SATUMEDIA.ID – Kemarau yang berlangsung sejak pertengahan 2026 mulai berdampak terhadap ketersediaan hijauan pakan ternak di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.
Kondisi tersebut paling dirasakan peternak ruminansia yang masih mengandalkan rumput segar sebagai pakan utama. Memasuki periode kemarau yang lebih panjang pada Agustus hingga September, produksi rumput di sejumlah sentra peternakan dilaporkan menurun cukup tajam.
Akibatnya, sebagian peternak terpaksa mencari sumber pakan hingga ke luar wilayah KBB untuk memenuhi kebutuhan ternaknya.
Kondisi tersebut salah satunya dialami Kelompok Tani Jaya Siliwangi di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua. Kelompok tersebut mengelola sekitar 70 ekor sapi perah.
Peternak mengaku produksi kebun rumput mengalami penurunan drastis selama musim kering. Dalam kondisi tersebut, produksi hijauan diperkirakan hanya sekitar 30 persen dibandingkan saat musim hujan.
Untuk menyiasati keterbatasan rumput, peternak mulai mencari hijauan ke daerah lain. Mereka juga memanfaatkan jerami padi kering, ampas tahu, serta konsentrat sapi perah untuk memenuhi kebutuhan pakan dan nutrisi ternak.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, drh. Wiwin Aprianti, mengatakan penurunan ketersediaan hijauan perlu diantisipasi karena tidak hanya menyangkut jumlah, tetapi juga kualitas pakan.
“Musim kering membuat ketersediaan hijauan berkurang. Kondisi ini harus diantisipasi karena kualitas hijauan yang mengalami kekeringan atau terlalu tua juga dapat mengalami perubahan nilai nutrisi,” ujar Wiwin dalam keterangan resmi, Kamis (24/9/2026).
Menurut dia, peternak sebaiknya tidak menunggu hingga persediaan rumput habis untuk mencari alternatif pakan.
“Cadangan pakan seharusnya mulai disiapkan sebelum memasuki puncak kemarau. Bahan yang tersedia di sekitar peternakan bisa diolah dan diawetkan, misalnya dalam bentuk silase maupun hay,” katanya.
Wiwin mengatakan KBB memiliki sejumlah sumber bahan pakan yang dapat dimanfaatkan dari sektor pertanian maupun limbah agroindustri.
Beberapa bahan yang dapat digunakan sebagai pakan alternatif antara lain jerami padi, tebon jagung, limbah agroindustri, ampas tahu, dan konsentrat.
Dispernakan KBB juga akan meningkatkan pemantauan terhadap kondisi pakan dan air di sejumlah sentra peternakan.
Pemantauan dilakukan melalui unit pelaksana teknis daerah (UPTD), balai penyuluhan pertanian (BPP), serta tenaga penyuluh peternakan.
“Melalui pemantauan di lapangan, kami berharap persoalan kekurangan pakan bisa diketahui lebih awal sehingga penanganannya tidak dilakukan ketika kondisi sudah kritis,” ujar Wiwin.
Harga pakan ikut naik
Tekanan terhadap ketersediaan hijauan juga mulai berpengaruh terhadap harga sejumlah komoditas pakan.
Harga tebon jagung yang sebelumnya berada di kisaran Rp 800 per kilogram meningkat menjadi sekitar Rp 900 per kilogram. Sementara harga rumput odot naik dari sekitar Rp 750 menjadi Rp 900 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya menjamin ketersediaan pakan. Sebab, produsen hijauan juga menghadapi keterbatasan stok akibat kondisi cuaca.
Pada kemarau berkepanjangan, sebagian peternak bahkan harus mencari pakan hingga Kabupaten Subang, Purwakarta, dan Sumedang.
Berdasarkan pemantauan Dinas Perikanan dan Peternakan KBB, kondisi sumber air untuk ternak masih relatif aman. Namun, ketersediaan hijauan menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.
Hasil pemantauan dan wawancara dengan peternak menunjukkan, pemberian hijauan kepada sebagian ternak dapat berkurang hingga sekitar 50 persen ketika kemarau berlangsung panjang.
Sebagian peternak kemudian mengganti rumput hijau dengan jerami padi kering. Namun, kualitas nutrisi jerami tersebut lebih rendah dibandingkan hijauan segar sehingga penggunaannya perlu diimbangi dengan sumber nutrisi lainnya.
Keterbatasan hijauan juga dipengaruhi belum optimalnya pengelolaan sejumlah kebun rumput serta masih terbatasnya peternak yang secara khusus membudidayakan hijauan unggul.
Tekanan ketersediaan pakan berpotensi memengaruhi populasi ternak ruminansia di KBB yang jumlahnya mencapai ratusan ribu ekor.
Berdasarkan data sementara 2026, populasi sapi potong di KBB tercatat 5.960 ekor, sapi perah 26.717 ekor, kambing 14.744 ekor, dan domba 184.123 ekor.
Sapi potong tersebar di 16 kecamatan. Populasi terbesar berada di Kecamatan Cisarua sebanyak 2.046 ekor dan Lembang 1.464 ekor.
Sementara sapi perah terkonsentrasi di empat kecamatan, yakni Lembang, Parongpong, Cisarua, dan Ngamprah.
Lembang menjadi wilayah dengan populasi sapi perah terbesar, yakni mencapai 15.714 ekor.
Meski ketersediaan hijauan mengalami tekanan, produksi ternak secara umum masih relatif stabil. Peternak melakukan berbagai penyesuaian dengan memanfaatkan pakan alternatif dan meningkatkan penggunaan konsentrat sebagai pelengkap sebagian kebutuhan hijauan.
Namun, penggunaan pakan alternatif dan konsentrat harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ternak agar tidak berdampak terhadap kondisi tubuh maupun produktivitas.
Dinas Perikanan dan Peternakan KBB pun meminta peternak mulai membangun pola penyediaan pakan yang lebih terencana.
“Ketahanan pakan perlu dibangun sejak sebelum kemarau. Jadi, ketika memasuki musim kering, peternak sudah memiliki cadangan yang cukup, termasuk memastikan kebutuhan air minum ternak tetap terpenuhi,” kata Wiwin.
Peternak juga diminta memantau kondisi fisik dan produktivitas ternak. Jika mulai terjadi penurunan kondisi ternak atau kesulitan mendapatkan pakan, peternak diminta segera berkoordinasi dengan penyuluh maupun petugas peternakan di wilayah masing-masing.*





