Tiga Sungai di Lembang Tercemar Limbah Kotoran Sapi

Tiga hulu sungai di Lembang yang mengalir ke Cikapundung sudah tercemar kotoran sapi, limbah rumah tangga, dan sampah.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Kotoran sapi atau kohe sudah lama menjadi persoalan lingkungan di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Bahkan mencemari hilir Sungai Cikapundung yang terbawa hingga ke Kota Bandung dan berujung di Sungai Citarum.

Persoalan kohe ini, sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Namun berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah belum mampu mengatasinya.

Hingga kini, sebagian besar peternak memanfaatkan aliran air untuk membuang kotoran sapi. Dianggap paling mudah, namun tidak memahami apabila sungai sudah tercemar bisa berdampak luas, tidak hanya pada lingkungan tapi juga kesehatan manusia.

Diketahui, Sungai Cikapundung dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk masyarakat Kota Bandung. Tentu saja, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan.

Beberapa hari lalu, untuk mengecek kondisi terkini Sungai Cikapundung, sejumlah instansi terkait menyusuri aliran sungai mulai dari hulu di kawasan Maribaya, Kecamatan Lembang hingga Kolam Tando Bengkok di Tahura, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung sejauh kurang lebih 6 kilometer.

Instansi yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat, Dinas Peternakan dan Perikanan KBB, koperasi peternak, dan PLN Indonesia Power.

Dari hasil pemantauan, tiga hulu sungai di Lembang yang mengalir ke Cikapundung sudah tercemar kotoran sapi, limbah rumah tangga, dan sampah.

Kepala Bidang Produksi Peternakan pada Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Siti
Rohani mengatakan, pencemaran sungai salah satunya berasal dari limbah kotoran hewan yang dibuang para peternak dari kawasan Lembang. Padahal selama ini sumber airnya dimanfaatkan untuk sumber kebutuhan masyarakat dan listrik itu

“Kami melakukan penelusuran mulai dari Maribaya. Hasilnya, kami mendapati ada tiga sungai yang tercemar yaitu, Sungai Cikawari, Cikapundung, dab Cigulung,” kata
Siti Rohani.

Menurutnya, untuk tindak lanjut dari hasil penelusuran itu, pihak akan berkolaborasi bersama pihak terkait untuk penanganan limbah di wilayah hulu. Beberapa solusi yang akan ditawarkan antara lain pembuatan kolam tando di sentra-sentra peternakan sapi, kompos, biogas, pupuk organik dan sebagainya.

“Kolam tando bisa dibangun di lahan Perhutani, dekat dengan lokasi peternakan sapi di Suntenjaya. Bagaimanapun juga, penanganan limbah kotoran hewan ini perlu kolaborasi dengan melibatkan instansi lain,” ucapnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bandung Barat, Wiwin Aprianti mengakui, ada ratusan ton perhari kotoran sapi yang dibuang. Jika masalah ini tidak segara teratasi maka dampaknya akan lebih terasa seperti sulitnya masyarakat mendapatkan air bersih.

“Pencemaran limbah kotoran sapi merupakan persoalan yang telah berlangsung lama. Sekarang menjadi persoalannya bertambah besar seiring dengan bertambahnya populasi penduduk,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, jika rata-rata kotoran sapi 12 kilo tiap ekor sapi per hari dikalikan populasi 25.600 ekor, maka ada ratusan ton perhari kotoran sapi yang dibuang dan masuk ke aliran sungai.

Ia menyebut, ada sekitar 6.000 peternak sapi perah di Lembang, Cisarua, dan Parongpong. Namun baru sekitar 30 persennya sudah mengolah kotoran sapi.

“Kamu tidak akan mematikan mata pencaharian peternak sapi dari menjual susu, namun mencari solusi agar keberadaan mereka tidak sampai mencemari lingkungan. Kita rekomendasi kepada pimpinan bahwa diperlukan tandon di hulu agar air yang turun ke bawah tidak terlalu keruh minimal sudah ada saringan,” tuturnya.*

Pos terkait