SATUMEDIA.ID – Grand Hotel Lembang yang berada di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sejak beberapa tahun lalu berhenti beroperasi. Kondisi keuangan diperburuk dengan pandemi Covid-19 menjadi penyebabnya.
Lama tak terdengar, kini muncul kabar bahwa Grand Hotel Lembang bakal dialihfungsikan menjadi museum. Hotel legendaris yang namanya diabadikan menjadi nama jalan, yaitu Jalan Grand Hotel dari Pasar Panorama berujung di Jalan Raya Lembang.
“Memang benar informasinya bekas Grand Hotel Lembang oleh pemiliknya tidak akan dibangun hotel lagi melainkan museum transportasi” kata Camat Lembang, Bambang Eko Setyo Wahjudi saat dihubungi, Selasa (7/5/2024).
Bambang mengaku dalam kapasitasnya sebagai camat baru sekali menghadiri rapat rencana pembangunan museum transportasi atas undangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB.
“Tapi kelanjutannya saya belum tahu, progresnya sampai sejauh mana. Setahu saya hanya sebatas bakal dibangun museum transportasi,” ucapnya.
Menurut bayangannya, di museum transportasi bakal dipamerkan berbagai alat transportasi baik darat, laut, maupun udara.
Ia menambahkan, museum transportasi bakal lebih luas dari lahan eks Grand Hotel Lembang. Beberapa lahan dan bangunan milik warga sekitar masuk dalam rencana pembangunan museum.
“Museum transportasi lebih luas dibandingkan Grand Hotel Lembang sekarang, makanya bakal dilakukan pembebasan lahan. Setahu saya, pembebasan masih menghadapi sejumlah kendala,” ujarnya seraya menambahkan selain tanah milik warga, terdapat lahan hak guna usaha (HGU) Baru Adjak.
Diketahui, bangunan Grand Hotel Lembang masuk cagar budaya. Dimana bangunan depan dan sebelah kanan merupakan bangunan tua peninggalan Pemerintahan Kolonial Belanda.
Berdasarkan dokumen sejarah, hotel ini dibangun pada tahun 1916. Pernah dikelola oleh Bruno Treipl pada 1934. Brono Treipl adalah seorang Jerman yang pernah jadi tahanan Hindia Belanda. Dia dikirim ke kamp tahanan di Dehra Dun, Mussori, India.
Bruno Treipl termasuk tujuh orang kelompok tahanan Jerman yang sukses melarikan diri ke Tibet.
Kisahnya ditulis dalam “Turned Back from Tibet – Bruno Treipl’s Wartime Adventures in Asia”, yang dipublikasikan pada 2004.*


