SATUMEDIA.ID – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat selama tiga hari terakhir terjadi peningkatan kegempaan dan deformasi Gunung Tangkubanparahu.
Tercatat pada tanggal 1 Juni 2025 terjadi gempa low frekuensi dengan
100 kejadian, 2 Juni sekitar 134 kejadian, dan 3 Juni meningkat lagi jadi 270 kejadian.
Penyelidik Bumi Ahli Utama pada Badan Geologi, Kristiyanto membenarkan dalam tiga hari terakhir terjadi peningkatan kegempaan low frekuensi Gunung Tangkubanparahu dibandingkan dengan jumlah kejadian normal.
“Peningkatan bisa terlihat dari jumlah kejadian gempa low frekuensi, kemudian berdasarkan data deformasi atau penggembungan dari tubuh Gunung Tangkubanparahu itu sendiri. Ini kita pantau dari data Electronic Distance Measurement (EDM) atau GPS. Tentunya, pengamatan itu harus sinkron dengan data visual. Kemudian hasil pengamatan itu kita koordinasikan termasuk dengan pengelola wisata,” tuturnya.
Menurutnya, Tangkubanparahu ini termasuk gunung yang sering terjadi erupsi freatik, yakni erupsi yang tidak didahului dengan peningkatan aktivitas secara signifikan.
Ia mengatakan, pihaknya juga membandingkan data dan pola peningkatan aktivitas Gunung Tangkubanparahu kali ini dengan erupsi freatik yang terjadi pada tahun 2019 lalu
“Pembandingan inj perlu dilakukan apakah
apakah ada faktor lain yang mengiringi erupsi freatik 2013 dan 2019 lalu. Kita kaji dan bandingnya polanya,” tandas Kristiyanto.
Ia menyebut, peningkatan kegempaan diduga karena banyak faktor. Bisa akibat magma naik ke permukaan atau sistem peningkatan tekanan di dekat permukaan.
“Tangkubanparahu ini termasuk gunung hidrothermal. Cuma sejauh ini belum ada erupsi freatik,” sebutnya*




