SATUMEDIA.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya potensi likuefaksi di sejumlah wilayah Cekungan Bandung apabila terjadi gempa kuat yang bersumber dari Sesar Lembang.
Dalam skenario gempa bermagnitudo 6,8 dengan percepatan tanah lebih dari 0,2 g, penurunan permukaan tanah akibat likuefaksi diperkirakan dapat mencapai 40 sentimeter di lokasi tertentu.
Temuan tersebut merupakan hasil kajian Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan British Geological Survey (BGS).
Kepala PRKG BRIN Adrin Tohari mengatakan, penelitian yang dilakukan selama dua tahun itu tidak hanya mengkaji sumber gempa dari Sesar Lembang, tetapi juga dampak guncangan serta potensi bahaya ikutan, termasuk longsor dan likuefaksi.
“Hasil penelitian ini kami sampaikan kepada masyarakat agar informasi mengenai potensi bahaya gempa dapat dipahami dan menjadi dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah Bandung Raya,” kata Adrin dikutip dari laman BRIN, Sabtu (26/7/2026).
Menurut Adrin, karakteristik geologi Cekungan Bandung menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika gempa kuat terjadi.
Sebagian wilayah cekungan tersusun oleh endapan Danau Purba yang terdiri dari lapisan lempung dan pasir. Pada sejumlah lokasi, lapisan pasir tersebut masih bersifat lepas dan belum mengalami pemadatan secara optimal.
Kondisi itu dapat meningkatkan potensi terjadinya likuefaksi saat tanah diguncang gempa.
“Ketika terjadi gempa, lapisan pasir yang lepas dan jenuh air dapat kehilangan kekuatannya. Perilakunya kemudian menyerupai cairan sehingga material tanah dapat bergerak atau bahkan menyembur ke permukaan,” ujar dia.
Fenomena tersebut dapat menyebabkan sejumlah dampak, mulai dari penurunan permukaan tanah, pergerakan lateral, semburan pasir hingga kerusakan bangunan dan infrastruktur.
Untuk mengidentifikasi potensi tersebut, tim peneliti melakukan pemboran di sembilan titik di kawasan Cekungan Bandung, khususnya wilayah Kabupaten Bandung.
Sampel dan data hasil pemboran kemudian dianalisis berdasarkan karakteristik butiran tanah serta hasil Standard Penetration Test (SPT). Analisis tersebut digunakan untuk mengetahui ketebalan, kedalaman, dan kepadatan lapisan pasir yang berpotensi mengalami likuefaksi.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat sejumlah lapisan pasir yang memiliki potensi mengalami likuefaksi pada kedalaman tertentu.
Adrin menyebut Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, menjadi salah satu wilayah yang menunjukkan potensi penurunan tanah relatif tinggi dalam skenario gempa tersebut.
Sementara itu, potensi likuefaksi di Desa Padamukti, Kecamatan Solokanjeruk, disebut lebih rendah berdasarkan hasil analisis yang dilakukan.
Meski demikian, Adrin menegaskan hasil penelitian tersebut belum menjadi pemetaan final. Masih diperlukan tambahan data untuk memperoleh gambaran kerentanan yang lebih rinci di seluruh wilayah Cekungan Bandung.
“Perbedaan jenis tanah, ketebalan lapisan, dan tingkat kepadatannya membuat potensi penurunan tidak sama di setiap lokasi. Karena itu, data yang lebih banyak diperlukan untuk menyusun peta mikrozonasi secara lebih detail,” katanya.
Menurut dia, peta mikrozonasi menjadi penting untuk mengetahui wilayah yang memiliki tingkat kerentanan berbeda terhadap penurunan tanah akibat likuefaksi.
Pemetaan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu dasar dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mendukung perencanaan pembangunan dan pengurangan risiko bencana di kawasan Cekungan Bandung.





