterai kendaraan listrik.
Implementasi SNI 8872:2020 tidak hanya memastikan kesesuaian produk dengan standar global, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk mendorong kemandirian industri baterai nasional, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia.
“Penerapan standar UNR 136 dan SNI 8872 menjadi langkah strategis agar produk baterai Indonesia dapat bersaing di pasar global sekaligus menjamin keamanan pengguna kendaraan listrik,” jelas Prof. Evvy.
Di sisi lain, Prof Evvy menjelaskan bahwa baterai litium-ion (Li-ion) adalah tulang punggung utama dalam pergeseran menuju energi bersih. Baterai ini memiliki kepadatan energi tinggi, efisiensi pengisian cepat, serta umur pakai yang panjang, menjadikannya pilihan utama untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan sistem penyimpanan energi (energy storage system/ESS).
“Baterai litium-ion bukan sekadar komponen teknologi, tetapi merupakan elemen strategis dalam upaya dekarbonisasi transportasi dan kemandirian energi nasional,” ujar Prof. Evvy.
Teknologi Li-ion tersusun atas empat komponen utama—katoda, anoda, elektrolit, dan separator. Katoda berfungsi sebagai sumber ion litium dengan material berbasis logam oksida seperti NMC (Nickel Manganese Cobalt Oxide) dan LFP (Lithium Iron Phosphate).
Sementara anoda umumnya berbahan dasar grafit, dan elektrolit cair berperan mengalirkan ion litium antar elektroda. Untuk meningkatkan keselamatan, riset terkini di BRIN juga mengembangkan elektrolit padat (solid-state electrolyte) berbasis Li₃PO₄, yang memiliki stabilitas termal lebih baik dan tidak mudah terbakar.*





