Anak Krakatau Kembali Tumbuh Setelah Runtuh pada 2018, Begini Perubahannya hingga 2026

Anak Krakatau kembali membangun tubuhnya setelah sebagian besar kerucut gunung api itu runtuh ke laut pada Desember 2018.(Dok.BRIN).**

SATUMEDIA.ID – Anak Krakatau kembali membangun tubuhnya setelah sebagian besar kerucut gunung api itu runtuh ke laut pada Desember 2018.

Penelitian yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), University of Birmingham, Institut Teknologi Bandung (ITB), Penn State University, British Geological Survey, University of Oxford, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan proses pertumbuhan tersebut masih berlangsung hingga 2026.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, mengatakan perubahan Anak Krakatau merupakan gambaran bahwa gunung api terus mengalami evolusi.

Menurut dia, sejak pertama kali muncul dari dasar laut pada akhir 1920-an, Anak Krakatau telah melalui sejumlah tahapan, mulai dari pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, hingga pembangunan kembali tubuh gunung.

“Perjalanan Anak Krakatau memperlihatkan adanya siklus pembentukan dan perubahan tubuh gunung yang berlangsung terus-menerus. Setelah keruntuhan 2018, bentuk gunung dan karakter erupsinya berubah signifikan sebelum kemudian memasuki fase pertumbuhan kembali,” kata Dini dalam keterangan tertulis BRIN, Rabu (23/9/2026).

Anak Krakatau mulai muncul pada 1927 sebagai bagian dari proses pembangunan kembali sistem gunung api setelah Krakatau mengalami kehancuran besar akibat erupsi 1883.

Pada tahap awal, pusat aktivitas erupsi berada di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut. Magma yang bertemu air laut memicu erupsi Surtseyan yang menghasilkan ledakan uap, abu, serta material vulkanik.

Material hasil erupsi tersebut kemudian terus menumpuk hingga membentuk daratan baru. Pada Agustus 1930, Anak Krakatau akhirnya muncul secara permanen di atas permukaan laut.

Pertumbuhan berlanjut selama beberapa dekade berikutnya. Pada periode 1930-1959, aktivitas Anak Krakatau banyak dipengaruhi interaksi antara magma dan air sehingga menghasilkan erupsi freatomagmatik.

Lontaran material vulkanik dan abu dari erupsi berulang secara perlahan memperbesar tubuh gunung.

Memasuki periode 1959-2018, ketika kawah semakin jauh dari pengaruh langsung air laut, karakter erupsi berubah. Aktivitas lebih banyak berupa erupsi Strombolian-Vulcanian dan efusif yang menghasilkan material pijar, bom vulkanik, abu, hingga aliran lava.

Akumulasi material selama puluhan tahun membuat kerucut Anak Krakatau terus meninggi hingga mencapai sekitar 330 meter.

Runtuh pada 2018

Pertumbuhan tersebut terhenti secara drastis pada 22 Desember 2018.

Sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik. Peristiwa itu menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut.

Ketinggian Anak Krakatau pun turun dari sekitar 330 meter menjadi hanya sekitar 120 meter.

Keruntuhan tersebut juga memicu tsunami di Selat Sunda.

Namun, dampak peristiwa 2018 tidak hanya mengubah bentuk fisik Anak Krakatau. Sistem erupsinya juga mengalami perubahan.

Setelah sebagian tubuh gunung hilang, tekanan pada saluran magma berkurang. Pada saat yang sama, air laut kembali masuk ke bagian kawah yang terbuka.

Kondisi tersebut membuat aktivitas erupsi berubah dari karakter Strombolian menjadi Surtseyan yang lebih eksplosif karena magma kembali berinteraksi langsung dengan air laut.

Perubahan itu kemudian membentuk morfologi kawah yang berbeda dibandingkan kondisi sebelum keruntuhan.

“Setelah keruntuhan, Anak Krakatau tidak lagi memiliki bentuk kerucut tinggi seperti sebelumnya. Tubuh gunung menjadi lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap kembali terbentuk melalui material yang dihasilkan erupsi,” ujar Dini.

Mulai Membangun Tubuh Baru

Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi.

Aktivitas yang semula masih banyak dipengaruhi keberadaan air kemudian berkembang menjadi erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.

Material hasil aktivitas tersebut perlahan mengisi dan membangun kerucut baru di bagian dalam kawah pascakeruntuhan.

Salah satu indikator pertumbuhan kembali terlihat dari pembentukan lava pada 2020 yang kemudian menumpuk di atas material hasil erupsi setelah keruntuhan.

Dini mengatakan proses tersebut menunjukkan bahwa runtuhnya tubuh gunung tidak serta-merta menghentikan pertumbuhan Anak Krakatau.

Sebaliknya, sistem vulkanik kembali membangun struktur baru melalui akumulasi material erupsi.

“Setelah kehilangan sebagian tubuhnya, Anak Krakatau kembali memasuki fase pembangunan. Lava dan material erupsi yang terus dikeluarkan secara bertahap membentuk kerucut baru di dalam kawah,” katanya.

Penelitian juga menemukan bahwa pertumbuhan Anak Krakatau tidak berlangsung secara merata di seluruh bagian gunung.

Anak Krakatau berada di tepi kaldera bawah laut yang memiliki tingkat kemiringan berbeda-beda.

Sektor barat daya tumbuh di atas lereng kaldera yang lebih curam. Sebaliknya, bagian timur laut berdiri di atas dasar laut yang relatif lebih dangkal.

Perbedaan kondisi tersebut memengaruhi tingkat kestabilan masing-masing sektor tubuh gunung.

Komposisi material penyusun Anak Krakatau juga mengalami perubahan sepanjang sejarah pertumbuhannya.

Pada tahap awal, interaksi antara magma dan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif ringan dan berpori.

Setelah sekitar 1960, aktivitas erupsi yang lebih dominan Strombolian-Vulcanian menghasilkan lava yang lebih padat. Material tersebut kemudian menumpuk di atas lapisan tuf yang terbentuk sebelumnya.

Kombinasi antara lava yang lebih berat, material tuf yang lebih ringan, serta posisi sektor barat daya di atas lereng kaldera yang curam berkontribusi terhadap perubahan kestabilan tubuh gunung.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam memahami mengapa morfologi Anak Krakatau terus berubah dari waktu ke waktu.

Dini menekankan, perkembangan Anak Krakatau tidak dapat dipahami hanya berdasarkan satu peristiwa erupsi.

Perubahan sistem magma, karakter material, bentuk tubuh gunung, tipe erupsi, dan kondisi lingkungan merupakan bagian yang saling berkaitan dalam proses evolusi gunung api.

“Perilaku gunung api dapat berubah seiring perubahan tubuh gunung, sistem magma, dan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, perkembangan Anak Krakatau perlu dipahami sebagai proses yang berlangsung dinamis,” kata Dini.

Rangkaian perjalanan Anak Krakatau sejak muncul dari dasar laut, tumbuh hingga ratusan meter, mengalami keruntuhan besar pada 2018, hingga kembali membangun kerucut baru merupakan bagian penting dari penelitian untuk memahami bagaimana gunung api berevolusi.*

Pos terkait