Lima Profesor Riset BRIN Ungkap Inovasi, dari Implan Tulang hingga Bioremediasi

Lima peneliti ahli utama BRIN memaparkan hasil penelitian mereka dalam Sidang Terbuka Pengukuhan Profesor Riset di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (8/10/2026).(Dok.BRIN).**

SATUMEDIA.ID – Lima peneliti ahli utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan hasil penelitian mereka dalam Sidang Terbuka Pengukuhan Profesor Riset di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Kelima peneliti tersebut membawa riset dari berbagai bidang, mulai dari material implan tulang, teknologi pengeringan kayu, pemanfaatan teknologi radiasi untuk obat bahan alam, penguatan inklusi keuangan mikro, hingga pemanfaatan enzim untuk pemulihan lingkungan tercemar.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan yakni material implan tulang berbasis logam magnesium yang dapat terdegradasi secara terkendali.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Komposit dan Bio Material BRIN, Iwan Setyadi, melalui orasi ilmiahnya mengangkat penelitian berjudul “Inovasi Material Komposit Biodegradable Berbasis Logam Magnesium untuk Implan Tulang Traumatik”.

Material tersebut dirancang untuk menopang tulang pada fase awal penyembuhan. Setelah fungsi penopang tidak lagi dibutuhkan, material diharapkan dapat terdegradasi secara bertahap sehingga pasien tidak perlu menjalani operasi tambahan untuk mengangkat implan.

Dalam pengembangannya, Iwan menggunakan komposit magnesium-karbonat apatit (Mg-CAp) yang memanfaatkan karbonat apatit berbasis sumber daya lokal.

Penelitian dilakukan secara terpadu, mulai dari formulasi material, fabrikasi, rekayasa permukaan, pengujian biologis hingga perancangan implan.

“Fokus penelitian ini adalah menghasilkan implan yang memiliki kekuatan cukup untuk menopang tulang, tetapi tetap mampu mengalami degradasi secara terkendali seiring proses penyembuhan,” ujar Iwan dalam siaran pers BRIN yang dikutip Jumat (9/10/2026).

Doktor Teknik dari Departemen Teknik Metalurgi dan Material Universitas Indonesia itu mengatakan keseimbangan antara kekuatan mekanik dan kecepatan degradasi menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan material tersebut.

Teknologi pengeringan kayu

Dari bidang kehutanan, Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Efrida Basri, memaparkan inovasi pengeringan kayu dengan memanfaatkan energi surya dan biomassa.

Melalui orasi berjudul “Pengembangan Teknologi Pengeringan Energi Surya-Biomassa dan Modifikasi Kayu untuk Meningkatkan Kualitas Kayu Cepat Tumbuh”, Efrida menjelaskan upaya meningkatkan kualitas kayu sekaligus mengurangi penggunaan energi fosil.

Teknologi tersebut memanfaatkan energi terbarukan dalam proses pengeringan kayu. Limbah biomassa, seperti serpihan kayu, serbuk gergaji dan ranting, juga dapat digunakan sebagai sumber energi.

Pemanfaatan biomassa tersebut dinilai membuka peluang penerapan konsep ekonomi sirkular di industri kayu.

“Teknologi pengeringan berbasis energi surya dan biomassa dapat membantu industri mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus menekan biaya produksi,” kata Efrida.

Menurut dia, pengembangan teknologi tersebut masih membutuhkan dukungan kolaborasi antara industri dan akademisi, kebijakan pemerintah, serta standardisasi dan sertifikasi mutu agar dapat diterapkan secara lebih luas.

Sementara itu, Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Hendig Winarno, mengembangkan pemanfaatan teknologi radiasi pengion untuk meningkatkan mutu dan keamanan obat bahan alam.

Dalam orasi berjudul “Kontribusi Teknologi Radiasi Pengion dalam Meningkatkan Mutu Obat Bahan Alam”, Hendig menjelaskan bahwa iradiasi dapat menjadi alternatif untuk mengurangi cemaran mikroorganisme tanpa proses pemanasan tinggi dan tanpa meninggalkan residu bahan kimia.

Teknologi tersebut mencakup penggunaan sinar gamma, berkas elektron dan sinar-X. Metode itu dinilai berpotensi digunakan pada bahan obat herbal yang sensitif terhadap panas maupun bahan kimia.

Dengan dosis yang tepat, proses iradiasi juga dapat membantu mempertahankan senyawa bioaktif dalam bahan alam, seperti kurkuminoid, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri.

“Teknologi radiasi pengion dapat berkontribusi terhadap peningkatan mutu, keamanan, sekaligus daya saing obat bahan alam Indonesia,” ujar Hendig.

Namun, penerapannya tetap membutuhkan pengaturan dosis yang tepat, validasi proses serta pemenuhan ketentuan regulasi untuk memastikan kualitas dan keamanan produk.

Di bidang ekonomi, Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, Agus Eko Nugroho, menyoroti pentingnya memperkuat inklusivitas pembiayaan bagi pelaku usaha mikro dan kecil.

Dalam orasi berjudul “Memperkuat Inklusivitas Program Kredit dalam Kompleksitas dan Segmentasi Persaingan di Pasar Keuangan Mikro”, Agus memaparkan hasil penelitian empiris selama dua dekade mengenai karakteristik lembaga keuangan mikro, hubungan kelembagaan dan persaingan dalam penyaluran pembiayaan.

Ia menilai kebijakan kredit, termasuk program kredit bersubsidi melalui perbankan, perlu mempertimbangkan karakteristik dan segmentasi pasar keuangan mikro.

“Pemahaman terhadap karakteristik dan dinamika pasar menjadi penting agar kebijakan pembiayaan tidak justru menghambat keberlangsungan lembaga keuangan mikro,” kata Agus.

Menurut dia, perluasan akses pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan industri keuangan mikro.

Agus merupakan peraih gelar Ph.D. dari School of Economics and Finance, Curtin University, Australia.

Enzim lakase untuk pulihkan lingkungan

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Dede Heri Yuli Yanto, mengangkat potensi biodiversitas Indonesia dalam pengembangan teknologi bioremediasi.

Melalui orasi berjudul “Inovasi Enzim Lakase Berbasis Biodiversitas Indonesia sebagai Solusi Strategis untuk Bioremediasi”, Dede memaparkan pengembangan enzim lakase yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi pencemaran lingkungan.

Riset tersebut diarahkan untuk menangani limbah industri, khususnya dari sektor tekstil dan petrokimia.

Pengembangannya dilakukan melalui sistem lakase-mediator, teknik imobilisasi, serta kajian mekanisme degradasi dan detoksifikasi dengan pendekatan metabolomik dan molekuler.

Menurut Dede, teknologi tersebut juga berpeluang dikembangkan untuk berbagai sektor lain, seperti pangan, tekstil, pulp dan kertas, produk perawatan diri, biosensor hingga kesehatan.

“Pengembangan aplikasi bioremediasi diarahkan agar mampu menghasilkan solusi yang efektif, aman, adaptif dan berkelanjutan,” ujar Dede.

Ia menilai pemanfaatan enzim lakase secara lebih luas dapat menjadi salah satu upaya mendukung pengelolaan lingkungan sekaligus pencapaian target pembangunan berkelanjutan.

Dede merupakan peraih gelar Doktor bidang Applied Bioresource Sciences dari Ehime University, Jepang.*

Pos terkait