GPS Bisa Melenceng hingga Radio Terganggu, BRIN Ingatkan Ancaman Aktivitas Matahari

Gangguan sinyal radio, perubahan koordinat GPS, hingga masalah pada operasional satelit tidak selalu bersumber dari kerusakan perangkat. (Dok.BRIN).**

SATUMEDIA.ID – Gangguan sinyal radio, perubahan koordinat GPS, hingga masalah pada operasional satelit tidak selalu bersumber dari kerusakan perangkat. Aktivitas Matahari juga dapat menjadi pemicu gangguan teknologi di Bumi melalui fenomena yang disebut cuaca antariksa.

Fenomena tersebut menjadi perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) karena dampaknya dapat menjangkau sejumlah infrastruktur penting, termasuk sistem komunikasi, navigasi, satelit, dan jaringan listrik.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa, Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Tiar Dani, mengatakan cuaca antariksa terjadi akibat aktivitas Matahari yang melibatkan plasma, partikel bermuatan, dan radiasi elektromagnetik. Interaksi berbagai unsur tersebut dengan medan magnet Bumi dapat mengubah kondisi lingkungan antariksa.

Tiar menjelaskan, fenomena ini berbeda dari cuaca yang biasa dialami manusia di permukaan Bumi. Jika cuaca Bumi berkaitan dengan kondisi atmosfer, seperti hujan dan suhu udara, cuaca antariksa lebih berhubungan dengan aliran energi dan partikel dari Matahari.

“Perubahan lingkungan antariksa akibat aktivitas Matahari dapat memengaruhi kinerja teknologi yang digunakan sehari-hari. Dampaknya bisa berupa gangguan komunikasi radio, berkurangnya ketepatan navigasi satelit, perubahan orbit satelit, hingga gangguan pada sistem kelistrikan,” kata Tiar dikutip dari laman BRIN, Jumat (23/10/2026).

Hal tersebut disampaikan dalam Pelatihan Dasar Space Situational Awareness (SSA) 2026 yang diselenggarakan BRIN bersama Satuan Antariksa TNI Angkatan Udara (TNI AU) pada 19-22 Oktober 2026 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta.

Empat aktivitas Matahari yang memengaruhi teknologi

Menurut Tiar, terdapat empat fenomena utama yang perlu dipahami dalam pemantauan cuaca antariksa. Keempatnya adalah angin surya (solar wind), ledakan Matahari (solar flare), lontaran massa korona (coronal mass ejection/CME), dan partikel energetik Matahari (solar energetic particles/SEP).

Angin surya merupakan aliran plasma dan partikel bermuatan yang dilepaskan Matahari ke ruang antariksa. Adapun solar flare adalah lonjakan radiasi yang berlangsung secara tiba-tiba dan dapat memengaruhi komunikasi radio.

Fenomena berikutnya, CME, berupa lontaran plasma dan medan magnet dari Matahari. Ketika material tersebut berinteraksi dengan medan magnet Bumi, kondisi ini dapat memicu badai geomagnetik.

Sementara itu, SEP merupakan partikel berenergi tinggi yang dapat meningkatkan risiko radiasi terhadap satelit maupun perangkat yang berada di lingkungan antariksa.

Meskipun memiliki karakteristik berbeda, keempat fenomena tersebut sama-sama berpotensi menimbulkan gangguan apabila aktivitasnya memengaruhi sistem teknologi yang beroperasi di Bumi maupun di ruang angkasa.

Salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah perubahan kondisi ionosfer. Lapisan atmosfer yang mengandung partikel bermuatan ini berperan dalam perambatan sinyal satelit yang digunakan oleh sistem navigasi.

Ketika kondisi ionosfer berubah akibat aktivitas Matahari, perjalanan sinyal GPS dapat mengalami perubahan. Akibatnya, perhitungan posisi oleh perangkat penerima berpotensi menjadi kurang akurat.

Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu penyebab koordinat yang ditampilkan perangkat berbeda dari posisi sebenarnya. Meski demikian, ketidakakuratan GPS juga dapat dipengaruhi faktor lain, seperti kondisi penerimaan sinyal dan lingkungan sekitar.

Aktivitas Matahari juga dapat mengganggu komunikasi radio. Peningkatan radiasi akibat solar flare berpotensi menghambat perambatan gelombang radio, khususnya pada wilayah Bumi yang sedang mengalami siang hari.

Dampak lainnya berkaitan dengan satelit yang mengorbit Bumi. Badai geomagnetik dapat meningkatkan hambatan atmosfer pada satelit di orbit rendah. Jika kondisi ini terjadi, ketinggian orbit satelit dapat berubah sehingga diperlukan penyesuaian lintasan.

Di sektor kelistrikan, perubahan medan magnet Bumi juga berpotensi menghasilkan arus listrik induksi pada jaringan tertentu. Arus tersebut dapat mengganggu pengoperasian jaringan listrik apabila kondisinya cukup kuat.

Tiar menegaskan, berbagai kemungkinan dampak tersebut membuat cuaca antariksa perlu diperhitungkan dalam menjaga keandalan sistem teknologi modern.

Untuk mengurangi risiko gangguan, pemantauan aktivitas Matahari perlu disertai pemanfaatan informasi cuaca antariksa dan peringatan dini.

Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah indeks Kp, yang menggambarkan tingkat aktivitas geomagnetik. Selain itu, peringatan dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat dapat membantu mengidentifikasi jenis fenomena yang sedang berlangsung.

NOAA membagi peringatan cuaca antariksa ke dalam tiga kategori utama, yaitu skala G untuk badai geomagnetik, skala S untuk badai radiasi Matahari, dan skala R untuk gangguan komunikasi radio.

Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menilai potensi dampak aktivitas Matahari terhadap teknologi.

Dalam praktiknya, pemeriksaan gangguan perlu dilakukan secara menyeluruh. Personel dapat menelusuri waktu kejadian, memeriksa kondisi orbit, dan menganalisis telemetri satelit untuk membantu mengidentifikasi sumber masalah.

Pendekatan tersebut diperlukan agar gangguan pada komunikasi, navigasi, atau perangkat antariksa tidak langsung dianggap sebagai kerusakan teknis tanpa mempertimbangkan faktor lingkungan antariksa.

Melalui Pelatihan Dasar SSA 2026, BRIN bersama TNI AU berupaya meningkatkan kemampuan personel dalam memahami aktivitas Matahari, membaca informasi peringatan cuaca antariksa, dan menerapkan prosedur pemeriksaan sesuai kebutuhan operasional.

Peningkatan kemampuan tersebut menjadi penting karena teknologi berbasis satelit kini digunakan dalam berbagai aktivitas strategis.

Dengan memahami cuaca antariksa, potensi gangguan akibat aktivitas Matahari diharapkan dapat dikenali lebih dini. Ketika sinyal radio bermasalah atau koordinat GPS melenceng, faktor cuaca antariksa pun dapat dipertimbangkan sebagai salah satu kemungkinan penyebab sebelum tindakan penanganan ditentukan.*

Pos terkait